Napolleon: “Kami Menawarkan Intimidasi Kepada Musik”

0
5146

“Le grand sont certainement très étrange.” Orang dewasa itu sangat aneh. Sebuah kutipan yang diambil dari buku karya pria Prancis, The Little Prince, yang Antoine de Saint-Exupèry buat pada 1943, setahun sebelum meninggal.

Apa yang saya dapat ketika membaca buku Pangeran Kecil, terjemahannya, saya dapatkan juga ketika mendengarkan musik Napolleon. Sebuah kuartet musisi yang berisikan dua orang jadi gitaris, satu orang yang memainkan bas, dan satu posisi untuk pemain drum.

Kelebihan mereka adalah cara pandang mereka terhadap dunia global. Mereka tidak suka mengkotak-kotakkan sesuatu, mereka berkarya tanpa batas. Mereka mendahulukan estetika. Mereka berkomitmen untuk bermusik dengan dasar kesenangan terhadap musik itu sendiri.

Merilis album mini berisikan empat lagu bertitel sama dengan nama yang mereka usung, Napolleon, dua bulan lalu, sekarang mereka memiliki bukti kepada publik bahwa mereka bisa berkarya. Mereka masih akan terus mencoba mengeksplorasi apa yang ada di dunia supaya bisa menjadi sesuatu. Untuk memberikan kembali sesuatu kepada dunia.

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan Bayu Andrianto, Valery Marsiano, Aditya Tri Hanggono, dan Muhammad Ilyas tentang musik dan hal yang membuat musik hidup.

Perbincangan itu dilakukan beberapa jam setelah mereka bermain di Gedung Perusahaan Film Negara dan beberapa menit setelah kami semua menyantap nasi goreng kambing terkenal di wilayah Kebon Sirih, Jakarta, 10 April. Pertanyaan-pertanyaan simpel saya, entah karena kekenyangan atau minimnya persiapan, dijawab dengan komentar yang mencerminkan Napolleon: mereka punya perspektif.

Apa mimpi Napolleon?

Valery: Kalau gue sih ngerasa masing-masing orang punya mimpi, Bayu, Ilyas, Aay, gue.. Tapi, mimpi pasti sama kalau udah di band. Karena kami punya mimpi yang sama makanya kita ngeband.

Apa makna mimpi itu sendiri buat Napolleon?

Ilyas: Ketika kita bermimpi itu kita harus mengalami situasi yang bernama tidur. Maksudnya ketika ngomongin mimpi itu tentang cita-cita atau tujuan.

Bagaimana suara musik Napolleon menurut Napolleon?

Bayu: Kebaruan. Napolleon menawarkan intimidasi kepada musik. Orang lain terserah bilang apa, kami nggak memberikan pernyataan kalau musik kami ini atau itu. Misalnya, lo ngomong tentang psikedelik, ya musik psikedelik bisa apapun. Global aja seperti dunia. Tidak terkotak-kotak.

Apakah ada aturan untuk membuat musik?

Ilyas: Kami berusaha menjadi kami. Bukan melihat permintaan pasar. Sebenarnya orang membuat lagu untuk mencurahkan sesuatu. Jadi, musik Napolleon adalah ekspresi dari kami berempat.

Pertanyaan pilihan; etika atau estetika?

Aay: Estetika!

Kalian berempat merupakan alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, seberapa besar pengaruh pendidikan di bidang seni untuk musik Napolleon?

Valery: Kalau gue mau jujur secara personal, nggak ada. Untuk ide musik dan inspirasi.

Bayu: Untuk keingintahuan tentang teknis dan bentuk mekanisme, menurut gue masih nyambung.

Aay: Kalau gue sih keseimbangan dalam berkarya. Dulu gue belajar keseimbangan visual, di band gue menerapkan keseimbangan dalam bermusik.

Valery: Kalau teknis jelas banyak..

Bayu: Eksploitasi bebas tanpa batas. Karena Napolleon sendiri nggak terstruktural sama sekali. Bukan abstrak juga. Napolleon itu jauh.

Seberapa besar keinginan Napolleon untuk menyampaikan sesuatu lewat karya?

Ilyas: Besar. Bisa terlihat dari cara pergerakan kami yang independen, nggak hanya dari karya kami.

Bayu: Kami ingin membiasakan orang untuk melihat dan mendengar hal yang nggak biasa. Gue ngerasa di Indonesia, bicara secara umum mungkin musik yang dibuat banyak band hanya untuk pendengar yang itu-itu saja. Tapi, kami ingin mengulang semangat yang menurut kami sekarang semakin kendor. Sekarang standarnya membuat musik enak lalu ya udah dapat uang. Membuat lupa estetika dan hanya mementingkan etika. Kami ingin membiasakan semangat zaman dulu dengan estetika yang nggak berbatas. Nggak harus cantik. Melihat hal yang jelek pun itu estetika. Bagus atau jelek itu estetika. Buku itu estetika. Pertanyaan lo dari satu sampai ke berapapun dan menunggu jawaban itu estetika. Estetika lo berbicara. Itu Napolleon. Seperti yang lo pikir sekarang, itu Napolleon.

