New Tracks
“Pir” Tunjukkan Wajah Dinamis Jelaga Menuju EP Terbaru
Jelaga kembali menegaskan eksistensinya di skena musik independen dengan melepas single terbaru berjudul “Pir”. Band indie pop dengan sentuhan alternatif asal Jakarta ini membawa kisah yang lahir dari pergulatan personal, namun dirangkai dengan musik yang hangat dan berani. Di balik kesederhanaannya, “Pir” menyimpan kedalaman makna yang relevan bagi siapa pun yang pernah berjalan di antara rintangan hidup.
Lagu ini ditulis oleh Reyhan dan Nadief, berangkat dari pengalaman sehari-hari yang kemudian menjelma jadi refleksi lebih luas. “Pir” tidak berbicara tentang hasil akhir, melainkan tentang setiap langkah kecil menuju tujuan. Tentang jatuh bangun, tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri, dan tentang bagaimana makna sejati sering kali hadir dalam proses perjalanan itu sendiri.
Pesan tersebut terasa nyata, terlebih lewat penggalan lirik yang menggugah seperti “Disambutnya di beranda perlahan luluh lantak, dedaunan dinding putih tergugur saling memaafkan” yang menampilkan kerentanan dan harapan dalam satu tarikan napas.
Secara musikal, Jelaga menghadirkan atmosfer yang seolah menembus cahaya setelah melewati kabut dan badai. Gitar dengan nuansa jangly berpadu dengan drive yang kuat, sementara lapisan synth menambah kesan mewah pada aransemen. Harmoni vokal memberi sentuhan emosional yang memperkuat lirik. Semua elemen itu menciptakan lanskap suara yang luas, megah, namun tetap hangat.
Ada kesan nostalgia yang menyertai lagu ini, seakan Jelaga sengaja mengajak pendengarnya menyusuri lorong waktu. Percikan romansa lawas berkelindan di antara instrumen modern, menghasilkan nuansa khas yang menjadi ciri band ini.
Sebagai single kedua menuju perilisan EP terbaru mereka, “Pir” memperlihatkan sisi berbeda dibandingkan rilisan sebelumnya, “Kisah Sehari”. Jika “Kisah Sehari” lebih intim dan sederhana, maka “Pir” bergerak lebih dinamis tanpa meninggalkan identitas musik Jelaga yang jujur dan penuh perasaan. Lagu ini bisa dibaca sebagai pernyataan musikal bahwa band ini tengah berada dalam fase eksplorasi, berusaha memperluas ruang ekspresi tanpa kehilangan kedekatan dengan pendengarnya.
Jelaga terdiri dari Nadief (vokal), Reyhan (gitar), Dinan (bass), Aldi (gitar dan synth), serta Zikry (drum). Sejak awal, mereka dikenal dengan musik yang sarat tema melankolis dan reflektif. Terinspirasi dari era musik pop Barok, psikedelik, hingga soft rock, mereka berhasil mengolah referensi itu menjadi suara khas yang membawa hangatnya nostalgia, namun tetap terasa segar dan relevan di telinga hari ini.
Dengan “Pir”, Jelaga semakin mengukuhkan diri sebagai band yang tidak hanya menulis lagu, tetapi juga merangkai pengalaman hidup menjadi musik yang bisa dirasakan bersama.

