New Albums
Gakuen Purgatory Perkenalkan Dunia Gelapnya Lewat “Liturgi Tirani”
“Liturgi Tirani” memadukan deathcore modern, elemen simfonik, dan narasi gelap yang saling terhubung.
Unit deathcore asal Rembang, Gakuen Purgatory, resmi memperkenalkan EP debut mereka bertajuk ‘Liturgi Tirani‘. Rilisan ini terdiri dari lima trek yang saling terhubung dan menjadi pernyataan artistik pertama dari band yang dibentuk pada tahun 2023 tersebut. Mereka menghadirkan kombinasi deathcore modern, elemen metalcore kontemporer, serta nuansa simfonik yang gelap dan megah.
Di balik intensitas musiknya, ‘Liturgi Tirani’ membawa narasi konseptual yang menyoroti kemunafikan, manipulasi, kebohongan, hingga konsekuensi destruktif dari keyakinan yang diterima tanpa pertanyaan.
Gakuen Purgatory dimotori oleh Davie Yakusaa pada vokal, Febri Pradana dan Renald pada gitar, Amar pada bass, serta Ega di belakang drum. Meski masih tergolong baru dalam skena musik keras Indonesia, band ini telah berhasil membangun identitas yang jelas melalui konsep artistik yang mereka usung.
Nama Gakuen Purgatory merupakan gabungan dari dua kata yang tampak bertolak belakang. “Gakuen” berasal dari bahasa Jepang yang berarti sekolah, sedangkan “Purgatory” merujuk pada konsep penyucian melalui api.
Seiring perkembangan band, kombinasi ini berkembang menjadi semesta kreatif yang mereka ciptakan, sebuah ruang metaforis di mana manusia dihadapkan pada kebohongan, kesombongan, kemunafikan, dan ketidaktahuan yang mereka ciptakan sendiri.

Gagasan itu kemudian diterjemahkan melalui komposisi agresif, atmosfer yang suram, serta lirik tanpa kompromi. Dalam karya-karyanya, Gakuen Purgatory mengambil posisi sebagai pengamat sekaligus hakim yang menyoroti berbagai bentuk kerusakan moral dalam diri manusia. Pandangan tersebut menjadi fondasi utama yang meresap ke seluruh isi ‘Liturgi Tirani’.
EP ini terdiri dari lima trek yang tersusun layaknya satu kesatuan cerita, yaitui “Invokasi”, “Mawar Gelap”, “Liturgi Tirani”, “Apostasia”, dan “Pembual”. Setiap lagu berfungsi sebagai bagian dari perjalanan naratif yang saling melengkapi, membawa pendengar menyusuri dunia yang dipenuhi manipulasi, pengkhianatan, dan keyakinan palsu.
‘Liturgi Tirani’ dirancang sebagai sebuah perjalanan konseptual yang menggali bagaimana manusia bisa terjebak dalam kebohongan yang mereka ciptakan sendiri. Kebohongan ini perlahan-lahan diterima, dipelihara, dan akhirnya berubah menjadi sesuatu yang dianggap sebagai kebenaran mutlak.
Melalui narasi yang terjalin di sepanjang EP, Gakuen Purgatory mengupas berbagai bentuk kemunafikan yang menjadi norma sosial. Mereka juga menunjukkan bagaimana sosok-sosok palsu bisa mendapatkan tempat istimewa melalui ketakutan, keputusasaan, dan pengabdian yang buta. Dalam dunia yang digambarkan oleh band ini, tipu daya tidak hanya ada di tingkat individu, tetapi juga mengakar dalam masyarakat yang enggan mempertanyakan apa yang telah dianggap benar.
Di balik dentuman riff dan vokal yang brutal, Liturgi Tirani menyimpan kritik terhadap kecenderungan manusia yang lebih memilih kenyamanan daripada kebenaran. Tema ini menjadi benang merah yang terus muncul sepanjang perjalanan EP, memberikan refleksi tentang bagaimana kebohongan bisa berkembang menjadi sistem kepercayaan yang sulit untuk dipertanyakan.
Di sisi lain, Judul ‘Liturgi Tirani’ menyimpan makna yang cukup penting dalam keseluruhan konsep rilisan ini. Kata “liturgi” umumnya dikaitkan dengan ritual dan pengabdian, sedangkan “tirani” identik dengan dominasi dan penindasan. Perpaduan keduanya menggambarkan situasi ketika sesuatu yang awalnya dianggap suci atau benar perlahan berubah menjadi alat kontrol yang menyesatkan karena diterima tanpa sikap kritis.
Melalui simbolisme yang ada, Gakuen Purgatory ingin menyoroti bahaya dari keyakinan yang berkembang tanpa adanya proses refleksi. Ketika pertanyaan dan keraguan dianggap sebagai ancaman, maka peluang untuk manipulasi akan semakin terbuka lebar. Pesan ini menjadi inti dari keseluruhan narasi ‘Liturgi Tirani’.
Proses pengerjaan EP ini berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Menariknya, seluruh tahapan produksi dilakukan secara mandiri oleh para personel. Mereka terlibat langsung dalam setiap proses, mulai dari penulisan materi, penyusunan aransemen, rekaman, hingga tahap akhir produksi.
Peran terbesar di balik layar dipegang oleh Davie Yakusaa yang menangani penulisan lirik, pengembangan konsep, mixing, mastering, hingga pengerjaan artwork. Keterlibatan penuh ini membuat ‘Liturgi Tirani’ terasa sebagai karya yang lahir dari visi yang terjaga dengan baik.
Dengan kombinasi konsep yang kuat, narasi yang saling terhubung, serta eksekusi yang dilakukan secara independen, ‘Liturgi Tirani’ menunjukkan ambisi besar Gakuen Purgatory sejak awal perjalanan mereka. EP ini mengajak pendengar untuk merenungkan kemunafikan, kekuasaan, dan pilihan manusia untuk tetap hidup dalam kebohongan yang mereka ciptakan sendiri.
Support Gigsplay Dengan Saweria
