Music News

Shaggydog Rayakan 29 Tahun, Merawat Akar Sayidan Lewat “BE29AS” Dan Video Musik “Lodse”

Profile photo ofamelia

Diterbitkan

pada

Shaggydog Rayakan 29 Tahun
Shaggydog, Rebellion Rose dan The Glad (credit: Jeffry)

Shaggydog memasuki usia 29 tahun dengan napas yang masih terasa stabil di tengah perubahan lanskap musik yang terus bergerak. Band asal Sayidan, Yogyakarta, ini lahir pada 1 Juni 1997 dan sejak awal tumbuh dari lingkungan kampung di tengah kota yang lekat dengan interaksi sosial dan kultur komunitas. Tiga dekade hampir terlewati, tapi perjalanan mereka justru terasa seperti rangkaian proses yang terus dirawat, bukan hanya dirayakan.

Di usia ini, Shaggydog mengusung tema “BE29AS” sebagai simbol perayaan. Istilah ini dipadukan dengan slogan “Sehat, BE29AS, Waras”, yang mencerminkan filosofi kehidupan mereka sebagai musisi yang berinteraksi dengan komunitas. Menurut Heruwa, istilah “bergas” menggambarkan kondisi fisik yang kuat dan penuh semangat. Dalam konteks band, ini juga berarti ketahanan untuk tetap aktif tanpa kehilangan arah di tengah perubahan cepat dalam industri musik.

Formasi Shaggydog menjadi salah satu aspek yang tidak mengalami perubahan sejak awal berdiri. Enam personel utama, yaitu Heruwa, Richad, Raymond, Bandizt, Lilik, dan Yoyok, tetap bertahan dalam susunan yang sama sejak pertama kali terbentuk. Konsistensi ini menjadi dasar yang menjaga identitas band tetap utuh meskipun perjalanan karier mereka telah melewati berbagai era musik Indonesia, dari era kaset, CD, hingga dominasi platform digital.

Di sisi lain, konsep “waras” yang mereka angkat tidak hanya dipahami sebagai kesehatan mental dalam arti umum, tetapi juga sebagai kemampuan untuk menjaga kejernihan berpikir dalam menghadapi dinamika hidup dan pekerjaan. Heruwa menyebut bahwa dalam budaya Jawa, ada nilai “dene utamane manungso iku kudu bergas ing raga lan titi ing rasa”, yang menekankan keseimbangan antara fisik yang kuat dan kepekaan rasa. Prinsip ini menjadi semacam pegangan yang mereka bawa dalam menjaga kreativitas tetap hidup tanpa kehilangan pijakan.

Band Shaggydog Yogyakarta

Perayaan menuju 30 tahun perjalanan Shaggydog tidak hanya berlangsung dalam bentuk seremoni, tetapi juga diwujudkan melalui kegiatan yang lebih intim dan membumi. Mereka menggelar acara bertajuk “BE29AS BERSAMA MILLI” di Sayidan, lokasi yang juga menjadi titik awal perjalanan band ini. Di acara tersebut, suasana dibuat lebih santai dengan berbagai aktivitas seperti bar take over, live sablon bertema BE29AS, hingga pertunjukan musik bersama sejumlah nama seperti Ras Muhamad, Uncle T, Bacill, dan DJ Paws.

Perayaan ini berlangsung di Milli Sayidan, sebuah ruang yang juga menjadi bagian dari ekosistem komunitas musik di Yogyakarta. Kehadiran tempat ini memberi konteks tambahan bahwa Shaggydog masih menjaga hubungan erat dengan ruang tumbuh mereka, bukan hanya tampil sebagai band yang sudah lama eksis, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan yang terus hidup bersama para pelakunya.

Di tengah rangkaian perayaan tersebut, Shaggydog juga merilis video musik untuk lagu “Lodse”, yang sebelumnya sudah diperkenalkan sebagai single kolaborasi bersama Rebellion Rose dan The Glad pada 26 Desember 2025. Lagu ini berkembang di skena musik Yogyakarta sebagai semacam anthem kebersamaan antar musisi lintas generasi.

Video musik “Lodse” disutradarai oleh Bagus Tikus, yang sebelumnya juga pernah bekerja sama dengan Shaggydog dalam beberapa proyek visual seperti “Mudik” dan versi keroncong dari “Di Sayidan”. Keterlibatan Bagus Tikus memberikan kontinuitas visual yang tetap berakar pada pendekatan dokumentatif, tapi dikemas dengan narasi yang lebih terstruktur.

BTS Video Musik Lodse

Proses pengambilan gambar dilakukan dengan cepat, hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, dengan lokasi utama di Milli Sayidan dan beberapa titik di kota Yogyakarta. Video ini menampilkan perjalanan Heruwa yang menjemput Fyan dari Rebellion Rose serta dua personel The Glad, Hasbi dan Hendi, menggunakan mobil tua yang menjadi salah satu elemen visual yang cukup kuat dalam alur cerita.

Sepanjang perjalanan, kamera merekam berbagai momen kehidupan sehari-hari di kota, mulai dari interaksi antar warga hingga suasana jalanan yang mencerminkan ritme hidup Jogja. Saat tiba di Milli Sayidan, para musisi dari Shaggydog, Rebellion Rose, dan The Glad berkumpul dan bercengkerama, sebelum akhirnya memasuki ruang pertunjukan dengan pencahayaan temaram yang menciptakan suasana lebih intim.

Dalam pernyataannya, Bagus Tikus menjelaskan bahwa “Lodse” dalam konteks ini tidak hanya dipahami sebagai istilah yang sering diasosiasikan dengan konsumsi alkohol, tetapi sebagai bahasa persahabatan yang hidup dalam subkultur musik Yogyakarta. Video ini berusaha menangkap bagaimana pertemuan antar musisi dari berbagai generasi dapat terjadi tanpa batasan genre atau latar belakang.

Shaggydog tampil sebagai penghubung dalam narasi ini, menunjukkan posisi mereka sebagai band yang tidak hanya bertahan lama, tetapi juga tetap membuka ruang kolaborasi dengan generasi yang lebih muda. Di atas panggung dalam video, ketiga band tampil bersama membawakan “Lodse” dengan energi yang sama, menutup rangkaian visual dengan suasana yang padat dan tetap mengalir santai.

Video musik “Lodse” kini sudah dapat disaksikan melalui kanal YouTube Shaggydog di TheDoggyTV.

YouTube Video
Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *