Connect with us

Articles

Ketika Anjing dan Burung Beo Menjadi Vocalist Band Metal

Published

on

Sudah lama Saya menemukan 2 band yang super unik ini. Memberikan banyak ide untuk pengumpulan referensi musik Saya. Keduanya menerobos batas dan jauh dari apa yang Saya pikirkan sebelumnya. Cukup terkejut dengan konsep kedua band ini, mereka mengajak binatang kesayangannya untuk gabung di project band-nya. Ada yang me-respond dengan kritikan tentang animal rights, ada yang me-respond positif dengan catatan sejarah musik di dunia.

hatebeak

Hatebeak. Photo by weirdo

Hatebeak, death metal band dari Baltimore yang didirikan oleh Blake Harrison, Mark Sloan dan Waldo. Oh tunggu, Waldo ini adalah burung sejenis Congo African Grey Parrot. Saya ingatkan lagi ya, Waldo adalah sejenis burung beo.

Hatebeak sudah tidak melakukan tour dan tidak perform secara live lagi, selain karena alasan si Waldo nya itu, juga karena Hatebeak ini merupakan studio project. Jadi susah banget nemuin footage video perform mereka.

Band ini dibentuk tahun 2004, sudah merilis 3 album dengan karakter musik yang minim melodi, dan lirik yang sulit dimengerti. Pastinya, Waldo si burung parrot ini bernyanyi dengan artikulasi bahasa yang tidak manusiawi (dan memang bukan manusia).

Tapi Waldo mampu melakukan scream dan (sedikit) growl seperti death metal band lainnya. Atau mungkin pada dasarnya death metal band itu memang pengen punya vocalist dengan suara seperti Waldo. Who knows

Siapa ide di balik Hatebeak ini? Siapa yang bertanggung jawab untuk mengajak seekor burung menjadi frontman, oh sorry, frontbird di sebuah band? Blake Harrison lah yang punya ide tersebut. Blake adalah salah satu orang yang aktif di scene hardcore-metal Baltimore. Dia bergabung dengan Pig Destroyer, terus dia juga seorang sound engineer dan business man di bidang metal outfit. Oh ya, Hatebeak adalah satu-satunya metal band di dunia yang mendapatkan sponsor dari organic birdseed company. No wonder.

Awalnya, Mark dan Blake punya ide untuk membentuk Hatebeak ketika memerhatikan tingkah Waldo. Di tengah aktivitas mereka yang membosankan, burung ini sering ngeluarin suara yang cukup berisik. Tanpa banyak pikir, dan karena belum punya band saat itu, mereka langsung mengambil langkah untuk menggabungkan kelebihan Waldo di teknik musik mereka.

Blake, pemilik Waldo ini langsung setuju, dan tentu saja setuju karena dia sudah menyukai musik metal sejak dulu, dan membawa Waldo bukan hanya sebagai gimmick dari sebuah band. Tetapi lebih dari itu, Waldo merupakan simbol dari pernyataan mereka untuk scene metal. Entah mau dianggap serius atau candaan, tapi Mark dan Blake ingin memberikan referensi yang lain untuk scene metal.

Tidak mudah dan tidak asal untuk menulis lagu-lagu Hatebeak. Mark dan Blake biasanya merekam suara Waldo terlebih dahulu. Mereka membawa alat rekam ke tempat Waldo, dan mengajak Waldo untuk ‘bernyanyi’. Gak jarang juga mereka memberikan cerita dan berita dari koran atau majalah dan menunjukkannya ke Waldo.

Tapi, ya Waldo juga punya mood yang bagus dan jelek. Kalo jelek, susah banget diajak rekaman, tapi kalo udah bagus, ini menjadi momen yang berharga. Setelah merekam suara Waldo, Blake dan Mark lanjut bekerja di studio, mereka menulis ritme-ritme dengan mengikuti suara Waldo, dan teknik ini tidak mudah. Setelah itu, Blake juga masih punya tugas terberat. Blake menulis lirik dengan memerhatikan kata demi kata yang keluar dari mulut Waldo. Apapun kata yang keluar, Blake tulis dengan yakin.

Discography:

Beak of Putrefaction split with Longmont Potion Castle (2004)
Bird Seeds of Vengeance split with Caninus (2005)
The Thing That Should Not Beak split with Birdflesh (2007)

 

Selain Hatebeak, band yang menarik perhatian Saya adalah Caninus. Deathgrind band asal New York City ini mengajak 2 anjing jenis American Pitbull Terrier untuk bernyanyi mengikuti musik metal. Kedua anjing itu bernama Budgie dan Basil, dan mereka adalah pengisi suara, yah betul, mereka adalah vocalist dengan growling di deathgrind band. Tetapi, pada tanggal 5 Januari 2011, salah satu vocalist Caninus, Basil meninggal karena tumor otak. Setelah kejadian ini, semua personil memutuskan untuk mengakhiri perjalanan musik bersama Caninus.

caninus2

Caninus. Photo by Yael Gottlieb

 

Caninus didirikan oleh Buddy Bronson, Justin Brannan, Rachel Rosen dan kedua anjing bernama Basil dan Budgie. Caninus merupakan side project-nya Justin Brannan yang juga gitaris untuk band NY Hardcore, Most Precious Blood. Caninus bukan tanpa pesan dan tanpa alasan penting untuk mengajak growler alami dengan kekuatan ‘gonggongan’ kedua pitbull tadi. Mereka membawa pesan tentang animal rights, vegetarianism, veganism dan menyebarkan pesan tentang adopting homeless animals.

Caninus sudah merilis 3 album di bawah rilisan War Torn Records. Karakter musik Caninus seperti death metal / grind band pada umumnya. Penuh energi, cepat, kompleks dan kuat. Hanya saja untuk departemen vokal, dua anjing pitbull yang berkuasa.

Ide ini muncul karena ketiga personel sering berkumpul bareng, mendengarkan musik, menonton musik, bahkan sering mengajak Basil dan Budgie untuk berkumpul bersama musisi-musisi lainnya. Ketika mereka sedang bermain bersama sambil mendengarkan lagu Cannibal Corpse, Terrorizer dan Napalm Death, kedua anjing tersebut tampak ikut bernyanyi mengikuti musik. Kejadian ini memberi inspirasi untuk mengajaknya bernyanyi bersama.

Akhirnya mereka mencoba merekam satu lagu dengan vokal dari dua growler pitbull tersebut, dan menyebarkannya kepada teman-teman. Materi tersebut menyebar dan di-respond sangat baik. Orang-orang mulai gila dan ingin mendengarkan lebih banyak lagi. Tanpa pikir panjang, Caninus menjadi project penting bagi 3 sahabat Buddy Bronson, Justin Brannan, dan Rachel Rosen. Akhirnya mereka pun merilis album demi album sampai akhirnya menjadi salah satu band yang tercatat dalam sejarah musik dunia.

Saya tertarik dengan background dari Caninus ini, dimana mereka begitu perhatian dengan animal rights. Dimana Basil dan Budge adalah anjing adopsian Brannan, menjadi simbol dari band ini untuk menyebarkan pesan-pesan positif. Basil dan Budge merupakan frontman, oh sorry, frontdogs yang mampu memberikan growl dengan pesan-pesan tertentu.

Ah entah lah apa yang kedua pitbull itu sampaikan, tetapi proses interpretasi Brannan untuk menyimpulkan pesan-pesan dimusiknya lewat mulut anjing itu cukup membuat Saya terkagum. Atau lebih tepatnya bingung.

Yang jelas, Caninus telah mencatat sejarah, memberikan banyak pemikiran tentang bagaimana sebuah musik bisa disajikan. Apalagi Saya mendengar kabar tentang anjing lain yang bisa ‘menikmati’ musik Caninus karena growl dari Basil dan Budge mengkomunikasikan sesuatu kepada mereka.

Uniknya lagi, Basil dan Budge ini menjadi sosok di depan, seorang bintang! Bagaimana mereka memerlakukan kedua anjing ini sebagai sosok yang mempunyai talenta, dilatih, dan dihargai menjadi sesuatu yang membuat Saya kagum.

Discography:

Now the Animals Have a Voice, album (2004)
Caninus/Hatebeak, split (2005)
Cattle Decapitation/Caninus, split (2005)

Well done! Hatebeak dan Caninus sudah memberi banyak perhatian khusus dengan segala keunikannya. Setiap terobosan baru akan selalu memiliki nilai yang tinggi, mencatat sejarah, dan terpilih sebagai pionir. Itu yang sebenarnya yang perlu menjadi landasan berpikir banyak musisi. Menjadi dan membuat sesuatu yang baru, hal ini juga tentu saja untuk khalayak yang akan disajikan dengan referensi-referensi yang variatif.

Saya yakin, masih banyak terobosan baru dari musisi atau band lain selain Hatebeak dan Caninus, dan Saya yakin jika kita saling berbagi referensi, maka kita akan semakin kaya akan ide, dengan banyak ide, maka akan lahir lah karya atau sesuatu yang baru.

 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.