New Tracks
Trio Bogor mittelkin Debut Lewat “i wore pride like a second skin”
Trio asal Bogor, mittelkin, resmi memperkenalkan diri melalui single debut berjudul “i wore pride like a second skin” yang dirilis pada 7 Juli 2026 lewat Kolibri Rekords. Lagu ini menjadi langkah awal menuju EP perdana mereka yang akan diperkenalkan secara bertahap hingga akhir tahun.
Beranggotakan Alyssa Nikita, Ayu Muthia Zahra, dan Karina Restiani, mittelkin menghadirkan warna dream pop dan shoegaze yang berpijak pada kisah-kisah personal, penuh kerentanan, tapi tetap menyisakan ruang bagi harapan.
Sebagai perkenalan, “i wore pride like a second skin” langsung memperlihatkan arah yang ingin ditempuh mittelkin. Lagu ini terinspirasi dari pengalaman pribadi, mengangkat tema penyesalan yang terus tinggal dalam ingatan serta berbagai kemungkinan hidup yang tak pernah benar-benar terwujud. mittelkin mengajak pendengar untuk menyelami perasaan yang sering muncul ketika seseorang mulai menoleh ke belakang dan mempertanyakan pilihan-pilihan yang telah diambil.
Ayu Muthia Zahra mengungkapkan bahwa lagu tersebut tercipta ketika dirinya berada dalam masa refleksi yang cukup berat. Pada awalnya, ia berusaha meyakinkan diri bahwa seluruh persoalan masih bisa dihadapi sendirian. Tapi seiring waktu, ia menyadari bahwa tidak semua luka benar-benar selesai hanya karena dipendam.
“Lagu ini aku tulis tahun lalu ketika isi kepalaku terasa sangat berisik. Aku berusaha tetap tenang dan meyakinkan diri bahwa semuanya masih bisa aku hadapi sendiri, sampai akhirnya sadar kalau ada hal-hal yang sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai. Mereka tinggal dan menetap di suatu tempat di dalam diri kita,” ujar Ayu.
Proses kreatif lagu ini kemudian berkembang secara kolektif melalui sesi workshop internal. Ketika Ayu telah memiliki bait pembuka beserta garis melodinya, Alyssa Nikita turut menyumbangkan potongan lirik yang sebelumnya hanya tersimpan di catatan telepon genggamnya. Dua sudut pandang itu kemudian bertemu dalam satu narasi yang saling melengkapi.
Jika bagian yang ditulis Ayu banyak berkutat pada penyesalan terhadap masa lalu, lirik Alyssa menghadirkan perspektif lain tentang kebingungan mencari arah hidup, kelelahan emosional, serta keinginan menemukan tempat yang benar-benar terasa sebagai rumah.
“Aku menyumbangkan satu bait yang mencerminkan pengalamanku sendiri, tentang usaha mencari tempat di hidup ini, terus mencari jawaban, terlalu banyak bicara dan terlalu sedikit mendengar,” tutur Alyssa.
Kolaborasi tersebut memberi kedalaman emosional pada lagu yang tidak hanya berkisah tentang kehilangan, tetapi juga mengenai pergulatan menerima diri sendiri ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan.
Di sisi aransemen, “i wore pride like a second skin” menghadirkan nuansa yang kelam dan atmosferik. Permainan gitar berdistorsi berpadu dengan lapisan tekstur suara yang saling mengisi, membentuk lanskap dream pop dan shoegaze yang terasa luas, samar, sekaligus menghimpit. Musiknya bergerak perlahan, tapi menyimpan intensitas yang terus bertambah hingga akhir lagu.
Ayu menyebut karya ini sebagai materi paling gelap yang mereka miliki sejauh ini. Menurutnya, kebisingan yang muncul sepanjang lagu sengaja dipertahankan karena mampu menggambarkan suara-suara yang terus memenuhi kepala ketika seseorang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Bising, sedikit menenggelamkan, persis seperti suara yang terdengar di dalam kepala ketika terlalu banyak memikirkan sesuatu,” jelasnya.
Karina Restiani melihat kekuatan utama lagu tersebut justru berada pada hubungan antara komposisi musik dan isi lirik. Menurutnya, distorsi, noise, dan lapisan instrumen yang terdengar padat bukan hanya sebagai elemen estetika, melainkan memiliki hubungan erat dengan tema yang sedang diangkat.
“Setelah membaca liriknya berulang kali, semuanya mulai terasa masuk akal. Noise, distorsi, dan semua lapisan suara itu terasa terikat oleh rasa penyesalan dan kehampaan yang mendasarinya. Musiknya terdengar luas dan menghantam, sementara liriknya perlahan memperlihatkan apa yang sebenarnya tersembunyi,” ungkap Karina.
Meski baru memulai perjalanan, mittelkin telah memperlihatkan identitas yang cukup jelas. Ketiga personelnya memang tinggal di kota yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh aktivitas di komunitas kreatif Bogor dan kecintaan terhadap musik independen. Hubungan tersebut berkembang menjadi proyek bersama yang memberi ruang bagi mereka untuk menuangkan pengalaman pribadi ke dalam lagu-lagu yang jujur.
Nama mittelkin lahir dari sebuah kebetulan sederhana. Alyssa, Ayu, dan Karina sama-sama merupakan anak tengah di keluarga masing-masing. Kesamaan itu kemudian dipilih sebagai identitas band sekaligus simbol keterhubungan yang tumbuh secara alami di antara mereka.
Di single perdana “i wore pride like a second skin”, mittelkin memperlihatkan bahwa kerentanan tidak selalu identik dengan kelemahan. Justru dari pengalaman yang paling rapuh, mereka menemukan cara untuk merangkai karya yang terasa personal sekaligus mudah dipahami oleh siapa pun yang pernah bergulat dengan penyesalan, kehilangan, atau pertanyaan-pertanyaan yang belum menemukan jawabannya.
Single ini sekaligus menjadi pembuka perjalanan menuju EP perdana mereka yang akan dirilis secara bertahap hingga penghujung 2026.


