Music News
Soundtrack Ikonis “3 Hari Untuk Selamanya” Dirilis Kembali Dalam Format Vinyl
Hampir dua dekade setelah pertama kali mengiringi perjalanan film ikonis “3 Hari untuk Selamanya”, musik karya Float kembali mendapatkan perhatian baru. Soundtrack yang sangat erat kaitannya dengan film arahan sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana ini akan dirilis ulang dalam format piringan hitam oleh label independen demajors, menghadirkan kembali salah satu kolaborasi paling berkesan antara musik dan film dalam sejarah budaya populer Indonesia.
Ketika “3 Hari untuk Selamanya” ditayangkan pada tahun 2007, film ini tidak hanya mendapatkan tempat istimewa di hati penonton muda, tetapi juga menghadirkan pengalaman berbeda dalam penggunaan musik sebagai elemen penceritaan. Di tengah perjalanan road trip yang dilalui oleh para tokohnya, lagu-lagu Float hadir bukan hanya sebagai pengiring adegan. Musik mereka terasa menyatu dengan suasana pencarian identitas, kegelisahan, kebebasan, dan dinamika emosional yang menjadi inti dari film tersebut.
Hubungan antara Float dan “3 Hari untuk Selamanya” muncul secara tidak terduga. Pada tahun 2005, saat Riri Riza dan Mira Lesmana sedang mempersiapkan produksi film tersebut, mini album Float sampai ke tangan mereka. Musik dan lirik yang ditulis oleh grup asal Jakarta itu langsung menarik perhatian. Ketertarikan ini kemudian berkembang menjadi kerja sama kreatif yang menghasilkan album ‘Music For 3 Hari Untuk Selamanya’.
Bagi sebagian besar penonton, film tersebut menjadi titik awal perkenalan dengan Float. Sebaliknya, bagi para pendengar Float, film itu memperlihatkan bagaimana lagu dapat memperluas makna sebuah cerita visual. Keduanya tumbuh bersama dalam ingatan kolektif generasi yang hidup pada pertengahan 2000-an.
Kini, 19 tahun kemudian, demajors menghadirkan kembali album tersebut dalam format vinyl. Langkah ini tidak hanya ditujukan kepada para kolektor musik fisik, tetapi juga membuka kesempatan bagi generasi yang lebih muda untuk mengenal salah satu karya penting dari era tersebut.
Album ‘Music For 3 Hari Untuk Selamanya’ memuat sejumlah lagu yang hingga kini masih dikenang, seperti “3 Hari Untuk Selamanya”, “Pulang”, “Sementara”, hingga “Stupido Ritmo”. Lagu-lagu tersebut terus menemukan pendengarnya dari waktu ke waktu, bahkan setelah filmnya tidak lagi berada di layar bioskop.

Peluncuran Vinyl ‘Float 3 Hari Untuk Selamanya (Press)
Menurut David Tarigan selaku A&R demajors, soundtrack tersebut memiliki posisi penting dalam sejarah musik independen Indonesia.
“Selain sebagai soundtrack, musik Float telah menjadi bagian dari memori kolektif sebuah generasi. Hadirnya dalam bentuk piringan hitam diharapkan menjadi perpanjangan tangan narasi bagi generasi yang lebih muda,” ujarnya.
Sambutan positif juga datang dari Miles Films, rumah produksi yang didirikan Mira Lesmana dan Riri Riza. Bagi mereka, soundtrack ini merupakan salah satu elemen paling penting yang membentuk identitas film.
Riri Riza mengingat kembali bagaimana musik Float mampu menangkap esensi cerita yang ingin disampaikan dalam film tersebut.
“Float berhasil menangkap semangat kebebasan, pencarian diri, dan kegelisahan zaman yang menjadi jiwa 3 Hari Untuk Selamanya. Musik mereka tidak hanya menemani gambar, tetapi juga memperpanjang pengalaman emosional yang ingin kami sampaikan kepada penonton,” kata Riri.
Senada dengan itu, Mira Lesmana mengungkapkan bahwa kolaborasi antara Float dan “3 Hari Untuk Selamanya” merupakan salah satu pengalaman kreatif yang sangat berkesan.
“Soundtrack 3 Hari Untuk Selamanya adalah salah satu kolaborasi musik dan film yang asik, seru, dan penuh kenangan manis. Kami senang musik yang begitu melekat dengan film ini kini dapat kembali dinikmati dalam format piringan hitam, dan berharap karya tersebut dapat terus menemukan pendengar dan penikmat baru,” ujarnya.
Saat mengerjakan album tersebut, Float diperkuat oleh Hotma Roni Simamora atau Meng sebagai vokalis sekaligus gitaris dan komposer, W. Benyamin atau Bontel pada gitar dan sound design, serta Reymond Agus Saputra atau Remon pada bass. Mereka juga mendapat dukungan sejumlah musisi seperti Wesley Jeremia, Yossie Adytiawarman, Hengky Alexander, Gatut Santoso, Hendricus Wisnugroho, Riza Arshad, hingga Leony Aurora.

Peluncuran Vinyl ‘Float 3 Hari Untuk Selamanya’ (Press)
Bagi Meng, perjalanan album ini dipenuhi dengan berbagai kebetulan yang terasa seperti keberuntungan yang terus menerus datang. Bahkan sebelum proyek soundtrack ini selesai, Float sebenarnya sudah tidak aktif lagi sebagai band.
“Nasib baik nempel terus di album ini. Float udah bubar sebelum akhirnya Mbak Mira ngumpulin gue, Bontel, dan Remon lagi untuk menuhin janji kami ngerjain album ini. Bisa aja, Mbak Mira cari dan dapetin band lain untuk gantiin Float yang waktu itu masih jadi anak bawang di skena musik Indonesia. Kami beruntung, Mbak Mira sengotot itu,” kenangnya.
Album ini kemudian meraih sejumlah penghargaan bergengsi, termasuk Abhinaya Trophy untuk kategori “Soundtrack Terbaik” di Jakarta Film Festival dan “Best Theme Song” pada MTV Indonesia Movie Awards 2007.
Meski demikian, Meng mengaku dirinya sempat merasa terbebani oleh predikat tersebut. Menurutnya, proses pengerjaan album ini berbeda dari konsep soundtrack film pada umumnya karena sebagian besar materi sudah ada sebelum film diproduksi.
“Buat gue pribadi, untuk dapetin predikat sebagai album soundtrack terbaik waktu itu, jadi beban yang lumayan berat. Karena kami bertiga tidak benar-benar mulai dari nol. Hanya lagu ‘3 Hari Untuk Selamanya’ yang dibuat khusus untuk film itu, dan itu pun hasil adaptasi dari materi lama yang sudah ada sebelumnya,” ujarnya.
Kehadiran kembali ‘Music For 3 Hari Untuk Selamanya’ dalam format vinyl menjadi pengingat bahwa karya-karya tertentu tidak berakhir ketika sebuah era selesai. Musik Float dan film “3 Hari’ untuk Selamanya” masih terus relevan di kalangan generasi baru yang mungkin belum pernah melihat film tersebut saat pertama kali dirilis.
Album vinyl ‘Music For 3 Hari Untuk Selamanya’ dapat dipesan melalui sistem pre-order di situs resmi demajors mulai 26 Juni 2026 pukul 10.00 WIB hingga 6 Juli 2026 pukul 23.59 WIB.
Bagi para pencinta musik Indonesia, rilisan ini bukan hanya koleksi fisik, melainkan potongan sejarah yang merekam salah satu pertemuan paling berkesan antara layar lebar dan musik independen tanah air.
Support Gigsplay Dengan Saweria
