New Tracks
“Karam” Tampilkan Eksplorasi Vokal Dan Lirik Tak Biasa Dari The Basement Dry
The Basement Dry, unit indie-rock alternatif asal Bogor, kembali menunjukkan konsistensi menuju album perdana mereka lewat rilis single baru berjudul “Karam”. Lagu ini dirilis sebagai kelanjutan komitmen produktif kuartet beranggotakan Ken Norman (vokal, gitar), Andreas “Andri” Yendra (gitar), Jody Rinaldy (bass), dan Daniel Agung Samudera (drum) setelah sebelumnya melepas “Miles” pada April 2025.
Karam menjadi langkah berbeda bagi The Basement Dry karena untuk pertama kalinya mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Sejak debut lewat mini album ‘Statement‘ pada 2023 hingga single “Miles”, band ini selalu memilih bahasa Inggris sebagai medium cerita.
Perubahan ini lahir dari proses yang sangat organik. Ken menjelaskan bahwa keputusan bahasa selalu dimulai dari sesi humming saat menyusun struktur lagu. “Gue nentuin bahasa dari feel humming-nya. Gue coba bayangkan nyanyi pakai bahasa Inggris atau Indonesia, dan kalau salah satu kerasa kurang pas, ya gue tinggalin. Yang cocok itu yang gue ambil.”
Daniel menambahkan bahwa bahasa Indonesia dipilih bukan karena tren. Menurutnya, arah kreatif mereka baru sekarang membawa lagu ke bahasa yang lebih dekat secara emosional. “Nggak ada strategi khusus. Memang arahnya lagi ke situ saja,” ujarnya sambil tertawa.

Eksplorasi baru tidak berhenti pada bahasa. “Karam” juga membuka ruang lebih luas untuk vokal. Untuk pertama kalinya, Ken tidak mengisi seluruh vokal utama dan latar sendirian. Andri turut menyumbang vokal di bagian reff, sebuah keputusan yang mereka ambil berkat masukan dari Ayu Muthia Zahra (Sousade & The Jansen) yang kembali bertugas sebagai vocal director.
“Gue ngikut aja. Ayu bantu banget selama rekaman, dan semua input dia kita pakai,” kata Andri. Ayu sendiri sudah terlibat sejak rilisan sebelumnya dan direncanakan akan tetap mendampingi proses vokal hingga album selesai.
Meski nuansa lagunya terdengar muram dan pekat, The Basement Dry menegaskan bahwa “Karam” lahir tanpa latar kisah personal. Jody menyebut liriknya sepenuhnya abstrak. Ken bahkan mengatakan struktur kalimatnya sengaja tidak disusun agar saling menyambung, terinspirasi dari gaya lirik Netral di Album ‘Minggu Ini’. “Mereka mungkin pakai substance. Kita substance-nya cuma stres karena dimarahin bos,” ujar Ken sambil bercanda.
Di balik produksi, The Basement Dry tetap bekerja dengan tim yang sama seperti rilisan terdahulu. Rekaman dilakukan di Bens Studio n’ Records, sementara proses rekam, mixing, dan mastering kembali ditangani oleh Deni Noviadi yang dikenal lewat kerja samanya bersama Swellow, Neal, dan Adopta.
Untuk artwork, mereka kembali menggandeng Moehammad “Wanto” Ridwan dari Bersoreria Bogor. Yang menarik, foto yang digunakan bukan karya pribadi Wanto, melainkan hasil dokumentasi tugas kuliah milik Hafizha Zahra Dewayani, dengan Naila Triandaya Putri sebagai model. Ini menjadi kolaborasi ketiga The Basement Dry bersama Wanto, dan memperlihatkan kepercayaan yang terus terjaga antara band dan sang fotografer.
Karam menjadi tonggak penting menuju album debut The Basement Dry, menghadirkan warna baru tanpa meninggalkan identitas yang selama ini mereka bangun.
