New Tracks
Ditria Luncurkan “Playing Victim” Sebagai Respon Adu Nasib Di Circle Pertemanan

- Share
- Tweet /srv/users/gigsplayv2/apps/gigsplayv2/public/wp-content/plugins/mvp-social-buttons/mvp-social-buttons.php on line 66
https://gigsplay.com/wp-content/uploads/2025/02/Ditria-Playing-Victim.jpg&description=Ditria Luncurkan “Playing Victim” Sebagai Respon Adu Nasib Di Circle Pertemanan', 'pinterestShare', 'width=750,height=350'); return false;" title="Pin This Post">
DITRIA, trio pop punk asal Jakarta, hadir sebagai angin segar di kancah musik Indonesia dengan mengusung konsep unik: tiga personel tanpa vokalis tetap.
Dendy (drum), AdenRamma (gitar), dan Djo (bass) menyatukan energi dari beragam latar belakang musikal pada Desember 2024, membentuk kolaborasi yang mereka sebut sebagai “pertemuan tiga semesta”. Meski tanpa frontman, mereka justru menjadikan instrumen sebagai medium vokal—setiap dentuman drum, gesekan bas, dan torehan gitar dirancang untuk bicara lantang tentang keresahan generasi muda.
Band ini mengaku tak ingin diam terhadap realitas sosial yang mengusik. Melalui komposisi instrumental yang garang namun bernuansa, DITRIA menyoroti spektrum perilaku manusia mulai dari keseharian yang manis hingga sikap-sikap mengganggu di lingkungan sekitar.
“Kami seperti kaca pembesar yang membakar titik-titik absurd dalam relasi pertemanan, percintaan, hingga isu masyarakat,” ujar AdenRamma tentang konsep kreatif mereka. Gitaris ini menambahkan bahwa dinamika trio memungkinkan eksplorasi yang lebih cair: “Tanpa vokalis, kami bebas menciptakan dialog musikal di mana setiap instrumen punya hak veto.”
Untuk single perdana bertajuk “Playing Victim”, DITRIA menggandeng Stefano Samosir sebagai vokalis tamu. Lagu ini menjadi kanal kritik sosial terhadap mentalitas korban yang kerap dipelihara dalam pertemanan.
“Ini sindiran untuk mereka yang selalu merasa tertindas padahal menjadi dalang drama,” jelas Djo sambil tertawa. Bassis yang kerap menyelipkan riff jazz ini mengungkapkan, kolaborasi dengan Stefano seperti “memasukkan bensin ke api”—menciptakan ledakan energi antara vokal yang emosional dan aransemen instrumental yang tak kalah agresif.
Stefano menggambarkan proses rekaman sebagai pengalaman katharsis: “Liriknya menusuk tapi relatable. Saat masuk studio, kami seperti tim pesepak bola yang saling umpan—setiap take lahir dari improvisasi spontan.” Dendy, si penggebuk drum, menambahkan bahwa ritme dalam lagu sengaja dibuat tidak stabil: “Polanya sengaja ‘tersandung-sandung’ untuk menggambarkan kepura-puraan si playing victim.”
Single ini tidak sekadar menggugah telinga, tetapi juga mengajak pendengar terlibat aktif. Di tengah breakdown lagu, terdapat momen interaktif dimana penonton diajak meneriakkan frasa “Stop the drama!”—sebuah simbol solidaritas melawan sikap manipulatif. “Musik harus jadi cermin zaman. Kami ingin pendengar tidak hanya headbanging, tapi juga introspeksi,” tegas AdenRamma.
Meski baru merilis satu lagu, DITRIA sudah memetakan visi besar. Djo menyebutkan bahwa album mendatang akan seperti “buku harian urban” yang merangkum ironi kehidupan kota.
Stefano berkomentar, “Bekerja dengan mereka itu seperti main game co-op—tanpa hierarki, semua ide dihargai.” Dendy menutup dengan filosofi band: “Kami mungkin tanpa vokalis, tapi setiap not yang kami mainkan adalah protes. Bahkan keheningan di antara ketukan drum itu sengaja kami desain untuk berbicara.”
“Playing Victim” sudah tersedia di seluruh platform digital. DITRIA berpesan: “Putar keras-keras, nikmati keriuhannya, lalu tanyakan pada diri—jangan-jangan kita juga kadang jadi tokoh antagonis dalam lagu ini.”