New Tracks
Dika Bagja Rilis Maxi Single “Beruang Madu”, Proyek Solo Dengan Eksplorasi Musik Lebih Personal

- Share
- Tweet /srv/users/gigsplayv2/apps/gigsplayv2/public/wp-content/plugins/mvp-social-buttons/mvp-social-buttons.php on line 66
https://gigsplay.com/wp-content/uploads/2025/04/Dika-Bagja.jpg&description=Dika Bagja Rilis Maxi Single “Beruang Madu”, Proyek Solo Dengan Eksplorasi Musik Lebih Personal', 'pinterestShare', 'width=750,height=350'); return false;" title="Pin This Post">
Tak sedikit musisi dari band alternatif yang memilih nama sendiri sebagai identitas proyek solo, melepas label kelompok untuk kebebasan bereksperimen. Contohnya J Mascis (Dinosaur Jr.), Stephen Malkmus (Pavement), atau Bob Mould (Hüsker Dü) — meski aroma musik band asal mereka masih tercium, proyek solo justru menjadi ruang mengukir identitas baru.
Di Indonesia, langkah serupa diambil Dika Bagja, gitaris dan vokalis dua band alternative underrated di Bandung: S0RRA dan Somnyfera. Melalui proyek solo bernama Dika Bagja, ia menantang diri untuk menciptakan karya yang lebih intim, jauh dari dinamika kolaborasi dalam band.
“Rencana ini sebenarnya mengendap sejak tahun lalu, tapi baru terealisasi awal 2024. Alasannya klasik: penasaran,” ujar Dika sambil tertawa. “Saya ingin tahu bagaimana reaksi pendengar jika musik saya tidak dibungkus nama band, tapi langsung dengan nama sendiri.”
Hasil eksperimen itu adalah maxi single “Beruang Madu”, dirilis Anoa Records pada 1 April 2024. Dua lagu di dalamnya, “Beruang Madu” dan “Molekul Ingatan”, menawarkan warna indie rock yang lebih minimalistis dibandingkan S0RRA yang gelap atau Somnyfera yang eksperimental. Namun, ciri khas permainan gitar Dika tetap menjadi benang merah yang menyambungkan ketiga proyek ini.
Proses rekaman yang hanya memakan waktu seminggu itu melibatkan dua rekan Dika di Somnyfera: Rendy Pandita (drum) dan Aldy Valchon (bass). Rendy juga merangkap sebagai sound engineer yang mengerjakan mixing dan mastering di Tower of Anarchy Studio, ruang produksinya di Bandung.
“Mereka sudah paham karakter musik saya. Saat saya kasih demo kasar hasil rekaman HP, Rendy langsung bisa menangkap groove drum yang cocok,” tutur Dika. Kolaborasi ini menggambarkan chemistry yang terbangun dari jam terbang bermusik bersama, memungkinkan proses kreatif yang cepat tanpa mengorbankan kualitas.
Lagu utama “Beruang Madu” menjadi jantung dari proyek ini. Jika lirik S0RRA dan Somnyfera cenderung absurd dan penuh metafora surreal, kali ini Dika justru mengalirkan kisah personal tentang kepergian sang ayah, Wahyu Gumelar Soeriawinata, yang tutup usia pada 2022 akibat sakit berkepanjangan.
“Saya membayangkan ayah sebagai ‘beruang madu’ — sosok besar berbulu lebat tapi lembut, persis seperti imajinasi saya waktu kecil. Lagu ini adalah cara saya menghiburnya, meski ia sudah tiada,” jelas Dika. Melodi yang melankolis dipadu distorsi gitar yang hangat menciptakan atmosfer yang kontemplatif, namun tetap mudah dicerna.
Meski baru merilis dua lagu, Dika sudah menyiapkan peta jalan untuk proyek solonya. “Targetnya sih lanjut ke EP atau album, tapi saya tak ingin buru-buru. Sekarang, fokus mencari personel yang cocok untuk membawakan lagu ini di panggung,” katanya. Ia mengaku terinspirasi oleh legenda indie rock seperti Pixies, Sonic Youth, dan The Breeders — band-band yang menurutnya berhasil menyeimbangkan energi raw dengan kedalaman lirik.
Anoa Records, label yang menaungi proyek ini, melihat potensi Dika Bagja sebagai wajah baru yang mampu memperkaya kancah indie Indonesia. “Dia membawa sesuatu yang baru, tapi tetap punya akar kuat di scene lokal,” ungkap perwakilan label.
Bagi penikmat musik, maxi single “Beruang Madu” adalah jendela untuk memahami sisi lain Dika Bagja: seorang musisi yang tak takut mengekspos vulnerabilitas, sambil tetap setia pada DNA musik alternatif yang ia usung selama ini.