International
Holly Head Eksplorasi Spektrum Emosi Baru di Single “I’ve Had Want”
Tidak semua band yang lahir dari skena post-punk dan alternatif Inggris memilih menyuarakan keresahan sosial dengan cara yang sama. Bagi Holly Head, unit asal Manchester yang selama ini dikenal lewat lirik-lirik bernuansa kritik sosial, musik selalu menjadi ruang untuk menyampaikan kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitar mereka. Kini band tersebut bersiap kembali dengan single terbaru berjudul “I’ve Had Want” yang dijadwalkan rilis pada 16 Juni 2026.
Lagu terbarunya ini memperlihatkan sisi berbeda dari Holly Head. Jika sebelumnya mereka identik dengan energi yang liar, ritme yang gelisah, dan atmosfer yang agresif, “I’ve Had Want” menghadirkan nuansa yang lebih hangat dan melodis. Di balik karakter tersebut, lagu ini tetap mempertahankan semangat kritis yang selama ini menjadi identitas utama mereka.
“I’ve Had Want” ditulis bersama Paddy Murphy, drummer dari Westside Cowboy yang juga pernah mengisi posisi gitar utama di Holly Head. Kolaborasi tersebut membuka ruang bagi eksplorasi yang lebih luas dalam proses kreatif band. Hasilnya adalah sebuah lagu yang memperlihatkan kemampuan Holly Head dalam merangkai komposisi yang lebih sabar, tenang dan terukur tanpa kehilangan arah artistiknya.

Inspirasi lagu ini datang dari berbagai nama yang beragam, mulai dari UNKLE, DJ Shadow, Tricky, hingga Cornershop. Pengaruh tersebut bertemu dengan referensi musik yang selama ini kerap disebut Holly Head, seperti Wu-Lu, Happy Mondays, Kokoroko, Fugazi, dan legenda afrobeat Fela Kuti. Dalam rilisan persnya, “I’ve Had Want” berawal dari sebuah demo larut malam yang dikembangkan oleh sang vokalis Joe bersama bassis Liam.
Meski terdengar lebih “lembut” dibanding karya-karya mereka sebelumnya, tema yang diangkat tetap berakar pada isu sosial yang menjadi perhatian band. Joe menjelaskan bahwa proses menyaksikan berbagai bentuk ketimpangan dan penderitaan di dunia dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan mental seseorang.
“Memproses emosi negatif yang muncul ketika melihat ketidakadilan dan penderitaan di sekitar kita bisa sangat melelahkan secara mental. Namun kemarahan itu tidak seharusnya dipendam, ” ujar Joe.
“Kami merasa tetap perlu membicarakan isu-isu yang selama ini kami suarakan. Musik di lagu ini memang berbeda, tetapi tetap berbicara tentang ketimpangan ekonomi, kebencian rasial, hak-hak hewan, dan berbagai persoalan lainnya. Hanya saja kali ini disampaikan melalui spektrum emosi yang lebih luas, tidak hanya kemarahan,” tambahnya.
Single ini menjadi penanda evolusi menarik bagi band asal Manchester tersebut menjelang rangkaian tur musim panas mereka yang akan segera berlangsung.
