Rotten To The Core: ‘Kami sudah punya peninggalan walaupun belum bubar’

0
4900

Kira-kira seperti inilah respon mereka, ketika topik-topik ringan berbau kultur pop dibenturkan dengan paham punk yang telah mengakar dalam diri mereka selama dua dekade lebih. Dalam sebuah sesi obrolan, Gigsplay menemui Dendi Handoko (bassis-vokalis) dan Fendi Hartoyo (gitaris) – para anggota dari pionir melodic-hardcore asal Bandung, Rotten To The Core (RTTC). Malam itu mereka turut menghadirkan penggebuk drum baru, Ochie S. Carroline – drummer dari band punk Virgin Oi. Dalam wawancara ini, kami menangkap adanya kekuatan sebuah identitas yang terselip dari balik gaya ‘ngelantur’ mereka bertiga (minus kehadiran gitaris baru, Senna), hingga betapa kagumnya Fendi dan Ochie terhadap band yang mereka perkuat kini. Gigsplay mencoba mencolek sisi-sisi lain dari unit veteran komando frontman Dendi yang masih produktif sejak tahun 1992 tersebut. Melalui sebuah perbincangan singkat, jawaban-jawaban jujur pun segera mengalir. Sederhana, percaya diri, namun tetap apa adanya – sifat rebel yang tetap terasa natural. No Place To Hide seakan terpancar dari diri mereka – salah satu bukti bahwa judul album baru mereka tersebut (rilis 2012) sudah teraplikasi sebagai sebuah prinsip hidup.

 

Menurut asal muasal sejarahnya, PUNK di jazirah U.K sana punya arti tersendiri, karena P.U.N.K di sana merupakan singkatan dari People of United Nothing Kingdom. Lantas, bagaimana dengan makna PUNK menurut band ini – yang notabene tinggal di Indonesia – dan Bandung?

FENDI (F): Menurut saya, punk memiliki makna bebas. Bebas boleh siapa saja, bebas tempat, bebas becak, bebas pajak.

OCHIE (O): Punk-ajian, punk-aosan (pengajian), punk-abdian (pengabdian), dan punk-asrambut (pangkas rambut).

DENDI (D): Makna punk yang menempel kuat di benak saya adalah kebebasan. Saya sendiri memiliki arti khusus, kalau P.U.N.K itu sama dengan: Pemuda Unik Namun Kreatif.

 

