International

Protomartyr Membuka Era ‘Hotel Usona’ Lewat Single “Sounds We Cannot Hear”

Diterbitkan

pada

Protomartyr
Protomartyr (credit: Trevor Naud)

Setelah dua tahun sejak album terakhir mereka, unit post-punk dari Detroit, Protomartyr, akhirnya mengumumkan karya terbaru berjudul ‘Hotel Usona‘. Album ini dijadwalkan rilis pada 25 September melalui Domino dan diperkenalkan dengan single pertama berjudul “Sounds We Cannot Hear“, yang diluncurkan bersamaan dengan video musik resminya.

‘Hotel Usona’ melanjutkan perjalanan kreatif Protomartyr setelah ‘Formal Growth in the Desert’ (2023) dan ‘Ultimate Success Today’ (2020). Formasi band yang terdiri dari Joe Casey (vokal), Greg Ahee (gitar), Alex Leonard (drum), dan Scott Davidson (bass) ini tetap mempertahankan karakter post-punk yang menjadi identitas mereka, sambil membuka ruang untuk eksplorasi yang lebih luas.

Proses rekaman dilakukan di Tarbox Road Studios, di bagian barat New York, bersama produser Dave Fridmann, yang dikenal melalui kolaborasinya dengan Mercury Rev, MGMT, dan The Flaming Lips. Sentuhan Fridmann memberikan dimensi baru pada materi yang disiapkan Protomartyr, tanpa menghilangkan atmosfer muram yang telah lama menjadi ciri khas band ini.

Sebagai pembuka album, “Sounds We Cannot Hear” langsung memberikan gambaran mengenai arah yang diambil oleh ‘Hotel Usona’. Lagu ini dipadukan dengan video musik yang dibintangi oleh Nate Varrone, aktor yang dikenal melalui serial “The Bear” dan proyek “Maddie’s Secret”. Visualnya menampilkan nuansa ganjil dan penuh simbol, selaras dengan karakter musik Protomartyr yang sering kali menyisakan ruang untuk berbagai penafsiran.

Perilisan ‘Hotel Usona’ juga menarik perhatian dari salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah musik rock, Iggy Pop. Musisi legendaris asal Detroit itu menyampaikan pandangannya mengenai album baru Protomartyr dalam sebuah pernyataan resmi.

Protomartyr photo by Zak Bratto

Menurut Iggy Pop, Protomartyr adalah band yang selalu berusaha mencari makna lebih dalam daripada hanya menjalani rutinitas sehari-hari. Ia melihat keempat anggota band ini sebagai musisi berbakat yang mampu menciptakan karya yang penuh ide dan tetap relevan.

Ia menggambarkan ‘Hotel Usona’ sebagai album yang memiliki jangkauan luas dan terasa sinematik. Menurut Iggy Pop, rekaman ini sulit dibandingkan dengan karya lain karena memiliki karakter yang sangat unik. Ia bahkan menyebut atmosfernya mengingatkan pada opera “Tristan und Isolde” karya Richard Wagner, lengkap dengan perubahan harmoni yang dramatis dan nuansa megah yang terus berkembang sepanjang album.

Iggy Pop juga menyoroti vokal Joe Casey. Menurutnya, suara Casey memiliki karakter yang kuat dan menyenangkan untuk diikuti, tetapi tetap menyimpan sisi liar yang membuat setiap lagu terdengar hidup. Perubahan ekspresi vokalnya, mulai dari tenang hingga meledak-ledak, dianggap menjadi salah satu kekuatan utama Protomartyr.

Salah satu momen yang paling menarik perhatian Iggy Pop muncul dalam salah satu lagu ketika Joe Casey mengucapkan kalimat sederhana, “We got a bad review“. Kalimat itu kemudian diikuti ledakan permainan seluruh personel band. Bagi Iggy Pop, bagian tersebut terasa sangat relevan dengan kehidupan saat ini ketika hampir semua profesi hidup di bawah penilaian publik. Ia menyebut siapa pun, mulai dari tukang ledeng, penjual sepatu, hingga kreator konten media sosial, kini tidak lepas dari ulasan dan penilaian orang lain.

Meski telah mengikuti perjalanan Protomartyr selama bertahun-tahun, Iggy Pop menilai band tersebut berkembang dengan cara yang tidak terburu-buru. Basis pendengar mereka terus bertambah secara perlahan, begitu juga dengan penghargaan yang datang dari berbagai kalangan. Ia melihat perjalanan Protomartyr sebagai contoh bagaimana kualitas sebuah karya dapat bertahan dan secara bertahap menemukan tempatnya sendiri.

Penilaian tersebut juga didukung oleh kemampuan musikal keempat personelnya. Menurut Iggy Pop, Protomartyr mampu berpindah ritme dan harmoni dengan sangat mulus tanpa terdengar dipaksakan. Baginya, kemampuan semacam itu hanya dimiliki kelompok musik yang benar-benar memahami cara menyusun komposisi secara matang.

YouTube Video
Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

âś… KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *