Interview: Polka Wars Bicara Tentang Album dan Konser ‘Axis Mundi’

0
4635

Polka Wars belakangan ini mencuri perhatian para penikmat musik tanah air. Setelah meluncurkan boxset album baru Axis Mundi dan format CD untuk album tersebut, Deva (drum), Karaeng (vokal, gita), Xandega (bas) dan Billy (gitar) belakangan ini tengah disibukan dengan persiapan konser Axis Mundi yang siap dihelat pada 22 Agustus mendatang.

Beberapa waktu lalu Gigsplay mendapat kesempatan untuk mengintip sesi latihan Polka Wars di Str8 Studio di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Disana juga terlihat nama Aryo sebagai salah satu kawan musisi yang akan membentu konser Axis Mundi milik Polka Wars ini. Nantinya digelar di pusat kebudayaan Perancis, IFI Jakarta, Polka Wars membeberkan beberapa hal tentang Axis Mundi, dari album hingga persiapan konsernya.

– Untuk ide awal konser Axis Mundi ini, sebetulnya datang darimana ?

Deva: Awalnya tuh Dega datang ke pemakaman salah seorang kawan. Disana dia ketemu kawan lama dan temannya itu menawarkan untuk membantu menggarap konsernya. Ya semacam silaturahmi dari tragedi.

– Sedangkan konten di konser ini sendiri, hanya lagu-lagu dari album Axis Mundi saja atau ada lagu-lagu yang kalian rekam di Amerika Serikat tempo hari juga akan dibawakan ?

Billy: Yang pasti sih seluruh materi dari Axis Mundi bakal dibawain semua.
Deva: Ada beberapa lagu yang direkam di Amerika juga bakal kita mainin di konser ini.

– Persiapannya sudah sejauh mana sampai saat ini ?

Aryo: Persiapannya sih menuju makin dekat shownya, progresnya lumayan banyak. Cuma beberapa detil msih perlu dimatangkan. Pada dasarnya sih kira-kira sudah 80% sih.

– Detil yang seperti apa maksudnya?

Aryo: Kalau lo mau dengerin lagu-lagu Axis Mundi persis seperti yang ada di rekaman kan agak beda ya, karena ini live experience dan ada beberapa instrumen yang diluar rekaman bakal ditambahin di show ini untuk ngambil beberapa karakter musik lain dan karakter budaya lain.

Jadi detil itu kayak beberapa instrumen tambahan seperti terompet, biola dan lainnya, banyak sih, ada beberapa alat musik tradisi Betawi juga yang kita bakal masukin untuk menambah warna.

Untuk sekarang kita sih fokus pada detil-detil seperti itu, karena secara garis besar sudah oke sih.

– Apa yang ingin kalian capai lewat konser ini ?

Aryo: Kita punya barometer kalau sebelum ini mainnya gimana, dengan harapan konser ini bisa jadi turning point juga. Dengan tingkat kerapihan dan semua pesan dari lagu-lagu bisa di translate dengan baik juga, melalui instrumen-instrumen yang ada. Dan nunjukin kelasnya naik lah. Album baru, mainnya harus bisa lebih baik lagi.

Bisa bersaing dan bersanding dengan para musisi lain juga yang ada sekarang ini. Engga malu-malu in lah, kita udah punya full effort untuk show ini.

Billy: Intinya ya kalau mau lihat permainan terbaik dari Polka Wars selama kita bermusik ini sih ya di konser Axis Mundi ini.

– Kalian kan nanti main di IFI, engga ada niatan untuk coba bawakan lagu-lagu Perancis ? [tertawa]

Aryo: Kalau menurut gue pribadi sih, kedutaan Perancis ini sih jadi tempat kita untuk main, bersyukur banget. Tapi gue rasa bahasa dan lagu Perancis engga perlu dibawain juga. Karena kedutaan Perancis ini kan punya policy mereka nyari koneksi untuk bisa dekat dengan orang-orang Indonesia.

Disini kita sebagai orang yang ada di tengah-tengah menjembatani orang Indonesia dengan kedutaan Perancis dengan bahasa yang paling universal menurut gue, ya dengan bahasa Inggris.

Billy: Kalau mau Perancis-an sih lagu kita juga ada kok yang pake nama cewe bahasa Perancis [tertawa].

– Sulit kerjasama denga IFI ?

Deva: Sulit sih engga, kalau dibilang engga tapi sulit. Kita sebetulnya kan engga punya manajer nih, kita juga udah melewati tahapan yang lebih sulit lagi dari persiapan konser ini sebetulnya, kayak garap albumnya sendiri itu jauh lebih sulit sih menurut gue.

Sekarang kita dapat kesempatan yang tadi Dega ketemu kawan lama itu untuk dibantu. Nah jadi banyak yang bantu, dari inventoring manager, bagian media, semua ada perpanjangan tangannya lagi.

Sebetulnya ya sulit sih, tapi kebetulan ada yang bantu dengan orang yang mempunyai konseksi disana. Sebelum ketemu si orang ini kita ngga kepikiran sama sekali untuk buat konser, yang penting album rilis dulu deh, konsernya nanti.

Billy: Kita membuat satu tim sih intinya. Tim itu kita kumpulin. Semua serba kebetulan, organik dan tumbuh dari bawah [tertawa].

– Tiket sudah sold out ya ? Untuk pembagiannya sendiri, kalian menyediakan berapa tiket sebetulnya ?

Deva: Untuk penonton sih kita sediakan 100 tiket. Sisanya untuk bule-bule IFI, undangan dan keluarga.

Billy: Sudah habis. Semua udah dibooking orang. Kita disini perayaan sih, semacam syukuran kecil-kecilan aja.

– Tentang albumnya sendiri, Axis Mundi. Ini album debut Polka Wars, kalian cukup makan waktu sekitar 3 tahun pembuatannya. Untuk album debut cukup lama sih menurut gue dilihat dari sepak terjang kalian.

Tapi sebelum kalian melahirkan album ini, jam terbang kalian udah cukup tinggi. Kenapa bisa sampai 3 tahun ? Terlalu banyak kendala ?

Billy: Kendala sih banyak banget. Balik lagi deh ke prosesnya, karena kita dikasihnya tuh 3 tahun. Engga se-instan itu bikin materi.

Deva: Ada lagu yang matang pas kita bawa dari panggung ke panggung. Ada lagu yang dibikinnya pas direkam itu, sebelumnya belum pernah dimainin sama sekali. Atau karena engga ada semacam urgencies-nya kali ya waktu bikin, ada lupa dirinya sedikit lah.

Karaeng: Nunggu wangsit juga sih. Kalau belum dateng, ya gimana [tertawa].

– Dari teknisnya sendiri, Axis Mundi tuh kayak banyak instrumen tambahan. Kalau gue bilang album ini itu lebih eksperimental dari lagu-lagu lo yang sebelumnya, setuju ?

Karaeng: Kalau dibanding lagu-lagu yang sudah beredar banyak di internet sih iya. Di internet itu jadi semacam working prototype lah, kita coba menunggu respon dari pendengar. Setelah dapat respon, lagu-lagunya ya kita poles dan tambahkan elemen-elemen lain lagi.

Musik itu kan sebetulnya manusia memainkan instrumen Tuhan. Instrumen pemberian tuhan, jadi balik lagi, kita semacam menunggu wangsit lagi.

Deva: eksperimentasi yang terkonsep sih.

100 boxset yang kemarin ludes beberapa jam ya, canggih.

Deva: Niat awal di buka untuk 2 minggu, ternyata 2 jam udah ludes.

Billy: Bahkan personil pun ngga punya boxset, kalau mau dapet ya bayar [tertawa]

– Setelah boxset dan digital, baru kemudian cd. kenapa distribusinya dibagi beberapa tahap ?

Deva: Sebenarnya jadi sangat spiritual, karena beberapa format tersebut kita sengaja rilis di setiap tanggal 1.

Teknisnya sih karena waktu itu kepotong liburan lebaran tuh. sebetulnya baik sih waktunya, tapi kita ngga mau bunuh diri, karena nanti orang-orang bakal sibuk di waktu itu, kayak ada yang pulang kampung dan urusan-urusan lain, bisa aja jadi ngga ada yang denger.

Jadi makanya kita slice aja secara tekhnis. menghormati lebaran juga lah. tantangan jaman juga sih.

– Ada kejutan lain ngga ?

Deva: Rencananya kita juga bakal rilis merchandise spesial. untuk orang-orang yang kecewa ngga dapat boxset, ini bisa jadi semacam obat. memang sejauh ini masih wacana sih tapi. Di konser juga kita bakal rilis kaos dan tote bag. terbatas di jual di konser aja, kalau sisa sih dijual diluar [tertawa]

– Balik lagi ke konser, gue penasaran siapa aja polka kalau live besok.

Aryo: Yang pasti ada Polka Wars berempat, cuma beberapa lagu mereka tuh sebetulnya engga dimainin berempat. Yang nanti bantu tuh ada gue, Sawi Lieu, Andin main saksofon, ada Dika pemain terompet dari Pandai Besi, ada Sinta juga yang main violin.

Secara musikal sih tidak merubah bagan si lagunya, namun kita cuma menambahkan dimensi lagu-lagunya. Latihannya susah banget tuh, menyatukan waktu kita semua tuh problem pertama dan utama [tertawa]

– Terakhir, kenapa orang mesti datang ke konser ini ?

Billy: Karena udah beli tiket [tertawa]

Karaeng: Kalau mau nonton Polka Wars live yang dikemasnya niat sih ya disini.

Aryo: Bakal ada experince yang ada diluar CD sih.

Deva: Karena tempatnya enak dan proper. Kita juga mau mengenalkan Polka Wars yang lebih dalam dan lebar lagi di konser ini.

LEAVE A REPLY