Terbangun di Singapura: Penampilan Closure di Rocking The Region 2019

0
7

Closure, band post punk asal Malang, menjalani lawatan ke Singapura pada tanggal 1 dan 2 November 2019. Closure bermain dalam acara bertajuk Rocking The Region 2019 yang diselenggarakan di Outdoor Stage Esplanade, Singapura.

Panggung ini menjadi panggung internasional pertama bagi Closure sekaligus panggung keempat mereka selama 2019. Adanya panggung ini menjadi ajang kebangkitan Closure yang mulai tertidur sejak April lalu. Geliat mulai muncul saat mereka manggung tanggal 20 Oktober lalu di Malang dan lanjut merilis single berjudul Post Partum pada 29 Oktober. Panggung Rocking The Region menambah geliat tersebut.

Acara tersebut mengundang beberapa band alternative dari Singapura dan negara-negara tetangganya seperti Thailand dan Malaysia. Band Indonesia yang tampil pada tahun ini adalah Closure, Lizzie, The Panturas, dan Eleventwelfth. Closure bermain pada minggu yang sama dengan Lizzie, namun pada tanggal yang berbeda (Lizzie bermain para tanggal 2 dan 3 November). Sementara The Panturas dan Eleventwelfth baru bermain pada minggu berikutnya.

Para personil Closure mengaku gugup sebelum tampil pada hari pertama (1/11). Band yang beranggotakan Deka (vokal), Afif (gitar), Bella (gitar), Axel (bass), dan Ikhsan (drum) ini baru pertama kali bermain di luar negeri. Pun frekuensi penampilan mereka juga sangat jarang, baru tiga kali selama tahun 2019.

Memang tak semua personil ‘menganggur’ selama vakumnya Closure. Bella sebagai gitaris memulai karier sebagai penyanyi solo pada awal 2018 dengan menggunakan nama lengkapnya, Sabiella Maris, dan sudah pernah menjajal panggung luar negeri yakni Malaysia pada Juli 2019. Ikhsan, yang akrab disapa Biting, juga lanjut mengisi drum di band lamanya bernama The Comingbacks selama vakumnya Closure. Namun tetap saja kegugupan terlihat pada masing-masing personil.

Tak ada rasa gugup yang terlihat saat Closure memulai penampilan pada pukul 20.45 Waktu Singapura. Closure membuka penampilan dengan lagu Cold Room yang lumayan pelan. Tempo meningkat dengan dibawakannya Paradigma.

Kegugupan terlihat dari Deka saat speech. Selain penonton yang cukup ramai, perbedaan bahasa juga menambah kegugupan vokalis yang akrab disapa Dugong ini. Dugong bahkan terang-terangan mengucap “Saya gugup sekali saat ini, tampil di depan banyak penonton”.

Namun kegugupan tersebut tak menjadi halangan untuk mengajak penonton berdansa dan bertepuk tangan. Dalam lagu Dawn dan Warehouse, Dugong mengajak penonton untuk menari karena musik yang dibawakan akan bertempo cepat. Dalam beberapa speech setelahnya bahkan Dugong sudah bisa bercanda dengan penonton.

Closure membawakan delapan lagu pada hari pertama. Semua lagu pada EP Journey yang mereka rilis pada 2017 dibawakan pada panggung tersebut. Tak lupa single terbaru mereka, Post Partum, juga mereka bawakan.

Secara teknis, Closure menjalani penampilan pada hari pertama dengan cukup mulus. Matinya pedal gitar dan melambatnya tempo drum dapat diatasi dengan sekejap. Aksi panggung Dugong yang meniru epileptic dance dari Ian Curtis, vokalis dari band leluhur post-punk Joy Division, mengundang decak kagum penonton. Halangan bahasa juga tak menghalangi dugong untuk meminta penonton bertepuk tangan di lagu Post Partum dan lagu terakhir mereka, Mindful.

Lanjut pada hari kedua (2/11), panggung Outdoor Stage menjadi sangat ramai sehubungan dengan malam minggu. Memulai penampilan pukul 19.30 Waktu Singapura, panggung sudah dipadati oleh keluarga dan turis yang kebetulan sedang berjalan-jalan untuk melihat pertunjukan laser dari Marina Bay Sands atau melihat Patung Merlion yang tak jauh dari panggung.

Ada sedikit perubahan pada setlist Closure. Mereka membuka penampilan hari kedua dengan Paradigma. Mereka juga memasukkan single lama mereka yaitu Slow Drive dan I’m a Travelling Man, masing-masing rilis pada Januari 2017 dan Oktober 2018.

Tak seperti umumnya post punk yang bernada suram dan serba hitam, Closure tampil dengan nada ceria namun tetap dengan ketukan post-punk. Dengan pengaruh band post punk Rusia seperti Motorama dan Soviet Soviet juga band post punk pada awal 80an seperi The Church dan The Chameleon, Closure menyajikan post punk yang dapat membuat penonton berjoget.

Benar saja, saat lagu Post Partum dimainkan, dua orang penonton maju ke depan panggung dan berjoget. Sontak penonton langsung bertepuk tangan. Dugong yang melihat hal ini sebagai peluang untuk meramaikan panggung memberi applause pada kedua orang tersebut sambil mengajak penonton lain untuk maju.

Penonton yang maju untuk menari menjadi lebih banyak pada lagu Mindful. Bahkan ada balita yang maju untuk ikut menari. Dugong juga tak lupa untuk mengajak penonton untuk bertepuk tangan seperti apa yang dilakukannya pada hari pertama. Ritme yang cepat, tepuk tangan penonton, dan epileptic dance dari Dugong menutup penampilan Closure dengan klimaks.

Secara keseluruhan, penampilan Closure pada hari kedua lebih luwes dibandingkan hari pertama. Selain penguasaan panggung yang sudah dipelajari di hari pertama, ramainya penonton dan interaksi yang meningkat membuat penampilan Closure menjadi lebih mantap. Secara teknis juga tidak ada kesalahan yang berarti.

Dua hari penampilan Closure berjalan dengan baik. CD EP Journey yang mereka bawa laris terjual. Bertambahnya fans juga terlihat dengan adanya penonton yang menghampiri mereka di belakang panggung.

Panggung yang berkesan ini bukan menjadi tujuan akhir bagi Closure. Sepulangnya dari Singapura, band yang berdiri pada tahun 2016 ini akan fokus merekam album terbarunya. Selama tiga tahun perjalanan Closure, mereka baru mengeluarkan 1 EP (Journey), 1 Split Single (Warehouse, bersama Strangeways) dan 3 Single (Slow Drive, I’m a Travelling Man, dan Post Partum). Belum ada satu full album yang mereka rilis. Keberadaan album akan menjadi pelengkap pada tiga tahun perjalanan band ini. “Memang kita banyak manggung, tapi kurang lengkap kalo kita gak ngerilis album” ujar Dugong kepada Gigsplay.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here