Flash News
Soy Kongo Rilis Video Musik “Jelaga”, Merekam Jejak Lanskap Yang Terus Berubah
Soy Kongo melalui lagu “Jelaga”, trek kelima dari album ‘Sekap‘, menghadirkan sebuah refleksi tentang kehidupan dan lingkungan setelah mengalami perubahan yang tak bisa ditarik kembali.
“Jelaga” diposisikan bukan sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai kondisi yang menetap. Ia hadir dalam bentuk yang diam dan nyaris tak terlihat, tapi menyimpan banyak kenangan. Seperti jelaga yang menempel dan mengendap, lagu ini menggambarkan jejak dari proses panjang yang telah terjadi sebelumnya.
Dalam kerangka album ‘Sekap’, “Jelaga” berfungsi sebagai residu dari bentang yang telah diubah. Ia menjadi saksi yang pasif dan menyeluruh atas perubahan tersebut. Tanpa suara dan tanpa upaya untuk menonjol, jelaga justru merekam segalanya secara konsisten.

Melalui pendekatan ini, Soy Kongo menyoroti bagaimana perubahan pada kehidupan dan lingkungan tidak pernah benar-benar hilang. Jejaknya tersimpan dalam lapisan-lapisan halus yang kerap luput dari perhatian, tetapi terus ada dan membentuk kondisi baru.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam format visual lewat video musik “Jelaga” yang telah dirilis pada 1 Februari 2026. Video ini disajikan dalam format gambar berwarna dengan rasio 16:9 untuk YouTube, berdurasi 2 menit 35 detik dalam format stereo. Alih-alih menampilkan lanskap sebagai latar belakang yang statis, video ini menggambarkan ruang sebagai entitas yang terus bergerak dan berubah.
Visual dalam video musik “Jelaga” menampilkan ruang yang seolah tidak pernah benar-benar stabil. Lanskap ditampilkan sebagai medan yang mengalami pergeseran berkelanjutan, menolak gagasan keheningan atau ketetapan.
Pendekatan visual yang digunakan memanfaatkan lapisan-lapisan gambar yang saling bertabrakan, merepresentasikan bagaimana perubahan lanskap sering kali terjadi secara bertumpuk dan tidak linier. Lapisan baru menutup yang lama, menciptakan kesan bahwa jejak sebelumnya perlahan tertimbun, namun tidak pernah sepenuhnya lenyap.
Pergerakan ruang yang terekam di dalam video membangun suasana sesak dan terkurung. Kesan ini sejalan dengan konsep ‘Sekap’ yang memandang bentang bukan lagi sebagai ruang bebas dan utuh, melainkan sebagai wilayah yang terus dibentuk oleh intervensi berulang.
Dalam konteks tersebut, “Jelaga” tidak dihadirkan sebagai objek visual yang dominan, melainkan sebagai posisi konseptual. Seperti jelaga itu sendiri, ia bekerja secara diam-diam sebagai perekam.
Video musik ini pada akhirnya berfungsi sebagai arsip perubahan. Ia mencatat tabrakan antara ruang, waktu, dan ingatan, sekaligus menempatkan lanskap pada kondisi pasca diubah yang terus bergerak, menyimpan jejak, dan bertahan dalam keadaan yang tersekap serta terfragmentasi.

