Empat Lima: Dari Australia Untuk Dara Puspita

0
884

Sebagai band yang memainkan musik dan suara-suara khas Asia era 60an seperti pop Thailand yang psikedelik, musik tradisional Jepang, hingga garage pop Kamboja dan Indonesia, tentu mustahil bagi Empat Lima untuk melewatkan nama Dara Puspita dari daftar idola dan acuan dalam bermusik. Sejak akhirnya memutuskan untuk bermain bersama dalam band yang memainkan musik-musik seperti itu, trio wanita Australia ini, Steph Brett (Vokal/Gitar), Sooji Kim (Bass/Vokal), dan Carla Ori (Drum/Vokal) sangat menaruh hati pada Dara Puspita dan menantikan datangnya waktu bagi mereka untuk bisa bermain di tanah kelahiran idolanya tersebut, Indonesia.

Setelah merilis debut EP Satu BOOM! April lalu, Empat Lima melanjutkan usahanya dengan menggelar sebuah konser penggalangan dana untuk bisa memberangkatkan mereka melalukakn tur Indonesia. Dengan dukungan penuh akhirnya Empat Lima pun berhasil memulai turnya yang dimulai pada 8 Juni di Jakarta untuk kemudian berkeliling ke lima kota lain; Jatiwangi, Bandung, Jogja, Malang dan berakhir di Bali pada 20 Juni.

Dengan latar belakang juga sebagai seniman, lewat tur ini Empat Lima juga membawa misi untuk membangun suatu jaringan kerjasama bagi seniman wanita di Indonesia dan Australia yang dinamakan WANITA.

Pada aksi pertamanya di Jakarta 8 Juni lalu, Empat Lima hadir sebagai bintang tamu dalam gelaran Superbad! yang rutin diadakan di Jaya Pub. Kami berkesempatan untuk duduk bersama Empat Lima dan mengobrol singkat sebelum dimulainya penampilan mereka yang membuat Jaya Pub begitu penuh sesak malam itu.

Bagaimana awalnya ide memainkan musik-musik lama Asia ini datang?
Sooji: Karena saat pertama mendengarkannya, kami menyukainya. Musik-musik seperti ini sangatlah unik dan menginspirasi. Lalu juga biasanya lebih banyak ditulis dan dimainkan oleh para wanita. Jadi seperti ada inspirasi ganda dari situ.
Steph: Ya, musiknya itu seperti seolah-seolah kita sedang berada dalam sebuah pesta musim panas dan udaranya yang memang benar-benar sedang panas. Saya pikir, juga, kami memang sangat tertarik pada lagu-lagu pop sederhana yang menyenangkan. Kami ingin memberikan energi baik, memainkan musik yang positif.

Ada banyak bahasa dalam band ini. Kenapa ‘Empat Lima’, bukan ‘Shijugo’, misalnya?
Carla: Karena kami…..paling cinta dengan Indonesia. [tertawa] Saya dan Sooji pernah sama-sama tinggal di Jogja pada waktu yang berbeda. Sebenarnya saya tidak mengenal Sooji sebelumnya.

Jadi bagaimana awalnya kalian saling bertemu?
Carla: Kira-kira begini… [menunjuk ke Sooji dan Steph], [menunjuk ia sendiri dan Steph] Jadi Sooji lebih dulu bertemu Steph dan mereka ingin membentuk band. Steph dan saya pernah saling mengenal sebelumnya dan akhirnya tahun lalu dia mengajak saya bergabung untuk bermain drum.

Apa musik Indonesia pertama yang kalian dengarkan?
Carla: Mungkin sebuah gig di Jogja, semacam gig punk.
Sooji: Sebenarnya musik dari Indonesia yang pertama kali saya dengar adalah Senyawa, karena mereka pernah bermain di Australia.

Bagaimana biasanya kalian mendapat akses kepada musik-musik acuan Empat Lima? Apa kalian mengoleksi piringan hitam?
Sooji: Ya, sedikit. Tadi kami baru dari Jl. Surabaya. [tertawa] Sublime Frequencies cukup banyak membantu, mereka yang merilis Dara Puspita. Mereka merilis musik-musik Asia.
Steph: Biasanya dari internet, banyak juga dari playlist DJ-DJ, dan radio komunitas.

Ceritakan sedikit tentang EP baru kalian.
Sooji: Ada enam lagu di situ dan kami mengemasnya dalam kover 7inci yang berisi CD dan poster. Karena kami ingin membuat sesuatu yang berbeda dari CD pada umumnya. Saya pikir, pada dasarnya saat kami melakukan sesuatu, kami ingin membuat hal itu sedikit lebih spesial. Seperti saat pesta pengumpulan dana untuk tur ini—kami menampilkan berbagai jenis pertunjukan seni. Semata-mata untuk memberikan lebih banyak ide dan inspirasi dari apa yang kami lakukan.

Kalian membuat posternya sendiri ya?
Carla: Ya, kami semua mendesain sendiri berbagai kebutuhan visual band ini.

