New Albums
Tarasinta Rilis Trilogi EP “Wanderer”, Dengan Sentuhan Pop Jazz Intim

- Share
- Tweet /srv/users/gigsplayv2/apps/gigsplayv2/public/wp-content/plugins/mvp-social-buttons/mvp-social-buttons.php on line 66
https://gigsplay.com/wp-content/uploads/2025/02/Tarasinta.jpg&description=Tarasinta Rilis Trilogi EP “Wanderer”, Dengan Sentuhan Pop Jazz Intim', 'pinterestShare', 'width=750,height=350'); return false;" title="Pin This Post">
Penyanyi dan penulis lagu asal Magelang, Tarasinta, kembali menghadirkan karya istimewa melalui trilogi Extended Playlist (EP) terbaru bertajuk “Wanderer”. Rilis pada 25 Februari 2025 di seluruh platform musik digital, EP live session ini menyatukan tiga single sebelumnya—“Wandering”, “Summer In France”, dan “Books Of Life”—dalam kemasan baru yang kaya dinamika.
Dengan nuansa pop jazz yang kaya, sentuhan akordeon yang memikat, serta kolaborasi dengan musisi jazz berpengalaman, Tarasinta menciptakan pengalaman mendengarkan yang intim, seolah mengajak penikmat musik untuk merasakan pertunjukan langsung di atas panggung.
Melalui trilogi ini, Tarasinta menceritakan perjalanan emosionalnya sebagai seorang “pengembara” yang melewati berbagai fase kehidupan. “Wandering” menggambarkan kegelisahan dalam pencarian cinta, “Summer In France” merefleksikan kebahagiaan dari solo traveling dan momen bersama orang-orang terdekat, sementara “Books Of Life” menjadi renungan mendalam tentang penemuan jati diri melalui buku dan kontemplasi.
“Setiap lagu adalah fragmen dari kisah saya. Saya ingin pendengar tidak hanya mendengar, tapi merasakan perjalanan itu bersama saya,” ujar Tarasinta dalam pernyataannya.
Proses kreatif EP ini dimulai dengan pengembangan musik terlebih dahulu, sebelum liriknya ditulis. Tarasinta mengaku terinspirasi oleh kenangan masa tinggalnya di Eropa, pengalaman selama pandemi, serta eksplorasi berbagai genre seperti bossa nova, pop Prancis, samba, dan latin.
“Saya menggali emosi dari masa lalu, tapi juga ingin musiknya tetap segar. Kolaborasi dengan musisi hebat membantu mewujudkan nuansa yang hidup,” tambahnya.
Kolaborasi tersebut melibatkan Restha Wirananda (keyboard, music arranger & director), Nanin Wardhani (accordion), Filipus Cahyadi (drum), dan Victor Prabowo (bass). Sentuhan akordeon oleh Nanin Wardhani menjadi salah satu pilar penting yang memperkuat nuansa romantis dan nostalgia, sementara aransemen dinamis dari Restha Wirananda memberikan “nafas baru” pada lagu-lagu yang telah dirilis sebelumnya.
“Kami ingin menciptakan kejutan dalam setiap lagu. Dinamika musik sengaja dibangun untuk membawa pendengar dari satu emosi ke emosi lain, layaknya naik turunnya sebuah pertunjukan langsung,” jelas Tarasinta.
Tarasinta menekankan bahwa trilogi “Wanderer” adalah undangan bagi pendengar untuk merefleksikan perjalanan diri mereka sendiri. Pesan tentang self-love dan self-discovery menjadi benang merah yang ingin ia sampaikan. “Proses jatuh cinta, bepergian, atau bahkan merenung lewat buku adalah cara kita memahami diri. Saya harap musik ini bisa menjadi teman bagi mereka yang sedang dalam fase pencarian,” ungkapnya.
EP ini juga menawarkan pengalaman berbeda melalui live session yang direkam dengan apik. Dibanding versi original, aransemen baru menampilkan dinamika yang lebih kompleks, dengan improvisasi musikal yang spontan.
Tarasinta menyebut pendekatan ini sebagai upaya untuk “menghidupkan kembali” lagu-lagunya. “Live session memberi ruang bagi emosi yang lebih mentah. Ada energi berbeda yang muncul ketika kami bermain bersama di studio, dan saya ingin energi itu sampai ke pendengar,” paparnya.
Selain rilis di platform musik, video musik dari trilogi live session ini akan segera tayang di kanal YouTube resmi Tarasinta. EP “Wanderer” menjadi bukti kedewasaannya sebagai musisi yang tak hanya piawai meramu melodi, tetapi juga menyampaikan kisah personal dengan universal.
Sejak debutnya, Tarasinta terus menghadirkan karya-karya yang kaya akan nuansa bossanova, jazz, pop, dan folk, menjadikannya salah satu nama yang patut diperhitungkan di industri musik Indonesia.
“Saya ingin pendengar merasa terhibur, tapi juga terbawa dalam momen nostalgia mereka sendiri. Musik adalah bahasa yang bisa menyatukan kenangan, harapan, dan impian,” tutup Tarasinta, menyiratkan harapan besar agar “Wanderer” menjadi soundrack bagi perjalanan batin banyak orang.