New Tracks

“Dipajak!”, Kolaborasi Terakhir Heruwa Dan Ole

“Dipajak!” menjadi kolaborasi terakhir Heruwa dan Ole, mengangkat dinamika pajak dalam lirik jenaka yang tetap menyimpan refleksi sosial.

Diterbitkan

pada

Heruwa dan Ole
Heruwa dan Ole (credit: @gas.id)

Dinamika kebijakan ekonomi dan perbincangan mengenai perpajakan yang terus bergulir di ruang publik rupanya turut memantik lahirnya karya baru dari vokalis Shaggydog, Heru Wahyono atau Heruwa. Bersama musisi Ole, yang kini telah berpulang, ia merilis single kolaborasi bertajuk “Dipajak!”, sebuah lagu yang mengangkat isu perpajakan melalui sudut pandang yang satir, jenaka, sekaligus lekat dengan realitas keseharian.

Dirilis melalui DoggyHouse Records pada 20 Juni 2026, “Dipajak!” hadir bersamaan dengan tenggat waktu pelaporan SPT Masa Pajak Penghasilan. Pemilihan waktu ini bukanlah kebetulan. Lagu ini memang diciptakan sebagai respons terhadap berbagai perdebatan publik mengenai kebijakan fiskal yang sepanjang tahun lalu ramai dibahas, baik di media massa maupun media sosial.

Gagasan awal “Dipajak!” muncul dari obrolan panjang yang sering berlangsung hingga larut malam. Heruwa, Ole, dan beberapa teman mereka saling bertukar pandangan tentang berbagai isu sosial, termasuk kebijakan yang dianggap mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan masyarakat. Dari percakapan santai tersebut, mereka menemukan banyak ironi yang layak diabadikan dalam sebuah karya musik.

Kalimat “Di mana bumi dipijak, di situ kita dipajak” kemudian dipilih sebagai tema utama lagu ini. Permainan kata ini menjadi sindiran yang ringan, tetapi cukup tajam untuk menggambarkan bagaimana pajak telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan modern.

Heruwa tidak menganggap lagu ini sebagai bentuk penolakan terhadap pajak. Sebaliknya, ia melihat fenomena ini sebagai bahan refleksi yang menarik untuk diceritakan melalui musik.

Membayar pajak adalah bagian dari komitmen kita bersama untuk membangun bangsa dan menjalankan roda peradaban. Namun, sebagai seniman, kami juga melihat bagaimana dinamika diskusi di masyarakat sangat menarik untuk diabadikan ke dalam sebuah karya musik. Lagu ini adalah potret kemanusiaan tentang bagaimana kita semua bersama-sama beradaptasi,” ujar Heruwa.

Musisi Heruwa bersama Ole di Single Dipajak!

Pilihan tersebut membuat “Dipajak!” terasa lebih mengalir dibandingkan lagu-lagu bertema kritik sosial yang biasanya lebih keras. Kritik disampaikan dengan cara yang tidak menggurui. Humor hadir tanpa mengorbankan substansi. Pendengar diajak untuk tersenyum, tetapi tetap menyadari bahwa lirik-liriknya berasal dari kenyataan yang mereka hadapi setiap hari.

Karakter musikalnya pun mengikuti semangat tersebut. Unsur funk menjadi dasar utama yang kemudian diperkaya dengan sentuhan soul dan energi rock. Bagian brass memberikan dorongan ritmis yang hidup, membuat lagu ini terdengar lincah dan mengundang pendengar untuk ikut bergoyang. Perpaduan ini terasa selaras dengan gaya Heruwa yang dikenal mampu mengemas tema sosial dalam bentuk yang ringan dan mudah dicerna.

Dalam proses produksinya, Heruwa melibatkan sejumlah musisi yang telah lama berada di lingkaran kreatifnya. Dino “Kimpling” dari Hennessey mengisi bagian gitar, Henry dari Morning Horny memainkan bass, sementara Anggri “Simbah” dipercaya untuk mengisi drum.

Warna brass dihasilkan dari permainan Angga dan Herbin yang dikenal melalui The Brass Dawgz serta Shaggydog. Ferry Kurniawan mengisi bagian hammond dan piano sekaligus menangani proses mixing dan mastering. Seluruh sesi rekaman dilakukan di Milli Sayidan bersama sound engineer Shaggydog, Bagong.

Proses kreatif lagu ini juga menyimpan kisah yang mengharukan. Saat tahap mixing masih berlangsung, Ole meninggal dunia. Kepergiannya memberikan makna yang jauh lebih emosional bagi Heruwa dan orang-orang yang terlibat dalam pembuatannya. Lagu ini bukan hanya menyimpan hasil kolaborasi terakhir mereka, tetapi juga menjadi pengingat akan persahabatan yang terjalin melalui musik dan ruang-ruang diskusi.

Kolaborasi Heruwa dan Ole

Tema perpajakan sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah musik populer. Pada tahun 1966, The Beatles merilis lagu “Taxman”, yang merupakan kritik terhadap tingginya tarif pajak di Inggris. Di Indonesia, Slank juga pernah mengangkat tema serupa dengan lagu “Pajak” pada tahun 1993. Kehadiran lagu “Dipajak!” menunjukkan bahwa isu yang berkaitan dengan hubungan antara warga negara dan kebijakan fiskal terus menjadi sumber inspirasi lintas generasi.

Dalam sejarah peradaban, praktik perpajakan sudah dikenal sejak sekitar 3000 SM pada masa Mesir Kuno. Pada waktu itu, masyarakat menyisihkan hasil panen mereka sebagai kontribusi untuk pembangunan fasilitas umum. Seiring berjalannya waktu, konsep ini terus berkembang mengikuti kebutuhan negara, tetapi satu hal tetap sama: pajak selalu menjadi topik yang memicu perdebatan.

Ungkapan terkenal dari Benjamin Franklin, “Di dunia ini tidak ada yang pasti selain kematian dan pajak”, seolah masih relevan hingga saat ini. Heruwa dan Ole memilih untuk merespons kenyataan ini bukan dengan ceramah atau slogan, melainkan melalui lagu yang mengajak pendengarnya untuk tersenyum sambil merenung.

Di tengah banyaknya karya yang menyampaikan kritik sosial dengan nada penuh amarah, “Dipajak!” menyajikan cara lain. Lagu ini menunjukkan bahwa humor dapat menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan keresahan, bahkan ketika tema yang diangkat terasa rumit. Hasilnya adalah sebuah karya yang ringan saat didengar, tetapi menyimpan cukup banyak lapisan makna bagi siapa pun yang ingin menyimaknya lebih jauh.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *