Connect with us

Gig Review

A State of Trance: Euforia Maksimal dari Raja Trance Dunia

Published

on

Jakarta, Sabtu (15/3), Pantai Carnaval Ancol, menjadi hari yang sakral bagi para penggila aliran musik trance, khususnya bagi mereka yang berada di Indonesia. Indonesia mendapat kehormatan dengan adanya kunjungan dari Armin van Buuren dan pasukanya yang tergabung dibawah nama ASOT (A State Of Trance). Berawal dari sebuah program radio yang digagas oleh Armin dari tahun 2001. Kini, ASOT menjadi sebuah pagelaran musik dunia yang menghadirkan musisi trance sebagai menu utama.

Kali ini Indonesia mendapat kehormatan dengan masuk sebagai destinasi main show ASOT di Asia sehingga acara ini dapat dinikmati secara streaming melalui situs live.astateoftrance.com. Ismaya Live dan Dyandra Entertainment selaku promotor berhasil membuktikan kualitasnya sebagai promotor kelas wahid, dengan memberikan suguhan festival yang sangat tertata dan profesional.

Penonton terbagi menjadi dua kelas yaitu Normal dan Gold. Kelas Normal dijual seharga Rp 600.000 dan Gold Rp 1000.000 dengan fasilitas tambahan seperti sofa, serta jarak pandang ke arah panggung yang lebih nyaman.

Acara dimulai pada pukul 18.30, dengan penampilan Faxx sebagai perwakilan dari skena trance senior Indonesia. Lalu dilanjutkan dengan LTN yang mewakili skena trance generasi muda. Sekitar pukul 20.00, penonton bersorak sorai menyambut Armin yang menyapa dari layar besar. Sebagai pemanasan Armin melakukan pertunjukan dari dalam studio sambil menyapa pendengar ASOT yang sedang streaming.

Tepat pukul 21.00, terlihat pria bertubuh gempal naik ke atas deck dan memimpin pesta. Alex M.O.R.P.H menghajar penonton dengan lagu andalanya seperti “Sunset Boulevard”, “Life Less Ordinary” dan juga beberapa remix hasil kolaborasinya bersama Armin van Buuren dan Paul van Dyk. Penonton dimanjakan dengan visual megah yang menyerupai cockpit pesawat luar angkasa, sehingga memberi kesan bahwa penonton sedang diajak menuju suatu destinasi dari ASOT. Beberapa penonton yang berasal dari luar negeri mulai berteriak histeris ketika lagu “An Angel’s Love” hasil kolaborasinya bersama Sylvia Tosun dimainkan.

Selanjutnya, giliran Andrew Rayel yang bertugas memimpin show. DJ kelahiran 1992 ini tampil enerjik. Beberapa kali ia naik keatas deck untuk menginstruksikan penonton agar melompat dan melambaikan tangan. “Eiforya” berhasil menjadi lagu pembuka yang ciamik diiringi dengan konveti di atas panggung. “How Do I Know”, “Aeon Revenge”, “Aether”, “Musa” dan” Sacaramentum” menyerang penonton secara bertubi-tubi. Lalu, Rayel menepati janjinya saat press conference, dengan memainkan lagu berlirik bahasa Indonesia. Sontak histeria penonton memuncak. Tak henti di situ, Andrew memainkan “If I Lose My Self” milik One Republic yang berhasil membuat penonton merasakan puncak klimaks dari kenikmatan trance. Rayel mengakhiri perjalananya dengan lagu andalannya, “Dark Warrior”.

Beberapa saat kemudian yang ditunggu-tunggu pun akhirnya hadir. Armin van Buuren selaku raja trance dunia, mengambil alih jalannya pesta. “Save My Night” dipilih sebagai lagu pembuka, lengkap dengan teriakan kalimat provokatif yang membuat penonton menjadi liar. Armin  langsung menyapa penonton dengan deretan lagu andalannya seperti, “Forever is Ours”, “D# Fat”, dan “Beautiful Life”. Selanjutnya Armin membuat suasana semakin intens dengan lagu “Intense”. Tiba-tiba percikan kembang api terlihat dan disambut dengan lagu “Broken Tonight”, “Alone”, “Reprise” dan “Waiting For the Night”. Untuk menambah klimaks, pihak panitia menyiram penonton dengan air. Kejadian ini pun seolah menjadi alasan bagi penonton untuk memamerkan keindahan tubuh dengan membuka atasannya. Suasana semakin memanas ketika Armin melakukan mash-up lagu “Won’t Let You Go” dan “Don’t Wanna Fight Love Away”. Sebelum beralih ke lagu “Ping Pong”, Armin sempat memainkan energi penonton dengan mengajak bersahutan mengucapkan kalimat “Ping Pong”, sambil menggerakkan tangan kearah kanan dan kiri. Armin menutup penampilanya dengan lagu yang mencatatkan namanya pada nominasi Grammy, “This Is What It Feels Like”. HIsteria penonton memuncak ketika mendengar intro lagu tersebut.Seperti biasa Armin memainkan volume dengan mengecilkanya sesaat untuk mendengar nyanyian penonton. Di sela lagu, Armin langsung berteriak kepada penonton sambil mengibarkan bendera merah putih, ”Jakarta!!! You are Crazyyyy”. Seketika koor tercipta.

And I don’t even know how I survive // I won’t make it to the shore without your light
No I don’t even know if I’m alive // Oh, oh, oh without you now
This is what it feels like //

Penggalan lirik yang berhasil membuat raja trance dunia menghantarkan penonton pada destinasi klimaks.

Selanjutnya, giliran Paul van Dyk memimpin pesta. Salah satu pesohor di jagad trance ini tampil kesekian kalinya di Jakarta dengan menyajikan set list yang layak mendapat sebutan “pecah”. Pada lagu pembuka, Paul van Dyk langsung memainkan “For An Angel”, yang merupakan salah satu lagu yang turut membesarkan namanya. Dentuman trance terus berlanjut pada lagu “Another Way”, “Crush”, “Forbidden Fruit”, “Let Go” dan “Time of Our Life”. Saat penonton terlihat sudah kelelahan, Paul van Dyk memberikan kejutan dengan memainkan remix lagu milik Deadmau5, “Sofie Needs A Ladder”. Van Dyk mengakhiri penampilanya tepat ketika jam menunjukan pukul 02.50 pagi.

Perjalanan trance akhirnya ditutup dengan euforia maksimal oleh DJ asal Irlandia, John O’Callaghan. Malam itu, Callaghan banyak memainkan lagu dari album Never Fade Away dan Unfold. Komposisi yang dimainkan sedikit berbeda dari versi rekaman. Sehingga dentuman yang dikeluarkan lebih memprovokasi penonton untuk berdansa tanpa henti.  John O’Callaghan mengakhiri penampilannya dengan  “Save This Moment”. Lagu tersebut seolah mengisyaratkan agar penonton mengenang momen tersebut.

Rasa haru atas pengalaman yang luar biasa begitu terasa saat Armin menyapa penonton dari layar besar untuk terakhir kalinya. Kepuasan penonton sangat terlihat dengan adanya profesionalisme yang diberikan oleh pihak promotor. Terima kasih atas suguhan yang luar biasa!

 

Teks: Akbarry Noor

Foto: Ryan Abdul Aziz

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *