Articles
Subliminal Dan Brainwave: Rahasia Di Balik Lagu Yang Sering Kita Dengar

- Share
- Tweet /srv/users/gigsplayv2/apps/gigsplayv2/public/wp-content/plugins/mvp-social-buttons/mvp-social-buttons.php on line 66
https://gigsplay.com/wp-content/uploads/2025/04/Subliminal-Dan-Brainwave.jpg&description=Subliminal Dan Brainwave: Rahasia Di Balik Lagu Yang Sering Kita Dengar', 'pinterestShare', 'width=750,height=350'); return false;" title="Pin This Post">
Musik itu ajaib. Kadang kita dengar lagu dan langsung terbawa suasana, entah jadi tenang, semangat, sedih, atau malah gelisah tanpa alasan yang jelas.
Tapi pernah nggak kepikiran kalau itu semua bisa jadi bukan cuma karena melodi atau liriknya, tapi karena ada sesuatu yang sengaja disisipkan di balik suara—sesuatu yang kita nggak sadar dengar? Nah, di sinilah cerita soal subliminal message dan brainwave technology dalam musik mulai menarik.
Subliminal message, sederhananya, adalah pesan tersembunyi yang dikirim ke otak kita tanpa kita sadari. Bisa berupa kata-kata yang diputar terbalik, suara yang terlalu pelan untuk kita dengar dengan sadar, atau efek-efek suara aneh yang bikin kita ngerasa “aneh tapi nggak tahu kenapa”.
Sementara brainwave technology itu mainannya frekuensi. Otak kita punya gelombang sendiri—alfa, beta, theta, delta—dan ternyata, kalau kita dengar suara atau ketukan dengan pola tertentu, otak bisa “dipancing” buat ngikutin gelombang itu. Efeknya? Bisa bikin kita rileks, fokus, ngantuk, atau bahkan ngalamin kondisi setengah-meditatif.
Teknologi ini udah pernah dicoba sama banyak musisi. Beberapa karena iseng, ada yang serius eksperimen, ada juga yang pengen “mind control” secara halus (iya, seseram itu kedengarannya).
Contohnya The Beatles. Mereka suka banget ngulik suara-suara aneh, dan di lagu “Revolution 9” atau “I’m So Tired”, ada bagian-bagian yang kalau diputar mundur katanya muncul pesan tersembunyi. Salah satunya: “Paul is dead, man”. Ini bikin teori konspirasi soal Paul McCartney sempat meledak.
Terus ada Led Zeppelin dengan lagu “Stairway to Heaven”. Lagu ini juga sempat bikin heboh karena pas diputar mundur, ada yang bilang terdengar ucapan kayak “Here’s to my sweet Satan”. Cukup buat bikin orang mikir, ini cuma kebetulan, eksperimen artistik, atau memang ada maksud tersembunyi?
Queen juga pernah kena sorotan. Lagu “Another One Bites the Dust” katanya kalau dibalik ada pesan yang mendorong penggunaan narkoba. Tapi kayak kasus lain, nggak ada bukti kuat kalau itu disengaja. Bisa jadi cuma permainan pikiran kita yang nyari makna di tempat yang nggak ada maksud apa-apa.
Yang juga menarik adalah band-band seperti Tool. Mereka suka banget mainin konsep spiritual, matematika, dan kesadaran. Lagu-lagu mereka kadang disusun pakai pola Fibonacci, dan efek audionya bisa bikin kita merasa kayak sedang masuk ke dunia lain. Nggak jelas apakah mereka pakai teknik brainwave secara teknis, tapi struktur dan nuansanya jelas punya efek psikologis yang dalam.
Kalau mau lebih eksplisit soal penggunaan brainwave, kita bisa lihat musik-musik seperti dari Holosync atau Brainwave Sync. Mereka emang bikin musik khusus yang pakai binaural beats—dua suara dengan frekuensi berbeda yang bikin otak kita “tune in” ke frekuensi tertentu. Biasanya dipakai buat meditasi, tidur, atau fokus kerja. Musiknya seringkali sederhana, tapi bikin tenang banget.
Di jalur lebih komersial, ada juga Enigma. Lagu-lagu mereka, kayak “Return to Innocence”, dipenuhi elemen-elemen suara alam, chanting, dan frekuensi yang terasa sangat menenangkan. Meskipun mereka nggak ngomong langsung soal brainwave, tapi jelas musik mereka dirancang buat mempengaruhi mood pendengar.
Tapi seberapa efektif sih semua ini? Untuk subliminal message, ilmuwan belum sepenuhnya sepakat. Ada yang bilang bisa mempengaruhi pikiran kalau konteksnya pas, tapi dampaknya kecil dan nggak selalu berhasil. Beda cerita dengan binaural beats. Sejumlah penelitian nunjukin efek yang cukup konsisten buat bantu fokus, relaksasi, atau tidur. Jadi, walau mungkin nggak langsung “mengendalikan pikiran”, tetap ada efeknya, apalagi kalau didengar rutin.
Bersantai sambil mendengarkan musik (ilustrasi/Andrea Piacquadio)
Tentu aja semua ini nggak lepas dari kontroversi. Soalnya, kalau ada pesan yang kita nggak sadar dengar, berarti kita nggak ngasih izin, kan? Di beberapa negara, subliminal message di iklan udah dilarang. Tapi dalam musik, aturannya masih longgar. Dan sebagian musisi merasa, ini bagian dari kebebasan berekspresi. Kalau tujuannya buat healing atau eksplorasi artistik, kenapa nggak?
Akhirnya, semua balik ke pendengar. Kita boleh nikmatin musik sebebas-bebasnya, tapi juga ada baiknya peka. Kadang musik bisa lebih dari sekadar lagu—bisa jadi pintu masuk ke dalam pikiran kita, tanpa kita sadari. Dan di era digital kayak sekarang, teknologi itu makin gampang dipakai, makin susah dideteksi.
Jadi, lain kali pas kamu denger lagu dan tiba-tiba mood kamu berubah tanpa alasan jelas, coba aja mikir… siapa tahu kamu baru aja “terhipnotis” tanpa sadar.