Terakhir kali gue ngobrol dengan Napolleon, Bayu menyebutkan hubungan musik psikedelik dengan perempuan cantik. Maksudnya apa?

Bayu: Perempuan cantik menurut lo bagaimana?

Ilyas: Bicara cantik atau tidak kan relatif. Estetika yang tepat.

Hal-hal yang berhubungan dengan estetika, seberapa besar pengaruhnya untuk menulis lirik?

Bayu: Gue sebisa mungkin mampu diterima oleh apapun. Bisa diterima manusia, tumbuhan, mobil, batu batere, botol, kambing yang sudah menjadi nasi goreng, monoseks, stereoseks, heteroseks. Gue ingin membuat seumum mungkin, sudut pandangnya tidak hanya tentang laki-laki atau perempuan, tapi bisa juga semut atau gula. Bisa dimainkan tergantung cara pandang orang melihatnya. Itu bagian dari estetika menulis lirik, bagaimana caranya menggabungkan kalimat seumum mungkin.

Valery: Terserah pembaca lirik dan pendengar musik merepresentasikan lirik itu sendiri. Persepsi mungkin banyak. Tidak hanya tentang spaceship, tapi bisa juga tentang sakit perut. Satria [Swell] pernah bertanya ke gue, ‘Emang band lo imejnya spaceship?’ terus gue tanya lagi ke dia, ‘Emang lo ngeliatnya bagaimana?’ Maksudnya terserah orang saja. Untuk dia dan banyak orang mungkin melihat spaceship, tapi nggak juga sih.

Jadi, ketika kalian membuat sesuatu, terserah audiens menanggapinya bagaimana..

Valery: Iya, tapi gue tahu maksud gue dan Bayu tahu maksud dia. Makna sebenarnya itu.

Bayu: Tersampaikan atau tidak tersampaikan, yang penting ada reaksi.

Ilyas: Tidak dikhususkan dan maknanya bisa luas. Ketika membicarakan spaceship mungkin itu bisa jadi analogi. Kami membuat lirik dan musik ya kami ingin memberikan kendaraannya saja, terserah pendengar mau pergi ke mana.

Bayu: Kami mengajak orang untuk berimajinasi juga, nggak cuma dengar dan setuju. Kalau setuju ya syukur, kalau nggak mungkin pendengar punya imajinasi sendiri. Menurut gue, semakin banyak bisa direpresentasikan berarti semakin penting. Semakin banyak pro dan kontra di suatu hal semakin penting.

Valery: Kami tidak punya tendensi untuk mementingkan lirik. Spontanitas.

Secara garis besar, bagaimana musik yang bagus menurut Napolleon?

Bayu: Musik yang membuat lo terjebak euforia. Euforia lo senang atau euforia lo sedih. Sampai ke titik lo bingung pun juga merupakan euforia. Orang yang bingung atau orang yang gila bisa jadi orang yang beruntung, karena nggak tahu betapa kompleksnya dunia.

Aay: Secara teknis gue nggak punya pengalaman apa-apa tentang musik, tapi kasarnya, musik yang bisa diterima seluruh tubuh gue.

Mengapa Napolleon melakukan produksi dan distribusi EP Napolleon sendiri?

Ilyas: Kembali lagi ke seberapa besar keinginan kami untuk menyampaikan sesuatu lewat karya. Memunculkan semangat independen..

Bayu: Sebenarnya gue nggak mau judgemental. Stereotip label itu aman, tenar, dan banyak jadwal main.. Tapi kita semua tahu tidak seperti itu. Napolleon punya tujuan untuk….

Ilyas: Mandiri! Kami sedang mengeksplorasi dan ingin kami membuat sesuatu sebebas mungkin, tidak ada batasan. Kami ingin membawa musik kami seluas mungkin. Bukan berarti kami ingin menutup diri terhadap label, tapi kami merasa belum seperlu itu dan belum ada yang satu visi.

Valery: Sebenarnya kami takut dikekang.

Bayu: Kesenangan rilis sendiri itu.. Memikirkan semua hal sendiri. Sampul, tipe kotak, keping cd, desain, jenis font, dan banyak hal lain itu dipikir sendiri dan itu merupakan tantangan. Pelajaran berharga buat kami. Mengemas semuanya sendiri.. membuat rasa kepemilikan tinggi.

Saya tidak sabar menunggu karya terbaru. Kapan?

Aay: Tidak ada kapan. Tidak ada waktu acuan. Sampai kita puas.

Ilyas: Sebenarnya materi EP sudah lama, tapi kami memikirkan dalam-dalam supaya hasilnya semaksimal mungkin.

Bayu: Jadi.. Semuanya dilakukan bersama-sama dan berhati-hati. Untuk rilisan berikutnya juga seperti itu.

LEAVE A REPLY