International
Nation of Language Tunjukkan Bahwa Mesin Tidak Akan Pernah Mengalahkan Emosi
Trio synth-pop asal Brooklyn, Nation of Language, baru saja mengumumkan album terbaru mereka yang berjudul ‘Dance Called Memory’. Bersamaan dengan pengumuman ini, mereka juga merilis single baru berjudul “I’m Not Ready For the Change” yang disertai video musik.
Album ini dijadwalkan rilis pada 19 September mendatang di bawah label Sub Pop, yang menjadi kolaborasi pertama mereka dengan label ikonik tersebut.
Kabar tentang bergabungnya Nation of Language ke Sub Pop sebenarnya sudah mulai terdengar sejak Mei lalu, ketika mereka merilis single “Inept Apollo“. Lagu ini langsung menarik perhatian banyak orang dan bahkan masuk dalam daftar “Songs of the Week” di beberapa media musik terkemuka.
Nation of Language terdiri dari Ian Richard Devaney sebagai vokalis utama dan gitaris, Aidan Noell di synthesizer, serta Alex MacKay yang memainkan bass. Mereka mulai dikenal luas setelah konsisten merilis album-album dengan warna synth-pop retro-modern yang kuat.
Album terakhir mereka, ‘Strange Disciple’, yang dirilis pada 2023 melalui label [PIAS], mendapat banyak pujian dan bahkan masuk dalam daftar “Top 100 Albums of 2023”. Sebelumnya, mereka juga merilis ‘A Way Forward’ pada 2021 dan debut ‘Introduction, Presence’ pada 2020.
Konsistensi mereka dalam menjaga benang merah dari satu album ke album berikutnya sangat dipengaruhi oleh produser Nick Millhiser, yang juga dikenal melalui kolaborasinya dengan LCD Soundsystem dan Holy Ghost!.
Millhiser kembali berperan sebagai produser untuk proyek ‘Dance Called Memory’, sama seperti yang ia lakukan sebelumnya di ‘Strange Disciple’. Menurut para personel, kolaborasi ini memberi mereka kebebasan untuk bereksplorasi tanpa terikat pada ekspektasi genre.
Aidan Noell menekankan bahwa kehadiran Millhiser mendorong mereka untuk berani mengambil risiko kreatif. “Yang luar biasa dari Nick adalah bagaimana dia membuat kami merasa tidak perlu memenuhi harapan orang lain,” ujarnya dalam keterangan pers
Dalam penjelasan lebih dalam mengenai arah musik baru mereka, Devaney mengungkapkan adanya tarik-ulur antara dua pendekatan besar dalam dunia musik elektronik: kubu Kraftwerk dan kubu Brian Eno.
“Saya membaca bagaimana Kraftwerk ingin benar-benar menghapus seluruh unsur manusiawi dari musik mereka. Sementara Brian Eno justru berbicara tentang bagaimana menciptakan musik sintetis yang terasa sangat manusiawi,” kata Devaney. “Sebanyak apapun pengaruh Kraftwerk yang sangat mendasar bagi kami secara sonik, di album ini saya jauh lebih condong ke pendekatan Eno, karena lebih punya rasa.”
Bagi Devaney, tema besar ‘Dance Called Memory’ tidak bisa dipisahkan dari refleksi tentang kondisi manusia saat ini, terutama di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan yang perlahan mengambil alih peran para kreator. Ia ingin musik mereka tetap menjadi ruang yang menyoroti sisi emosional manusia, bukan sekadar hasil produksi teknologi yang dingin dan terputus dari realitas sehari-hari.
“Alih-alih meninggalkan rasa putus asa, saya ingin pendengar merasakan adanya pengakuan di antara kita semua. Bahwa di balik pergulatan pribadi yang kita alami, sebenarnya ada titik temu yang bisa menyatukan kita dalam empati,” tambah Devaney.
Dalam lagu “I’m Not Ready For the Change”, nuansa ini langsung terasa. Synth yang berlapis, ritme drum yang tetap minimalis namun efektif, serta vokal Devaney yang rapuh, menciptakan atmosfer yang hangat dan melankolis. Video musiknya, yang kini sudah bisa disaksikan di kanal YouTube resmi mereka, semakin menegaskan tema tentang ketidakpastian dan adaptasi terhadap perubahan
Dengan bergabungnya Nation of Language ke Sub Pop, mereka kini mendapatkan panggung yang lebih luas. Label legendaris yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi banyak ikon musik alternatif ini tampaknya memberikan ruang yang lebih lebar bagi Nation of Language untuk meneguhkan eksistensinya di lanskap synth-pop modern.
Kombinasi antara ketulusan lirik, serta kepekaan mereka dalam memadukan unsur retro dan kontemporer, membuat Nation of Language tetap menjadi salah satu nama paling menarik di kancah synth-pop saat ini.