Apa gaya dan tampilan busana penting bagi kalian sebagai bagian dari konsep Empat Lima secara menyeluruh?
Sooji: Tidak juga. Ini lebih tentang bagaimana dan siapa ‘kita’ sebagai diri kita, yang secara alami pasti terekspresikan lewat penampilan. Sedangkan gaya itu lebih seperti sebuah proses kreatif yang organik.
Steph: Tapi kita pernah menggelar gig dan bermain dengan menyewa kostum baju parasut a la Evel Knievel.
Carla: Saya pikir mungkin lebih tentang bagaimana membawa suatu karakter ke atas panggung dan memberikan usaha lebih di situ dalam membuatnya menjadi sesuatu yang istimewa. Ya seperti dengan tidak sekedar pakaian yang sehari-hari.

Tapi kalian melihat Empat Lima sebagai performers atau musisi?
Sooji: Musisi.

Apa yang menjadikan Dara Puspita sebuah band yang hebat untuk kalian?
Sooji: Bagi saya adalah keliaran dan kegilaan mereka. Keliaran yang terasa berapi-api dan energi kuat yang bisa terdengar dalam lagu-lagu mereka.
Carla: Lagu-lagu mereka begitu mudah menarik perhatian. Mereka memiliki semacam energi yang kami tidak dengar dan temukan dari segala apapun yang kami pernah dengarkan sebelumnya. Saat kami mencari-cari musik dan band-band lain dari era tersebut, ternyata pada akhirnya kami selalu kembali pada Dara Puspita, dengan segala kharismanya.

Kalian pasti memiliki banyak teman Indonesia di Australia sana, apakah mereka familiar dengan Dara Puspita?
Sooji: Iya kadang-kadang. Karena sering kali kami temui bahwa ternyata sebenarnya mereka tidak familiar dengan Dara Puspita, atau mungkin hanya sepertinya tahu tapi samar-samar. Tapi kebanyakan dari mereka sepertinya tidak mengetahui.

Ada musisi Indonesia lainnya yang kalian kagumi?
Sooji: Nova Ruth, Senyawa.
Steph: Rhoma Irama!
Sooji: Iya! Dia penggemar Rhoma, tuh! Oh, dan juga Lilis Suryani.
Steph: White Shoes & the Couples Company! Mereka band keren!
Carla: Ooh, Boys are Toys!

Tentang lagu Dara Puspita “A Go Go” yang kalian tulis dengan “Au Go Go”, apa itu untuk “Australian A Go Go”?
Sooji: [tertawa] Au Go Go itu nama sebuah toko musik di tahun 80an. Karena saya cukup punya memori yang kuat dengan toko tersebut, tiba-tiba secara tidak disadari saya jadi menulisnya “Au Go Go”. Jadi sebenarnya tidak sengaja.

Apa yang menjadi fokus terbesar kalian dalam tur Indonesia kali ini?
Sooji: Fokus terbesar kami adalah program WANITA, yaitu sebuah jaringan Indonesia dan Austaralia yang memfasilitasi para seniman wanita di kedua negara untuk dapat menjalin kerjasama di bidang kesenian. Sejalan dengan itu dalam tur ini juga kami mencoba mencari dan mengajak band-band wanita lain di setiap kota untuk bermain bersama kami.

Banyak band wanita yang selalu diasosiasikan dengan sikap atau ideologi-ideologi tertentu seperti feminisme, pro-LGBT dan sebagainya. Apakah kalian salah satunya?
Sooji: Kami sangat mendukung semangat persamaan hak dan kesempatan bagi wanita untuk melakukan berbagai hal.
Carla: Ya, tapi kami merasa tidak menjadi bagian dari label-label tersebut dan pada dasarnya juga saya kurang menyukai pelabelan tertentu untuk apapun. Saya tidak menganggap diri saya vegetarian, tapi terkadang saya tidak memakan daging. Kira-kira seperti itu lah.

Akankah ada project mendatang yang sepertinya akan berbeda dari apa yang tengah kalian lakukan saat ini?
Steph: Ya, sejauh ini semuanya terjadi dengan cukup cepat—mulai merilis lagu Januari kemarin, lalu sekarang kami sudah datang ke sini, sudah hampir enam bulan berlalu. Di antara waktu tersebut kami juga berhasil membuat tiga lagu baru. Ya kami berharap kami akan punya cukup waktu untuk bisa tetap membuat beberapa musik lagi selama kami di Indonesia.

Termasuk musik-musik lain dari luar Asia?
Steph: Sebenarnya memang kami bertiga juga bermain dalam band-band yang berbeda. Saya bermain dengan musik-musik disko, Carla meramu beat-beat untuk sebuah project hiphop, dan Sooji adalah seorang pemain biola. Jadi sangat mungkin.
Sooji: Saya rasa ini adalah sebuah proses yang organik. Kami sangat membuka diri pada kemungkinan apapun yang bisa terjadi sebagai proses, dan selama proses itu sendiri. Saya mengatakan ini dengan sungguh-sungguh.
Carla: Betul, saya pikir juga ini memang akan sepenuhnya berubah karena kami selalu berkeinginan untuk terus membuat hal-hal baru. Kami tidak mau terus menerus memainkan musik yang sama, kami ingin selalu menambah sesuatu yang baru ke dalam apa yang saat ini kami mainkan. Harus selalu ada kemajuan dan perubahan untuk menjaga musik kami tetap menarik.

Oleh Daffa Andika dan Katyusha Methanisa
Foto oleh Theresa Harrison (diambil dari Fanpage Resmi Empat Lima)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here