New Albums
NEMMEN Hantam Realitas Lewat ‘Menembus Batas Maksimal’
Tulungagung selama ini dikenal sebagai Kota Marmer, wilayah di Jawa Timur yang identik dengan batuan keras dan industri pengolahannya. Tapi bagi para penikmat musik ekstrem, nama Tulungagung juga memiliki reputasi lain yang tak kalah kuat. Kabupaten ini banyak melahirkan band-band dengan karakter agresif, energi liar, dan mentalitas independen yang tumbuh dari akar skena bawah tanah. Dari lingkungan inilah NEMMEN muncul dan mempertegas eksistensinya lewat album penuh perdana bertajuk ‘Menembus Batas Maksimal‘ yang resmi dirilis pada 6 Juni 2026.
Unit metal/hardcore yang diperkuat Rizkhi Sumarsono (vokal), Ariadi Sumeh dan Ofi Rifal (gitar), Wahyu Astiko (bass), serta Yudith Daf (drum) tersebut selama beberapa tahun terakhir aktif menghantam berbagai panggung musik keras di Jawa Timur dan sekitarnya. Berpegang pada semboyan “menolak tua”, NEMMEN membangun identitas melalui komposisi yang agresif dan penuh kritik sosial. Lirik-lirik mereka membahas isu politik, budaya populer, hingga berbagai gejala sosial yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Perilisan ‘Menembus Batas Maksimal’ dilakukan setelah band ini membuka pre-order merchandise resmi mereka. Album yang berisi delapan lagu tersebut tidak hanya menyajikan ledakan riff cepat, breakdown berat, dan vokal penuh amarah, tetapi juga merangkai sebuah alur cerita yang saling terhubung dari awal hingga akhir.
NEMMEN memotret realitas masyarakat modern yang terjebak dalam berbagai bentuk kepalsuan. Album ini dibuka dengan “Bara Ambisi”, sebuah gambaran tentang mereka yang duduk di posisi kekuasaan tapi kehilangan arah akibat hasrat yang tidak terkendali. Dalam narasi yang dibangun, ambisi berubah menjadi bara yang membakar logika, sementara kepentingan pribadi menggeser tanggung jawab terhadap masyarakat.
Kritik tersebut berlanjut melalui lagu “224”. Di sini NEMMEN mengangkat ironi tentang sistem hukum dan ketidakadilan yang dianggap semakin jauh dari harapan banyak orang. Angka “224” muncul sebagai simbol yang menggambarkan betapa absurdnya situasi ketika pelaku kejahatan jalanan terlihat lebih jujur dibanding mereka yang berlindung di balik jabatan dan kekuasaan.
Di sisi lain, album ini juga mengarahkan sorotan kepada masyarakat itu sendiri. Melalui “Stigma” dan “Rosemaya”, NEMMEN berbicara tentang manusia yang perlahan kehilangan orientasi hidup. Obsesi terhadap materi, pencitraan digital, dan kebutuhan untuk terlihat sempurna di media sosial muncul sebagai tema yang terus menghantui kedua lagu tersebut. Dunia maya digambarkan sebagai tempat persembunyian yang nyaman, sementara kehidupan nyata perlahan retak tanpa disadari.
Meski dipenuhi kritik dan kemarahan, ‘Menembus Batas Maksimal’ tidak hanya terfokus pada rasa frustrasi. Di tengah atmosfer yang gelap, NEMMEN menyisipkan gagasan tentang perlawanan dan daya tahan manusia. Lagu “Akal Alam” misalnya, terinspirasi dari pemikiran para pendahulu yang menempatkan akal sehat sebagai senjata untuk menghadapi zaman yang terus berubah. Sementara “Mengacau Balaukan” terdengar seperti seruan terbuka untuk mengguncang tatanan yang dianggap rusak dan tidak lagi berpihak kepada banyak orang.
Semangat tersebut mencapai puncaknya pada lagu utama “Menembus Batas Maksimal”. Trek ini menjadi inti dari keseluruhan album, menggambarkan upaya manusia melampaui batas ketakutan, keraguan, usia, maupun intimidasi yang datang dari luar. Bagi NEMMEN, perjuangan tidak hanya terjadi di jalanan atau ruang publik, tetapi juga berlangsung di dalam diri masing-masing individu.
Album ini juga menghadirkan dua kolaborasi. David dari band Beat The Wall tampil dalam lagu “M.E.N”, sementara Andro Amanusa dari Revival dan Numeron ikut menyumbangkan energi pada “Stigma”. Kehadiran mereka memperkuat nuansa kolektif yang selama ini menjadi salah satu fondasi utama skena hardcore.
Dengan delapan lagu yang saling terhubung, ‘Menembus Batas Maksimal’ hadir sebagai pernyataan tegas dari NEMMEN. Album ini memadukan kemarahan, kritik sosial, refleksi, serta semangat bertahan hidup dalam satu paket yang keras, bising, dan tanpa kompromi. Sebuah debut yang memperlihatkan bahwa Tulungagung masih memiliki banyak amunisi untuk terus menyumbang suara lantang bagi skena musik keras Indonesia.
Support Gigsplay Dengan Saweria