Music Business

Pelabelan Musik AI Masuki Tahap Baru, DiMA, Deezer, Dan Suno Angkat Suara

Diterbitkan

pada

Pelabelan Musik AI

Perdebatan tentang transparansi penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam industri musik semakin hangat. Setelah beberapa organisasi di industri musik meluncurkan sistem pelabelan baru untuk membedakan antara lagu yang sepenuhnya dibuat oleh AI dan yang hanya menggunakan AI sebagai alat bantu, berbagai pihak mulai memberikan tanggapan. Respons ini menunjukkan bahwa industri belum sepenuhnya sepakat tentang bagaimana standar ini akan diterapkan.

Salah satu suara yang paling diperhatikan datang dari Digital Media Association (DiMA), organisasi yang mewakili sejumlah layanan streaming musik besar. Dalam pernyataannya, DiMA menekankan bahwa keberhasilan sistem pelabelan AI sangat bergantung pada kualitas metadata yang disediakan oleh pemilik hak cipta dan distributor musik.

Menurut DiMA, selama ini mereka terus mendorong para kreator, pemegang hak, serta distributor untuk menyediakan metadata yang akurat dan dikirim tepat waktu setiap kali karya dirilis ke platform streaming. Organisasi ini juga mengungkapkan bahwa mereka sedang memantau perkembangan inisiatif pelabelan AI dan berharap informasi metadata yang lebih rinci dapat segera tersedia.

Bagi platform streaming, metadata bukan hanya informasi tambahan. Data ini menjadi dasar untuk mengidentifikasi asal-usul sebuah lagu, proses produksinya, dan memberikan informasi yang jelas kepada pendengar. Dalam konteks AI generatif, metadata dianggap sebagai kunci agar publik dapat mengetahui apakah sebuah lagu sepenuhnya dihasilkan oleh mesin atau melibatkan sentuhan kreatif manusia.

DiMA juga secara khusus menyinggung DDEX, organisasi internasional yang mengembangkan standar pertukaran data digital di industri musik. Nama DDEX memang tidak tercantum dalam pengumuman pelabelan AI, lembaga ini sebenarnya telah lebih dulu mengembangkan standar serupa bersama Spotify. Kolaborasi ini diumumkan pada September tahun lalu sebagai bagian dari upaya untuk membangun sistem identifikasi karya berbasis AI yang dapat diterapkan secara luas.

AI Credits Information

Munculnya dua inisiatif yang berjalan terpisah menimbulkan pertanyaan baru. Apakah industri akan mengadopsi satu standar global, atau justru akan berkembang menjadi beberapa sistem yang berbeda? Banyak pihak melihat peluang untuk menyatukan kedua inisiatif tersebut, asalkan organisasi industri, pemegang hak cipta, dan platform streaming dapat mencapai kesepakatan mengenai format dan mekanisme pelaksanaannya.

Di sisi lain, perusahaan teknologi AI Suno juga memberikan tanggapan. Platform yang dikenal sebagai salah satu pengembang teknologi pencipta musik berbasis AI ini menilai bahwa pembahasan mengenai pelabelan AI tidak semudah memberi label pada sebuah lagu.

Juru bicara Suno menyebut bahwa persoalan ini memerlukan solusi yang dipikirkan dengan matang. Mereka mengaku terus berdiskusi dengan musisi, pemegang hak cipta, dan platform distribusi digital untuk mencari sistem yang dapat melindungi kepentingan para kreator sekaligus memberikan ruang bagi inovasi berbasis AI.

Suno juga mengungkapkan bahwa mereka sedang berinvestasi dalam berbagai teknologi pendukung transparansi, termasuk watermark digital, audio fingerprinting, dan alat lain yang memungkinkan musisi untuk mengungkapkan apakah AI digunakan dalam proses penciptaan lagu.

Meski demikian, Suno juga menyampaikan pandangan yang sedikit berbeda dari organisasi industri musik. Menurut mereka, keputusan mengenai cara pelabelan AI sebaiknya berada di tangan para seniman dan platform distribusi, bukan hanya ditentukan oleh lembaga industri secara sepihak. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan pengembang AI ingin terlibat langsung dalam penyusunan aturan, bukan sekadar mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan.

Sementara itu, layanan streaming Deezer memberikan respons yang lebih positif terhadap usulan pelabelan tersebut. Perusahaan asal Prancis itu menyebut langkah menuju standar bersama sebagai perkembangan yang menggembirakan dan menyatakan kesiapan mereka untuk mendukung penyusunan kerangka kerja yang dapat diterapkan di seluruh industri musik.

Perbedaan sikap dari berbagai pihak menunjukkan bahwa diskusi mengenai AI dalam musik telah memasuki tahap yang lebih kompleks. Perdebatan kini bukan lagi soal boleh atau tidaknya AI digunakan untuk menciptakan lagu, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat diintegrasikan secara transparan tanpa mengaburkan peran kreator manusia.

Bagi industri musik, pelabelan AI bukan hanya persoalan teknis. Sistem ini juga menyangkut kepercayaan pendengar, perlindungan hak cipta, serta bagaimana karya musik akan dipahami di masa depan. Selama platform streaming, perusahaan AI, organisasi industri, dan pemegang hak cipta masih membuka ruang dialog, peluang untuk menghadirkan satu standar yang diterima bersama tetap terbuka.

Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh pihak memiliki peran yang seimbang dalam menentukan masa depan musik di era kecerdasan buatan.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *