New Tracks
Barmy Blokes Angkat Realitas Kelas Pekerja Lewat “Mr. Edi”
Dari sudut Kota Bengawan yang jarang tersentuh sorotan arus utama, Barmy Blokes memperkenalkan single terbaru mereka, “Mr. Edi”. Lagu ini lahir dari lanskap yang akrab dengan asap knalpot, parkiran yang berubah fungsi menjadi ruang bertahan hidup, serta angkringan yang menyimpan percakapan paling jujur selepas matahari tenggelam.
“Mr. Edi” tidak dirancang untuk mengejar daftar putar populer, melainkan untuk merangkum cerita yang dekat dengan keseharian banyak orang.
Band asal Solo ini membungkus lagunya dengan gaya vokal bernuansa country yang dipelintir ke konteks jalanan. Hasilnya adalah potret tentang kehidupan kelas pekerja dan dinamika tongkrongan malam yang terasa apa adanya.
Sosok “Mr. Edi” dalam lagu ini bukan figur ideal. Ia digambarkan sebagai representasi orang-orang yang ditempa kerasnya hidup, dengan mimpi yang sederhana dan keinginan untuk keluar dari lingkaran kebiasaan buruk serta stigma lingkungan sekitar.
Narasi dalam lirik bergerak dari parkiran sebagai tempat mencari nafkah hingga sore hari di depan angkringan, ketika segelas teh hangat dan seporsi nasi sederhana cukup untuk meredam riuh dunia. Detail-detail kecil itu memperlihatkan bagaimana ruang-ruang pinggir kota menjadi saksi perjuangan sehari-hari. Tidak ada glorifikasi, hanya pengakuan atas realitas yang dijalani.
Bagian chorus yang berulang, “Mr. Edi, bawalah kami pergi”, terdengar seperti seruan lirih yang setengah sadar. Ada harapan untuk keluar dari keadaan, meski belum jelas ke mana arah yang dituju. Kalimat itu mengandung keinginan untuk perubahan, sekaligus keraguan yang menyertainya.
Barmy Blokes tidak menyajikan produksi yang mewah atau kemasan yang dibuat-buat. Karakter lagu ini justru tumbuh dari ruang-ruang kecil: speaker tongkrongan, panggung gigs bawah tanah, dan komunitas yang merasa lebih dekat dengan aspal ketimbang gedung-gedung tinggi.
“Mr. Edi” bukan kisah tentang pahlawan. Lagu ini berbicara tentang daya tahan, tentang kesederhanaan yang diperjuangkan, dan tentang upaya bertahan hidup dengan segala keterbatasan. Ia melanjutkan langkah Barmy Blokes setelah merilis maxi single “John Kalahan dan Dansa Terakhir” pada 2025.
Kedua rilisan tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju album penuh yang direncanakan meluncur pertengahan tahun ini. Saat ini, “Mr. Edi” sudah tersedia di berbagai platform digital serta beredar di ruang-ruang alternatif tempat musik independen bertumbuh.
Barmy Blokes bukanlah nama baru di skena Solo. Formasi yang diisi Wiki Setyawan pada vokal dan gitar, Chafidz Hidayat di gitar, Ilham Zaki pada bass, serta Rafi Herliyanto di drum ini dikenal dengan racikan rock and roll dan garage rock yang agresif. Ada semangat riang yang tidak berlebihan, disertai sentuhan post-punk yang memberi ruang bagi nada sinis dan reflektif dalam karya-karya mereka.

