Apestronaut: Rumah Baru Bagi Band-band Instrumental Rock

0
85

Kancah musik indie Jakarta sejauh ini belum pernah menjadi rumah yang nyaman bagi pengusung musik instrumental. Bahkan, band yang memainkan langgam musik ini di Jakarta benar-benar bisa dihitung dengan jari.

Pasca bubarnya Ghaust pada pertengahan 2016 lalu karena secara tragis ditinggal wafat pemain drumnya, semakin membuat kancah musik Jakarta—khususnya dalam konteks musik cadas—sepi dari genre musik yang kerap hanya dilekatkan dengan post-rock atau bahkan jazz ini. Akibatnya, kita seakan semakin lupa bagaimana cara menikmati dan mengapresiasi jenis musik seperti ini, khususnya ketika dibawakan secara live di panggung.

Situasi semacam itu yang akhirnya mendorong gitaris band instrumental rock Primata, Rama Wirawan, untuk mengorganisir sebuah acara yang diniatkan menjadi rumah bagi para musisi serta penikmat musik instrumental. Tujuan pragmatisnya tentu adalah untuk menciptakan pasar bagi genre musik ini di kancah musik Jakarta serta kota-kota penyangganya.

“Karena kalau di kota Bandung, langgam musik ini sepertinya sudah mendapat tempat yang cukup aman dalam skena,” ujar Rama Wirawan. “Itu bisa dilihat dari sangat banyaknya band instrumental yang lahir, tumbuh, dan berkembang di sana, seperti: Under The Big Bright Yellow Sun, Flukeminimix, dan lain-lain.”

Melihat bahwa kancah musik instrumental dapat hidup di daerah lain di Indonesia seperti itu, Rama pun optimistis bisa membangunnya juga di Jakarta. Maka ia pun mengajak band Bandung yang baru saja merilis album instrumental di bawah naungan label rekaman Orange Cliff yaitu Gaung, satu band Bandung lainnya yang juga mengusung musik instrumental dan sama-sama roster Orange Cliff yakni Ellipsis, serta sebuah band baru asal Jakarta yang juga mengusung langgam instrumental bernama Kalamantra untuk mulai menularkan wabah instrumental rock ini secara lebih luas di Jakarta melalui sebuah acara bertajuk Apestronaut Vol. 1.

Selain Primata, Gaung, Ellipsis, dan Kalamantra yang notabene mengusung langgam instrumental akan menjadi penampil, ada sebuah band non-instrumental yang juga digandeng oleh Rama untuk mengisi acara ini: Sir Lommar John dari Bekasi. Adapun maksud dan tujuan memasukkan band yang sebenarnya tidak instrumental ini ke dalam lineup adalah karena Sir Lommar John memainkan warna musik yang masih beririsan dengan yang lain.

Karena apestronaut sendiri sebenarnya adalah sebuah portmanteau dari kata apes (kera-kera)  dan astronaut (antariksawan). Kata ini dipilih sebagai nama acara karena dianggap cukup representatif untuk irisan dari langgam-langgam musik yang diusung oleh tiap-tiap penampilnya, yaitu rock yang cenderung primitif nan cadas dan ambience serta psychedelic yang mengawang-awang.

Meski Apestronaut Vol. 1 akan segera lekat dengan citra sebagai acara musik instrumental, stoner rock dan psychedelic rock, tidak menutup kemungkinan juga band-band instrumental jazz, seperti misalkan Tohpati Bertiga, atau malah akustik seperti Gerald Situmorang bisa main juga di volume-volume yang akan datang. Dan ke depannya acara ini masih tidak akan tertutup dari band-band non-instrumental, meski tetap akan memprioritaskan band-band instrumental.

“Kami hanya ingin melihat bagaimana audiens di skena musik indie Jakarta yang, dalam penilaian kami, mayoritas belum terlalu apresiatif dengan musik instrumental, mulai datang ke acara-acara seperti ini dengan kesadaran penuh bahwa dirinya akan menikmati musik saja, meski tanpa mampu ikut bernyanyi mengikuti seorang vokalis di atas panggung. Karena kami adalah band-band tanpa vokalis. Bagaimana caranya? Respons itu yang akan kita ketahui bersama. Jadi bisa dibilang ini adalah semacam eksperimen juga,” beber Rama.

Apestronaut Vol. 1 akan berlangsung pada Rabu, 20 September 2017 di Lost & Found Gastrobar, Jl. Taman Kemang 1 No. 6, Bangka, Jakarta Selatan. Tiket masuknya dibandrol seharga Rp 35.000 dan acara akan dimulai pukul 19.00 WIB.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here