International
Album Debut Kian Dekat, Slow Fiction Rilis Single “turning down flowers”
Band alternatif dari New York, Slow Fiction, kembali mempersembahkan karya terbaru mereka melalui single “turning down flowers”. Lagu ini menjadi rilisan terbaru menjelang peluncuran album debut mereka, ‘dollhouse‘, yang dijadwalkan rilis pada 7 Agustus melalui label Tight Knit. Selain merilis single ini, Slow Fiction juga meluncurkan video musik yang menampilkan dokumentasi selama tur, yang direkam oleh Samantha Caballero.
“turning down flowers” memperlihatkan sisi emosional yang selama ini menjadi ciri khas Slow Fiction. Band yang diperkuat Julia Vassallo (vokal), Paul Knepple dan Joseph Skimmons (gitar), Ryan Duffin (bass), serta Akiva Henig (drum) menghadirkan lagu yang mengangkat kerentanan tanpa berusaha menyembunyikannya di balik simbol-simbol heroik.
Julia Vassallo menjelaskan bahwa lagu ini terinspirasi dari pemikiran yang telah lama ia simpan. Ia mengenang masa kecilnya ketika menyadari bahwa kata “together” jika dipisahkan menjadi “to get her”, sebuah permainan kata yang terus teringat hingga kini.
Menurut Vassallo, perempuan seharusnya memiliki ruang yang sama untuk mengekspresikan berbagai emosi, termasuk kerentanan, kebingungan, dan depresi, tanpa harus selalu menyampaikan pesan yang optimis.
“Saat masih kecil, saya suka sekali karena kata ‘together’ jika dipisah menjadi ‘to get her’. Sekarang rasanya tidak realistis jika setiap lagu yang dinyanyikan perempuan tentang pengalaman menjadi perempuan harus selalu terdengar membangkitkan semangat atau penuh pemberdayaan, itu bukan kesetaraan,” ujar Vassallo.
Lalu Vassallo. menambahkan, “Kami juga berhak mengekspresikan rasa depresi yang sangat eksistensial tentang posisi kami, lalu bersikap aneh karenanya. Saya merasa ruang seperti itu sering kali tidak tersedia, terutama di beberapa genre musik maupun seni.”
Pernyataan tersebut memberi gambaran mengenai arah album ‘dollhouse’ secara keseluruhan. Lewat sebelas lagu, Slow Fiction mengeksplorasi identitas yang terus berubah, baik saat seseorang berada sendiri maupun ketika berada di bawah sorotan publik. Album ini juga membahas hubungan antara kehidupan pribadi, kehadiran media sosial, dan cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Seluruh materi dalam dollhouse diproduseri sendiri oleh para personel Slow Fiction, sementara proses mixing ditangani Sonny DiPerri, sosok yang dikenal melalui kolaborasinya bersama DIIV dan Julie. Proses rekaman dimulai pada Agustus 2025 dan rampung pada Januari tahun berikutnya.
Dalam prosesnya, Slow Fiction menggunakan berbagai instrumen vintage untuk memperkaya karakter suara album, seperti pump organ, Mellotron, dan vocoder. Gitaris Paul Knepple menyatakan bahwa keputusan untuk memproduksi album secara mandiri turut memengaruhi proses kreatif mereka.
“Bagi kami, memproduksi album sendiri akhirnya menjadi lapisan tambahan dalam proses penulisan lagu,” kata Knepple.
Pilihan tersebut memberi keleluasaan bagi Slow Fiction untuk mengembangkan setiap ide tanpa harus mengikuti pola produksi yang umum digunakan.
Perilisan ‘dollhouse’ juga akan dirayakan dengan konser khusus di TV Eye, Brooklyn, pada 8 Agustus. Acara yang diselenggarakan oleh Antics Magazine ini akan menjadi penampilan perdana album tersebut di depan publik sebelum Slow Fiction melanjutkan tur Amerika Utara sebagai band pendukung Swervedriver.


