Connect with us

Featured

Interview; Teman Sebangku “Rencana Album Baru”

Published

on

Setelah melepas single “Agony Parade” sebagai perkenalan untuk materi album baru, duo Teman Sebangku giat menjalani beberapa panggung. Respon publik dan media terhadap single tersebut menyambut semangat Doly dan Sarita untuk segera menyelesaikan debut albumnya tersebut.

Panggung demi panggung, mulai dari panggung festival hingga panggung kolektif mengisi hari demi hari Teman Sebangku. Perubahan management internal Teman Sebangku ikut menjadi sejarah perjalanan mereka menuju rilisnya album pertama mereka yang tertunda cukup lama.

Di sela-sela kesibukannya, Gigsplay berhasil mewawancarai Teman Sebangku, obrolan tentang banyak hal mulai dari konsep hingga curahan hati secara jenaka. Simak wawancaranya di bawah ini.

Halo Teman Sebangku, apa kabarnya nih?
Baik! Semoga selalu begitu, dan semoga begitu pula dengan mas Anggung

So sweet! Sekarang lagi pada sibuk ngapain?
Yang pasti sih ngantor. Selain itu, kami lagi pusing persoal merampungkan album.

Selepas merilis single “Agony Parade” ada rencana merilis single berikutnya?
Kepinginnya sih full album udah selesai di awal tahun depan, semoga! Doakan yaa

Mendapat kabar tentang rencana merilis debut album penuh kalian, sejauh mana progressnya?
Sejauh hatinya yang berpaling dari hatiku! (tertawa). Lumayan sih, Kuy, masih agak banyak nih ‘PR’ nya. Tapi kita coba jalanin meski kadang bingung juga mesti gimana? Maklum, baru pertama kali nih ngegarap album. Kalo materi sih sebagian besar udah fix, tapi ada beberapa yang mesti dioprek lagi

Kapan rencana dikeluarkan? Sudah ada pihak label yang akan merilisnya?
Mudah-mudahan paling telat Februari atau Maret lah. Kalo label belum ada.

Bisa diceritakan tentang album penuh kalian yang akan dirilis nanti?
Sedikit aja ya

Boleh, boleh

Yang pasti, pengalaman kami menjadi inspirasi dalam materi lagu di album ini. Kami bercerita tentang kami, baik terang-terangan maupun tidak

Kalo musisi atau seniman yang diajak berkolaborasi di album tersebut?
Kalo untuk mengisi instrumen sih kemungkinan diisi oleh additional aja. Tapi memungkinkan ketika live akan ada kolaborasi dengan musisi. Itu pun kalo ada musisi yang mau! (tertawa)

(Tertawa)

Oya, kita juga lagi nyari seniman (visual) untuk kolaborasi ngerjain artwork cover album nanti. Ada beberapa sih yang udah kami ‘keceng’

Bagi beberapa orang, pengaruh atau referensi dalam bermusik itu menjadi bagian penting. Kalo Doly dan Sarita banyak dipengaruhi oleh siapa/apa dalam bermusik?

Berbagai macam musik kami dengarkan. Sepakat. Disadari atau tidak pasti berpengaruh dalam berkarya. Ketika kami menemukan referensi yang menurut kami cocok, justru kami membahas persoal sejarah hidup dari orang tersebut. Dari mana dia berasal? Siapa orang tuanya? Lahir di tepi pantai atau di kaki gunung? Karena kami percaya, apa-apa yang sudah dialami dalam kehidupan orang tersebut akan berpengaruh terhadap lirik yang dia tulis dan musik yang dia bikin.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita bersikap terhadap referensi tersebut? Saat berkarya, kami berusaha keras agar karya kami atau lagu yang kami buat tidak terdengar seperti si ‘anu’ atau si ‘anu’ atau yang lainnya. Kami sepakat ketika kami berkarya kami melupakan semua referensi yang kami tau, kemudian kami biarkan hati dan nalar yang mendominasi. Kami ikhlaskan “kami” melebur dalam musik yang kemudian kami sebut “Teman Sebangku”, bukan yang lain. Bukan perkara mudah memang untuk menyikapi referensi, tapi kami berproses.

Ceritakan tentang proses kreatif kalian

Biasanya, Doly punya stock aransemen dan kemudian Sarita menulis lirik yang sesuai dengan apa yang dirasa oleh Sarita. Tapi tak jarang juga Doly membuat aransemen, lirik sekaligus langgamnya, kemudian Sarita tinggal menyesuaikan

Apakah pesan dalam bermusik itu penting? 

