Interview: Baragula dan Kebangkitan Darkwave Lokal

0
4964

Ketika post punk bergerumul dengan new wave dan menciptakan sebuah hawa yang sendu, maka sebutlah perpaduan tersebut dengan darkwave. Kemunculan musik darkwave berawal pada medio 70an di belantara Eropa seperti Inggris, Jerman hingga ke semenanjung Italia. Nada-nada tipikal sorrow mendominasi musik darkwave.

Clan of Xymox, Diary of Dreams, Dead Can Dance adalah tiga dari ribuan pemain darkwave di dunia. Hingga belakangan ini muncul grup wanita bernama Savages yang banyak disebut-sebut bahwa mereka adalah reinkarnasi sempurna dari perselingkuhan Ian Curtis dan Siouxsie Sioux.

Ternyata nama-nama beken diatas mampu memecut musik dalam negeri. Cult dan depresif, dua kata yang cukup merepresentasikan gelombang darkwave tanah air. Mulai dari Barbars hingga Papa Onta Cult hadir meramaikan. Tapi belakangan muncul satu nama dari tanah arek-arek, mereka adalah Baragula.

Fery (bas), Gayuh (gitar), Ingga (vokal) dan Toni (drum) adalah empat nyawa di dalam Baragula. Mereka hadir mencuat memberikan suntikan baru untuk kebangkitan gelombang darkwave lokal. Terlebih ketika mereka menjajal ibukota di Thursday Noise ‘Femme Fatale’ beberapa waktu, tepuk tangan kagum bergemuruh didalam 365 Ecobar seketika mereka menyudahi set mereka di Jakarta.

– Jadi, bagaimana cerita awal terbentuknya Baragula ?

Fery: Sebelumnya, aku dan Gayuh itu sempat bikin band. Tapi enggak lama bubar. Tidak seberapa lama, ada Ingga yang memang sahabat kita ingin membentuk band baru. Singkat kata, maka kita bikin Baragula.

– Sebelum Baragula dibentuk itu kalian memainkan musik yang tidak jauh dengan yang sekarang ada di Baragula kah ?

Fery: Enggak. Band kita dulu namanya Elektromantra, musiknya a la The Kills gitu. Tanpa drummer.

– Mbak Ingga khas sekali ya diatas pentas. Karen-O versi lebih muram.

Fery: [tertawa] Nanti aku sampaikan ke orangnya ya mas.

– Saya penasaran, siapa saya yang mempengaruhi musik Baragula sampai seperti ini ? Tentu sebelum menulis musik untuk Baragula, kalian pasti membawakan cover version dari beberapa band saat latihan.

Fery: Betul sekali. Awal-awal latihan kita sempat membawakan ulang lagu-lagu dari Velvet Underground, Blondie sampai Iggy Pop, tentu dalam nuansa yang kami inginkan.

– Dari sana akhirnya mengkerucut dan membentuk musik Baragula yang sekarang ?

Fery: [tertawa] Mungkin saja sih. Yang jelas dulu kita memang masih macam-macam, banyak mau, coba ini coba itu.

– Oh ya, untuk rilisan kalian, tolong koreksi kalau saya salah. Kalian baru memiliki 1 album kompilasi Bius rilisan Houten Hand Malang dan sebuah audio demo ?

Fery: Betul sekali.

– Kenapa memilih nama Baragula ? Saya sudah coba cari, tidak ada arti khusus dari kata tersebut.

Fery: Baragula itu gabungan kata Bara dan Gula. Kami jadikan Bara sebagai simbolisasi hal-hal yang kami cintai, seperti passion dalam bermain musik. Harapan kami sih band ini bisa menjadi band yang manis seperti gula [tertawa].

– Kalau untuk kedepannya, ingin merilis EP atau langsung full album.

Fery: EP dulu kok.

– Kira-kira lagu “Obscure”, “Losing Streak” dan “Kemana Anjing-Anjing Itu Pergi” masuk juga kesana ?

Fery: Betul. Totalnya akan ada 6 lagu di EP kita nanti. Materi-materi demo tersebut akan kami masukkan.

– Untuk proses kreatif di Baragula, apa ada keunikan sendiri ? Saya kagum dengan lirik bernada provokatif nan sureal kalian seperti di “Kemana Anjing-Anjing Itu Pergi”.

Fery: Biasa aja kok. Ide awal biasanya dari saya, lirik dan gambaran musiknya. Kemudian baru aku oper ke teman-teman untuk eksekusi lebih lanjutnya di studio. Sejauh ini masih seperti itu kok.

Seperi “Kemana Anjing-Anjing Itu Pergi”, itu sudah agak lama nulisnya, referensinya macam-macam. Pengaruh yang tiba-tiba masukjuga sering tak terduga [tertawa].

– Sudah ada estimasi untuk perilisan EP-nya ?

Fery: Untuk perilisan EP, semoga kalian cukup sabar untuk menunggu kabar lanjutannya. Rencana kami tahun ini kok.

photo: Doc. Baragula

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here