Jika sepakat bahwa ‘band adalah keluarga’, maka ketika ada pergantian personil dalam tubuh band ini, gejolak rumah tangga apa yang sebenarnya sedang terjadi?
D: People come and go, begitu juga di sebuah band atau keluarga. Intinya, kami sebisa mungkin menjaga kekeluargaan yang ada di Rotten To The Core sendiri agar terjalin utuh. Jadi apapun yang terjadi, kita selalu welcome dengan keluarga kita, baik yang masih terlibat di band, ataupun tidak.
F: Rotten To The Core adalah sebuah band punk rock yang sangat saya kagumi. Bisa disebut band punk rock legenda di Indonesia. Dan begitu saya bergabung untuk menjadi pemain gitar menggantikan posisi Oca yang sibuk dengan pekerjaannya, hal itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri buat saya. Yang saya garis bawahi di sini, meskipun itu personil, additional, atau siapapun yang men-support Rotten To The Core, mereka tetap menjadi bagian dari keluarga.
O: Apapun masalahnya, pasti ada solusinya. Additional, player, dan semua yang mendukung dan men-support kita, adalah keluarga. Termasuk doggy dan kucing-kucing saya yang selalu mendukung – dengan bahasa mereka sendiri.
Kira-kira, hal-hal apa saja yang kalian pedulikan dari sosok Farhat Abbas?
D: Saya pribadi masih menganggap semua itu wajar-wajar saja, khususnya di dunia politik – yang sudah pasti banyak trik dan intriknya. Jadi bagi kami, sampai detik ini tidak ada sedikitpun masalah dengan semua statement yang dia lontarkan. Di balik semua hal yang mungkin terkesan negatif, pasti ada sisi positifnya.
F: Saya pribadi tidak terlalu peduli dengan Farhat Abbas, yang saya pedulikan itu Nia Daniaty dan Agnes Monica.
O: Kalau menurut saya, dia cuma bikin sensasi saja. Biar exist, dong! Dia kan tidak bisa main sinetron atau nyanyi, apalagi menyaingi boyband. Jadi hanya dengan cara dia selalu menghina, mengkritik, dan berasumsi seenaknya lah, dia dapat dilirik oleh para wartawan dan masyarakat.
Rotten to The Core banyak disebut-sebut sebagai salah satu band punk legendaris dalam scene punk Bandung. Lantas, seperti apa kalian menyikapi status/gelar bergengsi tersebut?
D: Bagi kami itu hanya sebuah bonus, yang sebenarnya kita sendiri tidak terlalu peduli dengan kata-kata tersebut. Masih banyak yang harus kita perbuat sebagai rasa sumbangsih kita, khususnya di dunia musik underground ini, dan sebagai sikap apresiasi kita buat para penggemar kita yang masih setia mendukung kita seratus persen. Maka, kami akan selalu terus berkarya, sebaik mungkin.
F: Menamai dengan kata ‘legend’ mungkin tepat. Khususnya, bagi saya dan juga RTTC sendiri. Walaupun kita sendiri mengetahui dengan jelas, perbedaan scene musik underground dalam negeri dengan scene musik underground di luar negeri. Begitu mahal dan dihargainya karya seni di luar negeri sana. Tepat, karena ada satu hal yang bagi saya sangat jelas: ketika ada sebuah band punk rock yang lahir pada tahun 1992 dan sekarang masih bertahan di tahun 2014. Amazing, dude.
O: Tetap berkarya tiada henti, pokoknya totalitas tanpa batas!
Adakah target untuk tetap mempertahankan gelar sebagai band punk legendaris Bandung, walaupun personil sudah gonta-ganti?
D: Tidak pernah ada target untuk ke situ. Kita jalan sesuai dengan apa yang kita rasa dan kita mampu. Karena jujur, kami sendiri tidak pernah berharap jika suatu hari nanti, Rotten To The Core menjadi sebuah band legendaris. We’re just a punk rock band and this is what we are and what we have.
F: (tertawa) Target, ya?! Menurut saya, RTTC akan selalu menjadi RTTC, meskipun gonta-ganti personil.
O: Tidak pernah terpikir ke situ. Yang pasti, apa yang kita tanam, itu yang kita petik.
Menurut kalian, siapa ikon punk saat ini? Khususnya di Bandung, Indonesia, Asia, dan dunia?
D: Buat di Bandung, saya pilih Turtles Jr., dan di Indonesia mungkin Superman Is Dead. Di Benua Asia, sepertinya belum ada. Sedangkan untuk di dunia, saya masih lihat Bad Religion.
F: Di Bandung, saya pilih RTTC, di Indonesia RTTC, di dunia Bad Religion.
O: Rotten To The Core, RTTC, Rotten to The core, dan RTTC, empat band itu saja (tertawa).
Tindakan paling nge-punk yang pernah terjadi selama hidup?
F: Pogo saat Bad Religion konser di Jakarta. Bermain musik bersama RTTC dan Mesin Diesel (tertawa).
D: Memutuskan untuk membuat lapangan pekerjaan sendiri.
O: Nggak akan disebutin ah, nanti disebut riya lagi (tertawa).
Sebagai band punk, lebih suka punya album banyak, atau punya sedikit lagu, tapi kelak everlast? Sebagai contoh, Greenday punya ‘Basket Case’, Rancid punya ‘Timebomb’, Bad Religion punya ‘American Jesus’, Ramones punya ‘Blitzkrieg Bop’…
D: Saya pribadi lebih tertarik punya album banyak, seperti The Clash yang mempunyai berbagai jenis karya musik, tapi roots mereka tetap punk rock.
F: Album yang banyak, seperti Bad religion.
O: Sedikit banyak oke-oke aja deh, yang penting everlasting.
Komentar masing-masing personil RTTC tentang bencana banjir?
D: Miris. Sangat miris. Seperti tidak pernah ada solusi.
F: Jangan membuang sampah sembarangan.
O: Bencana itu diakibatkan karena ulah manusia sendiri.
Pendapat kalian tentang Ridwan Kamil, walikota Bandung?
D: Belum bisa dibilang hebat. Masih banyak PR yang mesti dia kerjakan dan mencoba untuk memprioritaskan hal-hal atau masalah yang banyak terjadi di Bandung, jika ingin Kota Bandung tertib, nyaman, dan aman.
F: Semoga beliau menjadi panutan warga Bandung.
O: Selama ini, Walikota Bandung yang terkeren sih, dia.
Pendapat kalian tentang Slankers dan Oi (fans dari grup Slank dan Iwan Fals)?
F: Satu kata, amazing.
O: Masing-masing dari mereka punya karakter, dan mereka saling mendukung satu sama lainnya.
D: Masing-masing punya kekuatan sendiri. Cuma yang saya yakini adalah, penggemar Slank pasti menyukai Iwan Fals, dan begitu juga sebaliknya. Karena dua sosok musisi inilah yang sebenarnya bisa mewakili suara rakyat Indonesia pada umumnya.
Siapa personil JKT48 favorit kalian?
F: Jujur, saya tidak tahu siapa-siapa saja nama personilnya. Percuma juga sih, hati saya hanya buat Dian Sastro.
D: Saya lebih suka yang old school, atau biasa kita sebut MILF-nya Indonesia (tertawa).
O: Tidak ada, saya wanita normal, masih suka laki-laki (tersenyum).
Pertanyaan khusus untuk Ochie sebagai drummer baru RTTC. Sebagai seorang ‘lady punker’, bagaimana definisi cantik menurut kamu?
O: Cantik itu relatif. Tiap orang pasti beda-beda selera. Kalau buat saya, semua cewek itu cantik. Tapi lebih cantik lagi kalo dia smart dan didukung attitude yang baik, that’s all (tersenyum).
Apa benda termurah sekaligus benda terpenting yang pernah kalian beli pakai uang sendiri?
D: Pick gitar. Dan dulu pernah beli CD album pertama Iron Maiden, tapi saat itu saya tidak punya CD player, jadi saya bawa-bawa ke rumah teman yang punya pemutar CD, ikut mutar di sana (tertawa).
F: Cricket – pemantik api (tertawa). Supaya tetap pede dan optimis walaupun tidak punya uang. Siapa tahu ada orang yang bawa rokok tapi tidak punya korek api (tertawa). Main band itu kan babarengan, selagi ada, ya tancap.
O: Celengan, beli waktu masih kecil (tertawa).
Jika suatu hari RTTC ini bubar, apa cara terbaik ala kalian untuk mengabadikan nama Rotten To The Core?
F: Mungkin pertanyaan ini tepatnya Mr. Dendi yang menjawab (tertawa).
D: (tertawa) Kalau saya punya uang, saya bakal bikin bar and lounge pakai nama ROTTEN TO THE CORE.
O: Bikin panti asuhan khusus doggy dan kucing pakai nama Rotten To The Core.
F: (menambahkan) Kalau menurut saya, RTTC sudah punya peninggalan, yaitu ketukan simple-nya Paul, juga harmonisasi permainan gitar dan backing vocal ala Oca. Menurut saya, dua hal tadi sudah menjadi ciri khas tersendiri RTTC – di samping ciri dominan yang sudah sangat kami hafal, yaitu karakter suara dari Mr. Dendi. Kalau saja ciri khas itu tidak ada, menurut saya kami sudah bukan RTTC lagi (tertawa). Dan jika suatu hari nanti RTTC bubar, saya akan sangat merasa bangga, karena sebelumnya sudah pernah menjadi bagian dari RTTC. Hal itulah yang akan tetap saya simpan di hati yang paling dalam (tersenyum).

 

Teks: Bobbie Rendra

Foto: Fakhri Luthfirrahman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here