Connect with us

Featured

Hujan-hujanan Bersama Kolaborasi Kolektif Bandung dan Yogyakarta

Published

on

Pertemuan Banda Neira (Ananda Badudu dan Rara Sekar), Gardika Gigih, Layur, dan duet gesek cello-biola Jeremia Kimosabe-Suta Suma Pangekshi berawal dari media sosial SoundCloud kira-kira dua tahun yang lalu. Setelah intens bertemu dan bertukar pikiran, mereka memutuskan untuk berkolaborasi dan membuat pentas bernama Kita Sama-sama Suka Hujan.

Pentas yang diadakan di dua kota, Bandung dan Jakarta, menjadi sebuah bentuk pelarian dari kompleksnya kehidupan di kota besar: kemacetan, kelelahan, keterkananan, dan banyak sekali hal yang membuat frustrasi. Selain itu, dengan tajuk bertemakan hujan, kolaborasi enam orang yang asalnya dari Bandung dan juga Yogyakarta mencoba untuk memaknai hujan.

Rara Sekar mengatakan, “Lagu kami banyak yang terinspirasi dari hujan. Terinspirasi oleh perasaan-perasaan yang muncul entah sebelum, selagi, atau setelah turun hujan.” Mereka memilih kata ‘kita’ bukan ‘kami’ dengan alasan untuk mengajak penonton ikut memaknai tentang hujan.

Setelah menggelar pentas di Bandung, 11 April lalu, Kita Sama-sama Suka-suka Hujan bermain di Jakarta, Rabu, 15 April. Dimulai kira-kira pukul delapan malam, penampilan kolaborasi yang diadakan di Rossi Musik Fatmawati, Jakarta, diiringi gerimis hujan yang turun di luar gedung pertunjukkan.

Tata panggung dengan hiasan awan dan hujan buatan menambah menariknya tampilan pentas kolaborasi. Mereka membuka pertunjukkan dengan sebuah musik instrumental bertitel “Hujan dan Pertemuan”. Setelah menyapa penonton dan memperkenalkan penampil, mereka langsung memainkan lagu Banda Neira, “Hujan di Mimpi”. Reaksinya adalah koor massal penonton.

Banda Neira merupakan duet folk yang sudah tidak asing di dunia musik Tanah Air, lagu-lagu berlirik puitis dengan komposisi musik pop-folk yang mudah dicerna pendengar bisa didapatkan di album Berjalan Lebih Jauh yang rilis dua tahun lalu.

Setelahnya, lagu-lagu Gardika, Layur, dan duet alat musik gesek Suta dan Jeremia dimainkan bergantian. Aransemen hasil penggabungan karakter musik yang berbeda dari para pemain terdengar lebih megah. Banda Neira yang biasanya hanya bersenjatakan glockenspiel dan gitar, semakin berisi dengan tambahan elemen piano, cello, dan biola.

“Ocean Whisper”, “Langit dan Laut”, “Dawn”, dan “Are You Awake” menjadi amunisi lagu sebelum waktu rehat sepuluh menit. “Langit dan Laut” merupakan lagu baru Banda Neira yang sedang merencanakan pengerjaan album kedua. Masing-masing pemain juga berharap proyek musik mereka akan segera menghasilkan karya musik.

Gigih, Layur, Jeremia, dan Suta berasal dari Yogyakarta. Kecuali Layur, mereka adalah musisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Gigih secara kusus mendalami komposisi musik, sedangkan Suta mempelajari biola dan Jeremia mempelajari cello. Sedangkan Layur telah merilis sebuah album mini selftitled berisikan tujuh lagu. Ia mengeksplorasi suara dan musik lewat sebuah program Fruity Loops.

Lagu-lagu yang menceritakan tentang kesedihan terus dilantunkan. “Kereta Senja” tentang keputusasaan bertemu perempuan pujaan di alat transportasi massal. “Tenggelam”, “I’ll Take You Home”, “Labuh”, dan “Dan Hujan” juga menceritakan tentang kesenduan dan kesedihan. Mereka juga menyelipkan satu musikalisasi puisi milik Chairil Anwar, “Derai-derai Cemara”.

Inspirasi pertemuan mereka adalah SoundCloud, oleh karena itu, pada awalnya mereka menamakan proyek kolaborasi ini Suara Awan, terjemahannya. Tahun lalu, mereka membuat sebuah penampilan yang berdurasi sekitar 45 menit di Yogyakarta. Mereka membuat konsep emosional nelangsa yang mendalam tanpa diiringi interaksi dengan penonton di antara lagu.

Bercermin dari hal itu, Kita Sama-sama Suka Hujan dibuat lebih ceria dengan celetukan-celetukan ringan sebelum dan sesudah lagu dimainkan. Obrolan-obrolan basa-basi tapi punya makna perkenalan membuat konser ini semakin intim. Waktu dua jam menjadi tidak terasa.

“Suara Awan” menutup perjumpaan dengan proyek kolaborasi. Lagu yang dibuat oleh Layur ini menjadi akhir dari perkenalan dan awal dari pertemuan berikutnya. Ketika lagu selesai, penonton yang dari awal duduk menyaksikan langsung meminta tambahan lagi.

Encore “Di Atas Kapal Kertas” pun langsung jadi persembahan terakhir para pecinta hujan untuk sesama pecinta hujan. Mereka juga membuat lagu tersebut makin menyenangkan didengar dengan permainan solo masing-masing pemegang instrumen.

Malam itu menjadi salah satu malam yang mengingatkan kalau hujan tidak selalu jadi bencana, tetapi juga jadi inspirasi. Setidaknya untuk para pecinta hujan.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *