Interview: Kelompok Penerbang Roket dan Tribut untuk Panbers

0
5230

Dilabeli sebagai band rock paling panas di tanah air saat ini, Kelompok Penerbang Roket kian melambung tinggi. Kreatifitas dalam menyusun materi-materi cadas yang kental dengan aroma 70s rock khas Indonesia pun membuat nama Kelompok Penerbang Roket menjadi perbincangan dimana-mana. Pelan namun pasti, semenjak melepas lagu “Mati Muda” dan mengunggah beberapa video penampilan live, dahaga para penikmat musik rock lokal perlahan terpuaskan.

Sekitar 1 tahun lalu pula awal kenaikan nama Kelompok Penerbang Roket. Bermodal performa maksimal, mereka berhasil memenangkan kontes yang diselenggarakan oleh Jack Daniels. Sebagai pemenang Kelompok Penerbang Roket pun berhak atas hadiah berupa rekaman profesional dan perilisan album dibawah bendera Sinjitos Records, sebuah label kenamaan asal ibukota tempat band-band lokal terbaik bernaung seperti The Brandals, Bayu Risa, Lala Karmela, Santamonica hingga Backwood Sun.

Saat berhasil menyabet gelar juara di kompetisi tersebut, ternyata Kelompok Penerbang Roket tengah dalam proses merampungkan debut albumnya. Oleh karena itu, hadiah yang diberikan oleh Jack Daniels dan Sinjitos Records tersebut mereka manfaatkan untuk membuat sebuah album tribute untuk salah satu band rock legendaris Indonesia, yaitu Panbers.

Trio Coki (vokal, bas), Rey (gitar) dan Viki (drum) membeberkan beberapa hal menarik selama penggarapan album Haai ini kepada Gigsplay. Tentang mengapa mereka memilih Panbers untuk dibuatkan album tributnya, sesi rekaman tanpa Rey hingga kesulitan menggubah ulang lagu-lagu milik Panbers.

– Album Haai ini adalah album tribut untuk Panbers. Menurut berita yang beredar beberapa waktu lalu, adalah sosok David Tarigan yang menyarankan kalian untuk menggubah ulang lagu milik Panbers. Sedekat apa KPR dengan sosok David Tarigan ?

Coki: Iya betul, ada peran David Tarigan dalam proses pembuatan album tribut ini. Awalnya itu kita membuat list lagu-lagu yang ingin di gubah ulang dan salah satunya itu lagu Panbers. Tapi kemudian kita explore lagi dan dapat list lagu-lagu baru. Kemudian kita ketemuan sama David yang kebetulan gua udah kenal lumayan lama. Kita diskusi sama David, ngobrol-ngobrol soal artist dan lagu dan juga dari segi musikalitas. Sebagian banyak dari artist yang kita tulis di list susah buat kita temui untuk mengurus hak dan izin, sampai akhirnya David bilang, kalau dia kenal dengan Panbers dan bisa dicoba dan akhirnya kita eksplor lagu Panbers.

Cerita gimana bisa kenal David lucu sih. Tahun 2008 gua main gitar di Circle K Kemang, mainin lagunya The Who. Eh tiba-tiba ada yang nyaut bilang “Can’t Explain dong!”, nengok ke belakang, ketawa terus akhirnya kenalan sama David yang kebetulan lagi sama Ade Paloh dan Mondo juga.

– Terlepas dari saran David Tarigan tersebut, apa sebelumnya kalian memang cukup intens dalam mendengarkan karya-karya dari Panbers ?

Coki: Jujur gua belum banyak tau lagu Panbers dan ada lumayan banyak albumnya. Gua cuma tau 3 lagu,yaitu “Haai”, “Mr. Bloon” dan “Rock and the Sea”. Dan setelah ketemu David, kita dengerin semua lagu Panbers dari macam-macam album, khususnya album yang lama dan ternyata gila lagunya kayak “Djakarta City Sounds, cool.

Viki: Gua sendiri memang suka dengar Panbers, cuma beberapa lagu aja tapi karena jujur, susah carinya di internet. Makanya kita butuh bantuan si David buat cari lagu-lagunya.

Rey: Ngga juga

– Koreksi saya kalau ada kesalahan, sewaktu kalian mengerjakan album Haai ini adalah saat dimana Rey sedang menjalani masa rehabilitasi. Bagaimana proses kreatif disana ? cara mengakali tanpa kehadiran Rey ?

Coki: Iya memang, di saat itu kita dihadapin dengan situasi band enggak komplit. Kita bertiga, enggak ada satu, impact-nya kerasa. Tapi rekaman harus jalan dan memuaskan. Gua dan viki paham permainan gitar Rey dan kita punya influence yang ada di satu warna. Kita minta bantuan dari teman kita Dani buat main gitar di proses rekaman itu, yang tentunya ada brainstorming dan pengarahan. Jadi sebuah cerita yang unik buat diingat.

Viki: Jujur itu memang sulit banget, ibarat pake baju tapi enggak pake celana hahaaha. Tapi kita enggak boleh patah semangat juga. Akhirnya gua sama Coki konsen untuk ide aransemen album ini. Di bantu juga sama Iyub (Joseph Saryuf) dan juga si Om Gembul (Dhany Zohansa) gitaris band Siboi sebagai additional player di album ini.

– Ketika pertama kali setuju untuk mengerjakan album tribute to Panbers, bagaimana reaksi yang kalian terima dari para personil Panbers ?

Viki: Kita ketemu langsung sama om Sido Panjdaitan (drummer Panbers). Awalnya gua grogi banget takutnya enggak nyambung sama yang beliau inginkan. Ternyata doi kehacepan dengerinnya hahahaa, Puji Tuhan lah, sukses.

– Apa kesulitan utama dalam mengerjakan sebuah album tribut ?

Viki: Kesulitan utama itu gimana kita mengaransemen ulang lagu Panbers yang dasarnya udah keren banget. Kalau kita salah aransemen bisa jadi malah jelek banget hasilnya. Makanya kita pas rekaman memilih live recording untuk mendapatkan feel-nya.

Coki: Kesulitannya itu enggak ada yang sulit banget sih, hahaha. Cuma ya mungkin vokalnya om Benny oktafnya tinggi, jadi badan harus prima pas take vokal tuh.

– Warna musik rock n roll dari KPR dan Panbers sendiri bisa dibilang agak kontras. Bagaimana kalian meleburkan kedua warna tersebut ? Disini nampaknya menjadi titik sentral peran seorang Joseph Saryuf ya.

Coki: Hmm, kontras ada benarnya, tapi esensinya gua merasa mirip, esensi yang serampangan dan suka-suka yang kita suka. Lagu Panbers ada beberapa yang sangat pop, pop bisa berubah kemana aja menurut gua dan itu udah jadi bahan yang keren buat dirombak. Iyub (Joseph Saryuf) memberikan kita pandangan yang lain. Saran dan masukan membuat proses rekaman jadi lebih dinamis.

– Betul album ini akan rilis secara gratis ? Kapan ?

Coki: Sejauh ini yang kita tau dari pihak Jack Daniels album ini rencananya akan dirilis gratis di majalah Rolling Stone Indonesia, untuk kapannya, ditunggu ya kabarnya.

– Sudah mau membocorkan apa saja tracklist album tribut ini selain “Mr. Bloon” dan “Rock and The Sea” ?

Viki: Bocorin satu aja ya hahahaa, biar surprise. Ada “Djakarta City Sound” juga di album ini.

– Kontrak rekaman dengan Sinjitos Records ini kalian raih setelah berhasil memenangi kontes dari Jack Daniels. Kenapa memilih untuk merilis sebuah album tribut atas hadiah ini ? Mengapa tidak untuk album kedua atau EP saja setelah Teriakan Bocah dirilis ?

Rey: Karena awalnya kita enggak mau kalo lagu kita diutak-atik sama orang lain. Jadi mending lagu Panbers yang di utak-atik.

– Terakhir, mengapa para penikmat musik Indonesia baik dari generasi lawas dan sekarang mesti mendengarkan album ini ?

Coki: Karena bukan album biasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here