Connect with us

New Albums

Asta Kiri Mengulas Era Kelam Dan Era Kejayaan Dalam Tiga Bahasa Pada Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka

Dipublikasikan

pada

Asta Kiri

Tahun 2023 menjadi tahun rilisnya Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka, sebuah judul yang memiliki arti terkalahkan dan meninggalkan alamnya Sarpakenaka. Pemilihan judul tersebut tercetus pada tahun 2021 ketika Asta Kiri selesai membaca berita tentang aksi gabungan seniman Yogyakarta yang melarungkan 5 tokoh wayang antagonis (salah satunya adalah Sarpakenaka) di Pantai Parangkusumo. Aksi tersebut merupakan sebuah respon kepada kasus Ratna Sarumpaet tahun 2018 silam.

Sarpakenaka adalah sebuah tokoh wayang yang memiliki sifat sapa sira ingsun (congkak), serakah, dan liar. Sifat buruk yang dimiliki oleh Sarpakenaka menjadi landasan utama dalam pembentukan narasi pada Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka. Dalam perspektif Asta Kiri sejak tahun 2021 hingga 2023 terjadi berbagai kejadian di luar nalar yang disebabkan oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh Sarpakenaka. Mulai dari anak muda di Banyumas yang suka sekali memamerkan kenakalannya pada khalayak umum, seorang ayah yang berhubungan inses dengan anak kandungnya demi sebuah ilmu kesaktian, hingga hiruk pikuk wakil rakyat yang memusingkan.

Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka Sebagai sebuah kesatuan, Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka dibuka dengan sebuah track instrumental berjudul Inangnjero yang berarti tuan rumah untuk diri sendiri. Track tersebut menyisipkan beberapa potongan film Sang Penari sebagai bentuk wujud pengenalan serta pelestarian Lengger yang dibalut dengan alunan jazz milik Yusef Abdul Lateef.

Album dilanjutkan dengan Kawone Era Sumungah yang berarti matinya zaman kebaikan. Track tersebut tercipta ketika satu hari setelah momentum mabuk-mabukan di belakang Hotel Amoris Sokaraja seorang anak mendatangi Asta Kiri dan berkata bahwa dia memiliki sebuah lagu baru. Tanpa tedeng aling-aling ia langsung mengambil handphone milik Asta Kiri, membuka Youtube untuk menunjukkan lagunya, menekan tombol like, dan menuliskan komentar “Dope”.

Track ketiga berjudul Srintil, Inang Bumantara (Pts. 1-3). Track tersebut merupakan sebuah respon terhadap novel Ronggeng Dukuh Paruk milik Ahmad Tohari. Sebagai lanjutan dari Inangnjero, track ini juga merupakan bentuk wujud pengenalan dan pelestarian Lengger yang merupakan kebudayaan yang lahir di jagad Banyumas. Di belakangnya, Dansa Kumbakarna adalah track instrumental yang dibuat ketika membayangkan “Apa yang dilakukan oleh Kumbakarna setelah berhasil membantai lebih dari 8000 pasukan kera setelah tidur panjangnya? Apakah ia sempat berdansa?

Pertanyaan mengenai Kumbakarna dilanjutkan dengan Ngersani. Track tersebut merupakan Skit, jembatan menuju pembahasan tentang kejadian yang terjadi dalam kurun waktu 1 tahun kebelakang. Di dalamnya berisikan ucapan pangapura dan juga eling-eling.

La Mort Adi Adeg merupakan sebuah track kesadaran mengenai segala sesuatu yang sejatinya ditentukan dan dirasakan oleh diri sendiri. Pengidolaan terhadap sesuatu hal yang berlebihan akan mempengaruhi diri sendiri, juga pengambilan sikap untuk membedakan dengan apa yang idola kita lakukan dan hasilkan agar tak ada patah hati terhadap idola kita sendiri. Track tersebut tercipta setelah Asta Kiri melakukan kontemplasi terhadap “La mort de la’auteur. The Death of Author” milik Ronald Barthes dan tulisan milik Aris Setyawan yang berjudul Kill Your Idols.

Track Surpanaka 22 menjadi puncak dalam pembahasan terkait sifat-sifat buruk milik tokoh wayang antagonis bernama Sarpakenaka yang secara tidak langsung dimiliki oleh orang-orang serakah dan perilaku kesewenang-wenangan, seperti yang tersemat dalam lirik beberapa kejadian (yang masih terjadi) baligho-baligho caleg berjanji palsu yang terpampang di jalanan atau perampasan lahan demi keuntungan segelintir orang.

Kubra Marga Portenos merupakan track yang berarti kiamat kecil marga-marga Purwokerto. Di dalamnya berisi respon dan ungkapan bela sungkawa terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di Purwokerto. Di antaranya seorang ayah yang berhubungan inses dengan anak kandungnya, penemuan jasad kakek terbengkalai di Sokanegara, seorang ayah yang mencuri kotak amal masjid bersama anaknya, juga bunuh diri akibat cinta.

Selanjutnya track Lebam Tragedi Pandanwangi yang merupakan sebuah bacaan puisi milik Bambang Set yang memberikan pesan kepada Ahmad Tohari tentang beberapa kejadian yang terjadi masa lampau agar tak terulang Kembali. Track ini merupakan Upaya menyadarkan kepada orang-orang sekitar mengenai apa yang telah terjadi sebagai sebuah pelajaran. Giri Moksa didapuk sebagai track penutup. Selain merupakan penutup, track tersebut berisikan potongan-potongan yang digabungkan dan merupakan teaser untuk album penuh yang akan dirilis setelah Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka.

Tujuan EP Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka dengan total 10 track yang menghadirkan tiga MC yaitu Dracul, HDR, Kaison R Black, dan menghadirkan dua gitaris yaitu Ananta Ajie dari Eternal Desolator, Dimas Wicak dari Jess Kidding, juga menghadirkan salah satu beatsmith hip hop lokal terbaik Jaydawn yang mengisi scratch pada Kubra Marga Portenos, merupakan sebuah upaya perkenalan dari Asta Kiri kepada seluruh penikmat musik di Purwokerto dan sekitarnya. Upaya tersebut dikemas dengan medium yang unik berupa kelokalan dalam bahasa pengantar sekaligus dengan tema-tema yang bisa disebut sangat lokal dan dekat dengan keseharian Asta Kiri.

Proses mixing dan mastering digarap oleh Medusa Records, sebuah studio yang sudah berpengalaman memproses musik dengan berbagai genre, bukan tanpa sebab Asta Kiri memilih Medusa Records untuk memproses EP perdana ini, mungkin bisa jadi senjata Asta Kiri untuk menembus pasar dan panggung yang lebih beragam lagi di kemudian hari.

Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *