New Tracks
Hip-Hop Bangkit Di Tuban: DeathVoice Dan Gerakan “Arunika” Yang Membawa Angin Perubahan

- Share
- Tweet /srv/users/gigsplayv2/apps/gigsplayv2/public/wp-content/plugins/mvp-social-buttons/mvp-social-buttons.php on line 66
https://gigsplay.com/wp-content/uploads/2025/04/DeathVoice.jpg&description=Hip-Hop Bangkit Di Tuban: DeathVoice Dan Gerakan “Arunika” Yang Membawa Angin Perubahan', 'pinterestShare', 'width=750,height=350'); return false;" title="Pin This Post">
Sementara kota-kota besar di Indonesia telah lama memiliki komunitas dan geliat Hip-Hop yang mapan, Tuban justru menampilkan wajah berbeda. Di kota kecil yang terletak di pesisir utara Jawa Timur ini, dominasi musik keras seperti hardcore dan pop punk masih menjadi penguasa.
Namun, gelombang perubahan mulai muncul ketika DeathVoice, kolektif musik lokal, merilis single berjudul “Arunika“. Lagu ini adalah simbol perlawanan dan tekad untuk menumbuhkan akar Hip-Hop di tanah yang dianggap “gersang” oleh banyak pihak.
Sebelum “Arunika” hadir, hampir tidak ada upaya serius untuk mengembangkan suara Hip-Hop di Tuban. DeathVoice memutuskan untuk memecah keheningan itu. Mereka tidak hanya ingin menciptakan musik, tetapi juga menjadi pionir yang membuka jalan bagi genre ini di kota kelahirannya.
“Arunika”, yang berarti cahaya matahari pagi, dipilih sebagai metafora untuk menandai awal mula, titik balik, dan harapan setelah periode stagnasi. Bagi DeathVoice, lagu ini merefleksikan perjalanan mereka dari nol—membangun dari ketiadaan, melawan keraguan, dan menciptakan ruang bagi suara yang selama ini terpinggirkan.
Lirik “Arunika” menjadi cermin dari semangat tersebut. Pada verse pertama, kalimat “Ku tulis ini dengan pena yang hampir berkarat” menggambarkan perjuangan melawan keterbatasan. DeathVoice menjelaskan, “Ini simbol dari alat seadanya, tapi kami tetap menulis, merap, dan ngotot jalan meski banyak yang meremehkan.”
Baris “Kini ku datang dengan style golden era” menjadi pernyataan sikap: mereka terinspirasi oleh era keemasan Hip-Hop yang mengutamakan skill dan lirik bermutu, bukan sekadar mengikuti tren. “Kami ingin buktikan bahwa Hip-Hop di Tuban itu nyata, bukan ilusi,” tegas mereka.
Bagian reffrain yang keras, “Still with my clan! / This is sound of wounds from underground”, menyuarakan kegelisahan anak muda yang merasa tak didengar. “Ini suara dari bawah tanah, suara mereka yang akhirnya mengambil mic sendiri karena tak ada yang mau mendengarkan,” ujar DeathVoice.
Verse kedua semakin mempertegas komitmen mereka: “Bercumbu dengan microphone, semakin puas” adalah pengakuan cinta pada Hip-Hop yang tak tergantikan. Meski jalan berliku, “Langkahku berliku namun ku terus melaju” menjadi mantra untuk terus bergerak maju, menjadikan setiap rintangan sebagai batu pijakan.
Di verse ketiga, DeathVoice memberi penghormatan kepada Julian Sadam, rapper underground asal Sid-Town yang dikenal dengan diksi dan rimanya yang tajam. “Kami tak akan padam seperti Julian Sadam” adalah janji untuk melanjutkan semangatnya—bahwa rap bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk perlawanan.”
Penutup lagu dengan kalimat “Memulai episode baru, T-Town HipHop Movement” menegaskan bahwa “Arunika” adalah deklarasi gerakan kebudayaan.
Tuban sering dianggap tertinggal dalam hal kreativitas. Bahkan, dalam obrolan santai, DeathVoice pernah mendengar komentar, “Tuban itu seperti kota besar 5-7 tahun yang lalu.”. Artinya, ada jarak yang lebar antara Tuban dan pusat-pusat tren musik Indonesia.
Namun, DeathVoice percaya bahwa “Arunika” bisa menjadi pemantik untuk mengejar ketertinggalan itu. “Kami ingin menghancurkan batas mental bahwa kota kecil tidak bisa berkontribusi pada budaya Hip-Hop,” tegasnya.
Gerakan ini mulai menunjukkan hasil. Tak lama setelah “Arunika”, salah satu musisi asal Tuban, Lost Control, bersiap merilis single berjudul “Muqadimah”. Ini menjadi tanda bahwa gelombang Hip-Hop di Tuban semakin tak terbendung. “Sekarang, Hip-Hop di sini sudah mulai bernapas. Kami ingin membuatnya besar lagi,” ujar mereka, menyitir slogan “Make Hip-Hop great again!”.
Dari Tuban, DeathVoice membuktikan bahwa musik bukan sekadar soal genre, melainkan medium untuk menyatukan suara-suara yang terabaikan. “Arunika” mungkin hanya sebuah lagu, tetapi di baliknya ada nyala api perlawanan—cahaya mentari yang perlahan mengubah gelap menjadi terang.