New Tracks
Monogrit Kembali Dengan “REMEDY”, Sebuah Potret Jiwa Yang Dihantam Realita
Bandung kembali melahirkan nama baru yang layak mendapat perhatian di ranah musik keras nasional. Setelah lebih dulu dikenal sebagai kota yang melahirkan banyak band lintas generasi dan lintas genre, kini giliran Monogrit yang mulai mempertegas eksistensinya lewat perilisan single terbaru bertajuk “REMEDY”. Lagu tersebut resmi dirilis pada 6 Juni 2026 melalui Eastneptune dan menjadi karya kedua mereka setelah debut “HOLLOW” yang diperkenalkan pada penghujung 2024.
Jika “HOLLOW” memperlihatkan fondasi karakter Monogrit yang agresif, “REMEDY” hadir dengan arah yang lebih personal. Unit modern metalcore yang diperkuat Tedi (vokal), Adhie dan Abiem (gitar), Bayu (bass), serta Ucun (drum) ini mengajak pendengar menyelami ruang yang lebih dalam, yaitu pergulatan batin manusia saat berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Monogrit terbentuk pada 2023 dari inisiatif Bayu, Adhie, dan Abiem. Ketiganya kemudian menyempurnakan formasi dengan bergabungnya Tedi sebagai vokalis pada akhir tahun yang sama, disusul Ucun di posisi drum. Sejak awal, mereka membangun identitas melalui modern metalcore yang memadukan groove, ledakan energi, dan nuansa emosional yang kuat.
Karakter tersebut masih terasa jelas dalam “REMEDY”. Distorsi gitar yang tebal, ritme yang menghentak, dan chorus yang mudah diingat tetap menjadi fondasi utama lagu ini. Tapi Monogrit menambahkan dimensi baru dengan sentuhan paduan suara bernuansa sakral yang memberikan atmosfer lebih dramatis.
Melalui lirik seperti “Biarkan lara mereda”, “Meninggalkan diri yang tak berdaya”, “Terang cahaya menyapa”, dan “Berserah selamanya”, Monogrit menyampaikan kisah tentang seseorang yang perlahan kehilangan kendali atas hidupnya. Kemarahan, kelelahan, rasa kecewa, dan ketidakberdayaan hadir silih berganti hingga akhirnya bermuara pada penerimaan.
Tema tersebut lahir dari pengamatan terhadap kondisi manusia yang sering kali harus berhadapan dengan realitas yang tidak dapat diubah. Ada masa ketika seseorang berusaha melawan keadaan, tapi pada akhirnya harus menerima bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Dalam ruang itulah “REMEDY” menemukan maknanya.
Lagu ini lebih menyerupai cermin yang memantulkan berbagai lapisan emosi yang sering disembunyikan. Monogrit mengajak pendengar untuk mengakui keberadaan luka, kemarahan, dan rasa lelah sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Di sisi lain, perjalanan Monogrit terbilang menarik. Setelah memperkenalkan “HOLLOW” pada Oktober 2024, mereka memperoleh perhatian cukup besar di skena metal dan hardcore lokal. Lagu debut tersebut memperlihatkan perpaduan modern metalcore dengan pengaruh nu metal, rock, dan post-rock, sambil mengangkat tema mengenai rasa sakit, harapan, keputusasaan, dan konflik emosional manusia.
Momentum itu semakin menguat ketika mereka dipercaya menjadi salah satu band pembuka dalam rangkaian tur Saosin di Indonesia pada 2025. Kesempatan tampil dalam perayaan satu dekade Hammersonic Festival tersebut membawa nama Monogrit ke hadapan audiens yang lebih luas, termasuk di Bandung, Jakarta, Surabaya, Solo, dan Medan.
Pengalaman tampil di panggung besar tampaknya sangat berpengaruh pada kepercayaan diri mereka dalam menciptakan materi baru. Lagu “REMEDY” terdengar lebih matang, baik dari segi komposisi maupun penyampaian pesan. Monogrit tidak hanya mengandalkan breakdown atau ledakan energi, tetapi juga memberikan ruang bagi dinamika dan emosi untuk berkembang dengan cara yang alami.
“REMEDY” terasa seperti gerbang menuju semesta yang sedang dibangun Monogrit untuk karya-karya berikutnya. Lagu ini memperlihatkan ketertarikan mereka terhadap tema-tema yang lebih personal, sekaligus memperkuat posisi mereka sebagai salah satu nama muda yang patut diperhitungkan di skena modern metalcore Indonesia.