Bagi kami, pesan menjadi layer ke-sekian dalam lirik yang kami tulis. Kegelisahanlah yang menjadi faktor utama dalam menulis lirik. Kegelisahan (tentang apa pun) menjadi pemantik yang begitu ampuh untuk menulis lirik. Ketika menjelma sebuah karya lagu, sepenuhnya kami serahkan kepada pendengar untuk mengapresiasi lagu tersebut. Setiap lirik yang tertulis pasti ada pesan, apapun ceritanya bahkan ada makna di baliknya. Tapi tergantung juga sama si pendengarnya sih, seberapa jauh dapat mengambil makna dari sebuah lirik?

Ada apa antara Teman Sebangku dan Lazy Hiking Club itu?
(Tertawa). Cukup konyol juga sih awal mulanya Lazy Hiking Club ini. Jadi, Doly dan beberapa teman lainnya (Angkuy, Woody, Akbar, Nobie & Sean) menggagas untuk bikin club ini. Waktu itu mereka kedatangan teman asal Amerika, Sean, yang kebetulan ada perform di Bandung.

Sehari setelah perform kami berlima hiking ke Tahura, untuk jalan-jalan lucu di Minggu pagi. Bagi Laziers macam kami, bangun Minggu pagi adalah suatu prestasi! Pisan!! (Banget!!). Nah, ketika menelusuri lintasan di Tahura lewati beberapa Gua hingga sampai ke Curug itu membutuhkan semangat yang wah! Untung banyak warung di sepanjang jalan, jadi kami bisa rehat semena-mena ketika capek. Apalagi mas Akbar, hampir 2 goreng tahu dia kunyah setiap ada warung, (tertawa).

Dari situ lah tercetus untuk bikin Lazy Hiking Club. Dokumentasi perjalanan kami itu langsung kami posting sore harinya, langsung dibikin pula akun IG @LazyClub_. Setelah posting dengan embel-embel hastag dan pamer ke teman-teman dekat via japri ternyata banyak yang mau ikut. Dibikin lah edisi berikutnya, berikutnya lagi dan lagi. Terhitung sudah 4 edisi Lazy Hiking Club jalan-jalan dan anggotanya random karena bebas untuk siapa aja.

Di edisi kedua (Gunung Batu), kami dihibur dengan duo nuansa kerontjong yang udah berkolaborasi dengan Slank, yaitu Tetangga Pak Gesang (kami menyebutnya Tetangga Pak Geslank). Edisi ketiga (Gua Pawon) kami dihibur oleh Yudha (Nada Fiksi) dan (Dhea Littlelute) serta Falcon (Neowax) yang bermain mandolin malu-malu. Edisi terakhir (Kebun Pa Usman) kami jalan-jalan bersama rombongan Indonesian Netaudio Festival dan beruntung bisa menyaksian live-nya Silam Pukau! Seru!

Beberapa tahun ke belakang dan mungkin beberapa tahun ke depan, fenomena nama proyek musik menggunakan Bahasa Indonesia menjadi salah satu peluang (atau bahkan sudah menjadi) trend, seperti Teman Sebangku, Nada Fiksi, Tetangga Pak Gesang, Dialog Dini Hari, Payung Teduh, Tigapagi dan lain-lain yang kecenderungannya bermain di arena folk atau akustik. Tanggapan kalian?

Mungkin ini bentuk kesadaran dari masing-masing band dan semoga bisa menyadarkan pula siapapun bahwa tidak perlu malu, malah harus ‘pede” dengan sesuatu yang Indonesia. Tidak hanya persoal instrumen, komposisi dan aransemen, lirik bahkan untuk nama sekalipun. Sudah cukup kita terlena dengan sesuatu yang ke-bule2an. Sudah saatnya. Mungkin. Dikit-dikitlah yaa. Semoga.

Pernahkah kalian semua bertemu dan membahas fenomena yang menurut kami unik ini?

Dengan beberapa band yang domisili di Bandung sih kebetulan kami sering bertemu. Sering saling pinjam uang buat makan atau bensin bahkan! (tertawa). Tapi justru baru kepikran kenapa gak pernah nanya ke mereka “naha band maneh ngarana teu Inggris, sih?” (kenapa band kamu namanya ga Inggris, sih?). Justru malah sering terlontar pertanyaan seputar mantan bahkan ejekan semisal “ciyeee, lagi kepoin mantan yang posting foto tunangan niiih?!?!?!” (tertawa).

(Tertawa). Eh, rencana dan target tahun 2015 dengan lahirnya album perdana kalian.

Rilis album dan sebar seluas mungkin. Bikin showcase. Tour beberapa kota. Produksi lagu cover atau remix. Bikin kolaborasi dengan beberapa artist.

5 kata yang mendeksripsikan Teman Sebangku

Anjing. Kucing. Gitar. Vocal. Proses.

 

*Foto: Arum, Tetangga Pak Gesang

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *