Music News
Spotify Mulai Tampilkan Label “AI Credits” Untuk Transparansi Proses Kreatif
Platform streaming Spotify mulai menguji fitur baru yang membuka informasi soal penggunaan kecerdasan buatan dalam proses pembuatan lagu. Fitur bertajuk “AI Credits” ini masih berada dalam tahap beta dan hanya akan muncul apabila artis atau pihak terkait secara sukarela mencantumkannya dalam kredit lagu.
Dalam pembaruan di halaman dukungan resminya, Spotify menjelaskan bahwa label ini akan ditampilkan di bagian Song Credits pada aplikasi mobile. Pendengar dapat melihat seberapa besar peran AI dalam sebuah karya, mulai dari penulisan lirik, vokal, instrumen, hingga produksi. Namun, Spotify menegaskan bahwa keberadaan AI Credits tidak berarti seluruh lagu diciptakan oleh AI, melainkan hanya menunjukkan kontribusi tertentu dalam proses kreatif.
Pengujian fitur ini muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap maraknya konten berbasis AI di layanan streaming. Dalam tahap awal, fitur ini mulai diperkenalkan kepada pengguna distributor seperti DistroKid, yang memungkinkan label dan distributor untuk mengirimkan informasi terkait penggunaan AI agar ditampilkan di platform.
Langkah ini sejalan dengan upaya Spotify untuk mendorong standar transparansi dalam industri. Sejak 2025, perusahaan ini telah terlibat dalam pengembangan sistem pelabelan AI bersama organisasi DDEX dan mitra distribusi lainnya seperti CD Baby, Believe, dan EMPIRE.
Di sisi lain, pendekatan serupa juga mulai diterapkan oleh kompetitor. Apple Music telah lebih dulu memperkenalkan fitur “Transparency Tags” pada Maret lalu. Sistem ini dirancang untuk memberi tanda pada lagu yang menggunakan AI dalam porsi signifikan, baik dalam rekaman suara maupun penulisan lirik. Meski begitu, penerapannya masih bergantung pada laporan dari label dan distributor, serupa dengan kebijakan Spotify saat ini.
Berbeda dengan dua platform lainnya, Deezer memilih pendekatan yang lebih otomatis. Mereka telah mengembangkan alat deteksi internal yang dapat mengenali lagu-lagu yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Saat ini, sistem tersebut diklaim mampu menemukan sekitar 75 ribu lagu berbasis AI yang diunggah setiap harinya, atau lebih dari dua juta trek setiap bulannya.
Spotify sendiri mengakui bahwa sistem yang bergantung pada pelaporan sukarela ini belum sepenuhnya komprehensif. Ketidakadaan label AI tidak berarti bahwa teknologi tersebut tidak digunakan dalam sebuah lagu. Namun, perusahaan melihat langkah ini sebagai awal untuk membangun transparansi yang lebih baik.
Dalam pernyataannya, Spotify menyatakan bahwa tujuan utama saat ini adalah memberikan ruang bagi kreator yang menggunakan AI secara kreatif untuk berbagi proses mereka dengan pendengar. Ke depan, sistem ini akan terus dikembangkan seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan standar yang lebih seragam di seluruh industri musik digital.
Upaya ini juga berkaitan dengan langkah Spotify sebelumnya dalam membersihkan ekosistem platform. Sepanjang tahun lalu, mereka telah menghapus lebih dari 75 juta konten yang dianggap spam, termasuk materi yang diduga memanfaatkan sistem secara tidak wajar.
Dengan perkembangan ini, perdebatan seputar peran AI dalam musik tampaknya akan terus berlanjut. Di satu sisi, teknologi membuka kemungkinan baru dalam proses kreatif. Di sisi lain, transparansi dan akuntabilitas menjadi isu yang tidak bisa dihindari, terutama ketika menyangkut hak cipta, distribusi royalti, dan kepercayaan pendengar.
Support Gigsplay Dengan Saweria