Mini Album “Hujan Pertama” : Nyanyian Puisi Dari Onomastika

0
54

Umumnya, sebuah band dibentuk kemudian menciptakan karya. Namun yang terjadi pada Onomastika malah sebaliknya. Sebuah group musik asal Gresik yang sepakat dibentuk untuk pentas pertama kali pada 29 September 2018, membawakan lagu-lagu yang telah diciptakan. Ada enam karya yang telah direkam dan dihimpun dalam mini album bertajuk Hujan Pertama, hasil alih wahana puisi ke musik—atau yang biasa disebut musikalisasi puisi.

Situasi Kota Gresik sebagai ruang berkarya, dan masyarakatnya yang cenderung cemas, nampaknya tidak habis jika sekadar dibicarakan. Puisi dipilih sebagai bahan dasar penciptaan lagu karena kelebihannya merangkum hal-hal yang tidak mampu dinarasikan dengan baik.

Metafora bukan faktor utama menurut Onomastika. Namun pengendapan pikiran yang berupa puisi nampaknya sudah berbunyi sebelum dinyanyikan. Itu yang kemudian mereka temukan pada empat karya milik Sastrawan Gresik, Bapak Lenon Machali (alm) dan dua karya milik Hening Kusuma.

Ditambahkan oleh Ayuning Tyas, salah satu vokalis Onomastika, dirinya berharap lewat musikalisasi puisi para pendengar mampu mengalami cerita dan rasa yang disembunyikan oleh kata-kata di dalam puisi.

Hujan Pertama, Sendiri, Hening, Kepada yang Lalu, Jam Tenang dan Perahu Sampanmu, adalah enam judul lagu yang jika tanpa diberi tanda koma seolah menjadi satu kalimat—yang menghadirkan perenungan tentang pengalaman banyak orang. Maka alat-alat yang menimbulkan bunyi suasana, dipilih untuk mengisi instrumen dan menambah gairah panggung sebagai ilustrasi dari puisi itu sendiri.

Onomastika berdiri dengan tiga penyanyi; Ayuning Tyas, Hidayatun nikmah, Khusnul Khorid. Kemudian Ahmadi Ali Ashari sebagai pemain bass, Fais Ramadhan dan Bambang Setiawan untuk memetik gitar. Keenam personil ini sering dipertemukan untuk terlibat dalam kerja bersama di kelompok teater dan film kota Gresik. Hal itu yang kemudian juga memberi pengaruh ada proses penciptaan karya bahkan melatar belakangi ideologi Onomastika yang dijalankan.

Setelah Onomastika menunaikan sepuluh panggung sepanjang 29 September – 31 Desember 2018 di Gresik, kemudian mengawali Januari 2019 dengan panggung ke sebelas di Surabaya, mereka mendapat banyak energi positif dari perjalanan. Ketika dirasa berhasil mempertemukan musik dengan pendengarnya secara langsung melalui album fisik yang sudah dicetak maupun melalui panggung. Sebab ada obrolan-obrolan di sana. Sederhana dan penting.

Agenda rilisnya Mini Album Hujan Pertama yang menghimpun enam lagu di beberapa Digital Music Store (Spotify, Deezer, Joox, Itunes, dan masih banyak lagi) pada 25 Januari 2019, adalah perayaan sebuah keberjarakan. Kanal-kanal itu akan mempermudah lagu dari Onomastika menemui pendengarnya.

Tentang Mini Album Hujan Pertama
28 Oktober 2018 yang lalu, mini album bertajuk Hujan Pertama telah dirilis secara fisik bersama dengan antologi puisi berjudul sama karya Bapak Lenon Machali (alm). Hujan Pertama adalah lagu pertama yang diciptakan oleh Onomastika pada pertengahan tahun. Dua puisi berikutnya karya Hening Kusuma berjudul Kepada yang Lalu dan Hening, berhasil dialihwahanakan menjadi musik untuk mengisi soundtrack sebuah webseries produksi Gresiknesia berjudul Hening.

Puisi berjudul Sendiri dan Jam tenang menjadi lagu ke empat dan lima. Kemudian setelah mendampingi proses workshop Musikalisasi Puisi yang diadakan oleh Gresiknesia, puisi berjudul Perahu Sampanmu yang diciptakan secara kolektif bersama peserta workshop berhasil lahir menjadi lagu ke enam. Ketiga puisi itu juga karya (alm) Bapak Lenon Machali. Ketika enam lagu akan direkam, nama Onomastika disepakati untuk mengikatnya. Sebagai tanggung jawab agar tidak berhenti begitu saja.

Sebagai seorang Seniman, pengaruh almarhum Bapak Lenon Machali terhadap Onomastika memang sangat besar. Mayoritas personil adalah muridnya. Tidak heran jika kemudian ideologinya pun menjadi salah satu acuan berkarya. (Onomastika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here