Articles

Ketika Anak Muda Kembali Memutar Piringan Hitam: Bagaimana Musik Analog Menolak Punah Di Era Streaming

Diterbitkan

pada

Penjualan rilisan piringan hitam di Indonesia
Toko rilisan fisik (credit: Nada)

Sore itu di basement Blok M Plaza, deretan kios kaset dan piringan hitam berjejer rapi, dipadati pengunjung yang usianya jauh lebih muda dari format musik yang mereka buru. Pemandangan ini terasa ironis sekaligus menggelitik: di saat 212,9 juta orang Indonesia mengakses musik lewat layanan streaming, justru piringan hitam, kaset pita, dan CD, teknologi yang sempat dianggap usang, kembali jadi rebutan.

Fenomena ini bukan hanya romantisme sesaat. Selama setahun terakhir, dari 2025 hingga 2026, geliat pasar musik fisik di Indonesia menunjukkan pola yang konsisten: toko-toko independen melaporkan kenaikan pembeli muda, event tahunan seperti Record Store Day terus membesar, dan marketplace online seperti Tokopedia dan Shopee kini punya kategori khusus untuk vinyl dan kaset.

Tahun ini saja, Record Store Day Indonesia mencatatkan 52 rilisan lokal eksklusif, sementara edisi Yogyakarta menghadirkan 71 lapak record store dari kota-kota seperti Semarang, Magelang, Klaten, Jakarta, Surabaya, hingga Kuala Lumpur.

Record Store Day Yogyakarta 2025

Record Store Day Yogyakarta 2025 (credit: Urakan Magz)

Bukan Nostalgia, Tapi Identitas

Jika generasi sebelumnya membeli kaset karena itu satu-satunya cara mendengar musik, generasi sekarang membelinya karena alasan yang berbeda sama sekali. Bagi anak muda hari ini, kaset, vinyl, dan CD bukan lagi sekadar media putar, melainkan simbol identitas dan gaya hidup, penanda selera yang tak bisa direpresentasikan lewat ikon aplikasi streaming di layar ponsel.

Preferensinya pun spesifik: mereka mencari rilisan dengan karakter mentah dan otentik, menjauhi versi remaster yang sudah dipoles habis oleh produksi digital modern. Ini menjelaskan mengapa rilisan Indonesia era 70-80an kini dilirik bukan cuma sebagai barang lawas, tapi aset koleksi yang nilainya terus merangkak naik.

Riset dari Vinyl Alliance mengonfirmasi pola ini secara global, termasuk Indonesia: 76 persen Gen Z membeli vinyl setidaknya sebulan sekali, dan 29 persen di antaranya menyebut diri sebagai kolektor serius. Angka ini menegaskan bahwa musik fisik telah bergeser dari kebutuhan menjadi gaya hidup yang disengaja.

Fandom sebagai Bahan Bakar

Selain identitas personal, mesin utama lain di balik lonjakan ini adalah fanbase. Di toko-toko online maupun offline, rilisan edisi terbatas dari Pamungkas hingga kaset BTS laris diburu. Musik, dalam konteks ini, tak lagi cukup didengar, tapi harus dimiliki, dipajang, dan dirasakan secara fisik.

Faktor sosial juga tak kalah penting. Pembeli fisik cenderung memilih pengalaman berbelanja langsung: bisa melihat kondisi barang, mengobrol dengan penjual, bertukar referensi musik, sampai mencari info event komunitas. Ritual semacam ini adalah sesuatu yang tak bisa ditiru oleh algoritma rekomendasi platform streaming manapun.

Siapa yang Berburu Piringan Hitam?

Dari sisi demografi, pasar ini didominasi Gen Z, rentang usia belasan akhir hingga dua puluhan, tapi kolektor lama berusia 40 hingga 50 tahun yang tumbuh bersama kaset dan vinyl asli tetap menjadi pemain aktif. Yang menarik, motivasi keduanya berbeda: generasi muda mengejar estetika dan merchandise artis kesayangan, sementara generasi lebih senior mengejar nostalgia dan kelengkapan koleksi.

Soal gender, data resmi yang memecah pasar Indonesia secara spesifik masih minim. Dari pengamatan komunitas di lapangan, basis pembeli relatif berimbang, dengan kolektor “serius” atau audiophile sedikit lebih didominasi laki-laki, sementara pembeli vinyl untuk dekorasi atau estetika ruang jauh lebih beragam.

Uang yang Berputar di Balik Rak Kayu

Toko rilisan fisik kaset piringan hitam dan cd

Toko rilisan fisik kaset, piringan hitam dan cd (credit: Blok M Square)

Skala bisnisnya, meski terlihat niche, ternyata tidak kecil-kecil amat. Salah satu penjual di Jakarta melaporkan omzet sekitar Rp 100 juta per bulan untuk toko yang sudah mapan dan mengandalkan penjualan tatap muka, sementara toko kaset skala lebih kecil membukukan keuntungan kotor sekitar Rp 7 juta per bulan.

Belum ada lembaga riset resmi yang memetakan nilai total pasar musik fisik Indonesia secara agregat, sebagian besar transaksi berjalan semi-informal lewat toko independen, pasar loak, dan marketplace online. Tetapi sebagai pembanding skala, penjualan vinyl di Amerika Serikat menembus 1,04 miliar dolar AS pada 2025, naik hampir 10 persen dari tahun sebelumnya, sementara pendapatan musik rekaman global tumbuh 6,4 persen menjadi 31,7 miliar dolar AS, dengan kawasan berkembang seperti Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika Sub-Sahara mencatat pertumbuhan tercepat di dunia.

Ke Mana Arah Selanjutnya?

Sinyal dari pasar global cukup meyakinkan: pasar vinyl dunia diproyeksikan tumbuh 857,2 juta dolar AS dengan CAGR 9,3 persen antara 2024-2029, dan kawasan Asia-Pasifik diperkirakan menyumbang 33 persen dari pertumbuhan itu. Bagi Indonesia, ini berarti angin yang cukup segar.

Tapi jalan ke depan tak sepenuhnya mulus. Kapasitas produksi vinyl dan kaset lokal masih terbatas, harga bahan baku impor terus naik, dan sebagian besar rilisan masih bergantung pada lisensi dari luar negeri, kondisi yang bisa menahan laju pertumbuhan dibanding negara dengan infrastruktur pabrik fisik yang lebih matang.

Yang jelas, format fisik hari ini tidak sedang bersaing dengan streaming, tapi berjalan berdampingan sebagai produk premium bagi mereka yang ingin memiliki, bukan “sekadar mendengar”. Dan selama ritual berburu rilisan langka di basement Blok M atau lapak Record Store Day masih menarik antrean anak muda, musik analog di Indonesia tampaknya masih punya banyak putaran tersisa.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

âś… KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *