New Tracks

Bob Atea Merangkum Nostalgia Dan Akselerasi Kota Dalam Maxi-Single Perdana

Profile photo ofArduino

Diterbitkan

pada

Bob Atea Band

Bob Atea kembali memperluas katalog karyanya melalui maxi-single dengan judul yang tak biasa: “I’d hope we could all be so happy when we look back at our past, in a place where we don’t have to worry about what we didn’t figure out while we were here”. Judul sepanjang itu terdengar seperti catatan terakhir dalam buku harian, fragmen surat perpisahan, sekaligus renungan yang muncul setelah sesi terapi yang panjang. Tapi justru di situlah Bob Atea menemukan ruang untuk menyampaikan gagasan utama rilisan terbarunya.

Unit emo/indie rock asal Jakarta tersebut resmi merilis maxi-single berisi dua lagu pada 22 Juni 2026 di seluruh layanan streaming digital. Melalui dua komposisi ini, Bob Atea mengangkat nostalgia sebagai salah satu gejala paling relevan dalam kehidupan modern, sebuah perasaan yang terus tumbuh seiring laju teknologi yang semakin cepat dan mengubah cara manusia memandang masa lalu.

Dalam narasi yang mereka usung, nostalgia tidak hanya dilihat sebagai kenangan manis yang sesekali diingat. Bob Atea menganggapnya sebagai sesuatu yang lebih kompleks. Nostalgia hadir seperti bayangan yang terus-menerus mengingatkan kita akan masa-masa yang dianggap lebih sederhana, tenang, dan mudah dipahami dibandingkan dengan realitas saat ini.

Gagasan tersebut muncul dari pengamatan mereka terhadap perubahan yang terjadi di sekitar. Kota-kota berkembang dengan cepat, tempat-tempat lama menghilang, dan orang-orang dipaksa untuk beradaptasi dengan ritme baru yang terus bergerak. Dalam proses ini, banyak orang mulai merasa asing dengan lingkungan yang dulunya mereka kenal. Dari rasa keterasingan inilah kerinduan terhadap tempat, suasana, dan pengalaman muncul, meskipun mungkin pengalaman tersebut tidak pernah benar-benar mereka alami.

Lagu pertama yang berjudul “I’d hope we could all be so happy when we look back at our past…” (atau disingkat menjadi “hope”) membawa pendengar ke wilayah reflektif mengenai hubungan manusia dengan kota dan kenangan. Menjelang akhir lagu, Bob Atea menyisipkan rekaman suara dari beberapa orang yang menceritakan tentang tempat kelahiran mereka, masa-masa tumbuh dewasa, serta impian yang telah tercapai maupun yang tertinggal dalam perjalanan hidup.

Penggunaan elemen dokumenter ini memberikan dimensi yang lebih personal pada lagu. Cerita-cerita yang disampaikan terdengar sederhana, sekaligus menunjukkan bagaimana hubungan manusia dengan ruang dan waktu sering kali meninggalkan jejak emosional yang sulit untuk dihapus.

band indie rock Bob Atea

Sementara lagu kedua “…in a place where we don’t have to worry about what we didn’t figure out while we were here” (atau disingkat menjadi “place”) melanjutkan tema serupa dari sudut pandang yang berbeda. Jika “hope” memandang masa lalu melalui kenangan kolektif, “place” lebih menekankan kerinduan terhadap tempat yang telah ditinggalkan dan versi diri yang perlahan-lahan memudar seiring berjalannya waktu.

Dalam lagu ini, Bob Atea seolah mengajak pendengar untuk merenungkan berbagai kemungkinan yang pernah ada. Bukan untuk menyesali pilihan yang telah dibuat, tetapi untuk menyadari bahwa setiap fase kehidupan meninggalkan jejak yang membentuk siapa kita saat ini.

Sebagai salah satu nama yang terus aktif di ranah emo dan indie rock Jakarta, Bob Atea juga menghadirkan eksplorasi yang menarik dalam aspek komposisi. Mereka memainkan progresi akor yang lebih kaya dan memanfaatkan perubahan time signature yang tidak biasa. Pilihan tersebut memberi warna tersendiri pada kedua lagu dan memperkuat nuansa ganjil sekaligus melankolis yang menjadi benang merah rilisan ini.

Maxi-single ini juga menghadirkan kolaborasi dengan Rachel Tabitha yang mengisi permainan keyboard pada lagu pertama. Kehadirannya menambah lapisan tekstur yang memperkaya suasana tanpa mengurangi karakter khas Bob Atea yang dikenal emosional dan introspektif.

Komentar dari para personel mengenai rilisan ini menunjukkan karakter unik yang telah melekat pada band tersebut. Vokalis dan gitaris, Sabda Armandio, menyatakan bahwa proses penulisan lagu dimulai dari keinginannya untuk menemukan musik yang dapat membantu orang tetap fokus, terutama bagi mereka yang mengalami kesulitan serupa dengannya.

Di sisi lain, gitaris Karunia Saputra menyampaikan refleksi puitis tentang perjalanan hidup dan identitas diri. Bassis Bagus Satria menanggapi rilisan ini dengan humor khas Bob Atea, sementara Ferio Johan melihat karya terbaru mereka sebagai titik ketika band mulai menemukan arah yang lebih jelas, meski dalam waktu yang sama terasa semakin sulit ditebak.

Drummer PS Jati bahkan menyebut rilisan ini sebagai karya Bob Atea dengan kualitas produksi terbaik yang pernah ada. Pernyataan ini seolah menegaskan bahwa band ini sedang memasuki periode kreatif yang semakin percaya diri dalam mengembangkan ide-ide mereka.

Melalui dua lagu yang saling terhubung, Bob Atea seolah menciptakan ruang bagi pendengar untuk merenungkan rasa kehilangan, perubahan, atau kerinduan terhadap masa lalu dari sudut pandang yang lebih personal. Di dunia yang semakin cepat bergerak, maxi-single ini terasa seperti ajakan untuk berhenti sejenak, melihat ke belakang, dan menerima bahwa tidak semua hal perlu dipahami sebelum waktu berlalu.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *