New Albums

GHO$$ Rilis Album Debut ‘The Whitest Blackout’ Setelah Penantian Hampir Satu Dekade

Diterbitkan

pada

Band GHO$$
GHO$$ (CREDIT: Edi Sukawa)

Hampir satu dekade setelah memperkenalkan identitas mereka di skena musik independen Jakarta, unit dark-pop/trip-hop GHO$$ akhirnya meluncurkan album debut mereka yang berjudul ‘The Whitest Blackout‘. Album yang kini telah tersedia di berbagai platform musik digital ini menjadi karya paling personal yang yang pernah mereka ciptakan, sekaligus merangkum perjalanan panjang band ini yang dipenuhi dengan kehilangan, jeda, dan usaha untuk bangkit kembali.

‘The Whitest Blackout’ berfungsi sebagai pasangan konseptual dari mini album ‘The Blackest Whiteout’ yang dirilis pada tahun 2017. Jika album sebelumnya menggambarkan proses perlahan tenggelamnya kesadaran ke dalam kegelapan, album terbaru ini menggambarkan kebangkitan. Cahaya mulai muncul kembali setelah melewati masa-masa tergelap, menjadi metafora penerimaan kenyataan, berdamai dengan trauma, dan menemukan alasan untuk terus melangkah maju.

Dalam 12 lagu, GHO$$ merangkai narasi yang mengalir tanpa terputus. Setiap trek menghadirkan bab yang berbeda, tapi semuanya saling terhubung oleh pengalaman emosional yang sama. AAlbum ini dibuka dengan “Train”, sebuah komposisi ambient yang berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini, sebelum membawa pendengar ke dalam rangkaian cerita yang lebih dalam.

Lagu “Her” menggambarkan perjuangan seseorang yang berhadapan dengan depresi, sementara “2N8” menyoroti keberanian untuk meninggalkan hubungan yang penuh dengan kekerasan dan manipulasi. Di “Dude”, GHO$$ menceritakan kisah seseorang yang terjebak dalam siklus penderitaan tanpa bisa menemukan jalan keluar.

Perjalanan emosional ini berlanjut melalui “Break”, yang menampilkan kolaborasi dengan Madukina. Lagu ini merekam momen ketika seseorang menoleh ke belakang, merindukan tempat pelarian yang pernah terasa aman, sambil tetap percaya bahwa setiap luka pada akhirnya memiliki kesempatan untuk sembuh.

GHO$$ photo by Edi Sukawa

Nuansa berubah menjadi lebih keras ketika “My Song 6” mengungkap amarah akibat kehilangan seorang sahabat. Sementara itu, “666” mengeksplorasi pertarungan panjang antara nalar dan sisi gelap yang hidup dalam diri manusia. Dua lagu lain, “#SADBOYSCLUB” dan “Purple Season”, menyentuh dinamika hubungan yang rumit, rasa kehilangan, hingga cinta yang harus berhenti karena keadaan yang tak dapat diubah.

Memasuki bagian akhir album, GHO$$ membawa suasana yang lebih kontemplatif. “Bridges” dan “SAME” menggambarkan perjalanan menerima berbagai pengalaman hidup, rasa kecewa, serta kesadaran bahwa setiap orang menyimpan luka yang tidak selalu terlihat.

Album ini ditutup dengan “Die & Go”, sebuah penghormatan yang sangat pribadi untuk Diego Aditya, salah satu pendiri GHO$$ yang meninggal pada 2024. Lagu ini menjadi penutup emosional yang merangkum seluruh perjalanan album. Kehilangan tidak dihapuskan, tetapi diterima sebagai bagian dari hidup yang akan selalu menyertai perjalanan mereka.

Di balik perilisan album ini tersimpan proses yang jauh lebih panjang dibandingkan usia rekamannya. Sebagian besar materi sebenarnya telah selesai ditulis sejak 2017. Tapi berbagai peristiwa membuat proyek ini terus tertunda. Kondisi kesehatan vokalis Diego Shefa sempat menghambat proses kreatif, ditambah dengan pandemi COVID-19 yang membatasi berbagai aktivitas produksi. Ketika band mulai bersiap kembali, mereka harus menghadapi kehilangan terbesar setelah Diego Aditya meninggal dunia pada 2024.

Peristiwa tersebut membuat GHO$$ memutuskan untuk sejenak berhenti dari aktivitas bermusik. Baru pada akhir 2025, mereka kembali berkumpul dan melanjutkan perjalanan dengan formasi baru setelah Kazumasa Albert bergabung sebagai gitaris dan Daniel Clift sebagai pemain synthesizer. Kehadiran mereka berdua memberikan nuansa baru tanpa menghilangkan identitas musik yang telah lama melekat pada GHO$$.

‘The Whitest Blackout’ juga menjadi album pertama yang sepenuhnya diproduksi secara mandiri oleh para anggota. Seluruh proses rekaman, mixing, hingga balancing dilakukan sendiri dengan semangat do-it-yourself yang telah mereka pegang teguh. Untuk tahap mastering, GHO$$ mempercayakan hasil akhirnya kepada Stephan Santoso dari Musikimia di Slingshot Studio.

Keputusan ini menunjukkan keinginan band untuk menjaga setiap detail emosional yang ada dalam lagu-lagu mereka. Album ini tidak hanya terdengar sebagai karya musik, tetapi juga terasa seperti arsip perjalanan pribadi yang merekam berbagai bentuk kehilangan, kemarahan, cinta, depresi, harapan, hingga penerimaan.

Meski ‘The Whitest Blackout’ telah resmi dirilis, perjalanan album ini belum berakhir. GHO$$ saat ini sedang menyelesaikan video musik resmi untuk lagu “666”. Video tersebut diproduksi dan disutradarai oleh Mellow Splice, dan dalam waktu dekat akan tayang di kanal YouTube resmi GHO$$. Kehadiran video musik ini diharapkan dapat melengkapi semesta visual yang selalu menjadi bagian penting dari identitas band ini.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *