International
The Last Dinner Party Rilis “Knocking At The Sky”, Penutup Megah Untuk Album ‘From The Pyre’
“Knocking At The Sky” hadir sebagai penutup era ‘From The Pyre’, lengkap dengan video musik bergaya film noir dan horor klasik.
Grup art rock asal Inggris, The Last Dinner Party, kembali merilis materi baru bertajuk “Knocking At The Sky” setelah menyelesaikan tur yang padat di Inggris, Eropa, dan Amerika Utara. Lagu ini menjadi materi utama dalam edisi digital deluxe album kedua mereka, ‘From The Pyre‘, dan juga berfungsi sebagai penutup dari keseluruhan narasi yang mereka sajikan di album tersebut.
“Knocking At The Sky” pertama kali diperkenalkan secara live saat konser penutup tur Inggris 2025 di Brixton Academy, London. Kini versi studio resmi akhirnya dirilis dan memberikan gambaran lengkap tentang bagaimana The Last Dinner Party menutup satu siklus kreatif yang telah menarik perhatian banyak penggemar dan kritikus musik selama setahun terakhir.
Direkam di Church Studios, Crouch End, bersama produser Animesh Raval, lagu ini tetap mempertahankan karakter teatrikal yang menjadi ciri khas The Last Dinner Party. Di single terbarunya ini, mereka mengarahkan narasi ke tema yang lebih gelap, terinspirasi oleh mitologi modern yang dikenal sebagai Hollywood.
Menurut para personel, “Knocking At The Sky” adalah kisah terakhir dari semesta yang mereka ciptakan dalam ‘From The Pyre’. Jika album tersebut dipenuhi dengan cerita tentang karakter, mitologi, dan dunia imajiner, lagu ini memilih Los Angeles sebagai latar utama. Kota ini dipandang sebagai negeri dongeng modern yang dipenuhi dengan mimpi, ambisi, dan ilusi. Hollywood menjadi ruang di mana setiap orang mengejar kisah kepahlawanannya sendiri, sekaligus berhadapan dengan sisi paling kelam dari ambisi tersebut.
Konsep ini diterjemahkan dengan kuat melalui komposisi yang dimulai perlahan sebelum berkembang menjadi ledakan dramatis yang khas dari The Last Dinner Party. Permainan piano, gitar, dan orkestrasi yang muncul secara bertahap menciptakan nuansa sinematik yang megah, sementara vokal Abigail Morris kembali menjadi pusat perhatian dengan penyampaian yang kaya dengan karakter dan emosi.
Sebagai penutup album, “Knocking At The Sky” terasa seperti adegan terakhir sebuah film. Lagu ini dikonsep dengan ketegangan yang tumbuh sedikit demi sedikit hingga mencapai akhir yang terasa megah dan melankolis. Itulah salah satu kekuatan terbesar The Last Dinner Party, yaitu kemampuan mereka mengolah dinamika lagu menjadi bagian penting dalam proses bercerita.
Video musiknya pun memperkuat atmosfer tersebut. Disutradarai Sinclair Bryant, visual “Knocking At The Sky” dipenuhi referensi terhadap film noir klasik, karakter femme fatale era Hollywood lama, film slasher vintage, hingga estetika sinema bawah tanah karya sutradara kultus John Waters.
Bryant tidak hanya menyajikan video yang menawan secara visual, tetapi juga menyusun rangkaian adegan yang terasa seperti potongan mimpi buruk. Pencahayaan yang kontras, komposisi gambar yang bergaya klasik, serta permainan warna yang dramatis menciptakan suasana misterius dari awal hingga akhir. Kamera bergerak dengan lembut, memberikan ruang bagi setiap adegan untuk menyampaikan maknanya sendiri.
Yang paling menarik, video ini tidak terasa seperti gambaran harfiah dari lirik lagu. Sebaliknya, alur di video ini membuka ruang untuk interpretasi yang luas. Penonton diajak untuk memasuki dunia yang penuh simbol, di mana glamor Hollywood beriringan dengan rasa cemas, paranoia, dan kehampaan.
Keputusan ini membuat video “Knocking At The Sky” jauh lebih menarik dibandingkan video musik lainnya. Setiap adegan memiliki detail yang patut diperhatikan berulang kali, terutama bagi penonton yang menggemari sinema klasik dan estetika gotik modern.
Peluncuran lagu ini bertepatan dengan dirilisnya edisi digital deluxe ‘From The Pyre’. Selain “Knocking At The Sky”, rilisan ini juga menyertakan beberapa materi lain seperti “Big Dog“, karya spoken-word “Come All You Beasts”, dan lagu “This Is The Killer Speaking” yang pertama kali diperkenalkan setahun lalu sebagai pembuka perjalanan album.
Meski baru saja menyelesaikan tur utama di Amerika Serikat, jadwal The Last Dinner Party masih jauh dari selesai. Dalam beberapa bulan ke depan, mereka akan tampil di berbagai festival besar, termasuk TRNSMT, Latitude Festival, konser bersama Wolf Alice di Finsbury Park, dan menjadi salah satu penampil utama di Wilderness Festival.
Setelah itu, mereka akan kembali ke Amerika Utara untuk menjalani tur arena bersama Sombr, sebelum bergabung sebagai tamu spesial dalam rangkaian konser Olivia Rodrigo di “The Unravelled Tour” yang tiketnya telah terjual habis untuk jadwal Januari dan Februari 2027.
Di luar aktivitas panggung, The Last Dinner Party juga terus menjalankan berbagai program sosial yang melibatkan komunitas penggemar. Pada bulan April lalu, mereka menggelar “The Market Place” di Brooklyn sebagai ruang bagi seniman independen lokal untuk memamerkan karya mereka.
Program amal “Ribbons for Provisions” juga terus berkembang sepanjang tur mereka. Hingga saat ini, inisiatif tersebut telah berhasil mengumpulkan hampir £50.000 (sekitar 1.2 milyar) untuk bank makanan di Inggris dan Eropa, serta lebih dari US$40.000 (sekitar 722 juta) selama rangkaian konser mereka di Amerika Serikat.


