International

Death Cab for Cutie Rilis Video Musik “Punching the Flowers” Jelang Album Baru

Profile photo ofArduino

Diterbitkan

pada

Death Cab for Cutie single Punching the Flowers
Death Cab for Cutie (credit: Shervin Lainez)

Band indie rock asal Amerika Serikat, Death Cab for Cutie, bersiap merilis album terbaru bertajuk ‘I Built a Tower‘ pada 5 Juni melalui label independen ANTI-. Ini menjadi rilisan pertama mereka bersama label tersebut setelah dua dekade bernaung di jalur label besar. Menjelang perilisan, band ini memperkenalkan single kedua berjudul “Punching the Flowers” yang hadir bersama video musik garapan Jason Lester.

Video tersebut menampilkan band tampil di dalam bangunan luas yang kosong, dikelilingi para penari kontemporer yang bergerak dinamis. Visual ini memperkuat nuansa lagu yang terinspirasi dari pengalaman personal vokalis Ben Gibbard.

Dalam keterangan resmi, Gibbard mengolah momen sederhana: eorang anak kecil yang mengamuk dan memukul bunga di depan toko, menjadi metafora tentang seseorang yang memiliki sesuatu yang indah, tapi justru merasa terjebak olehnya.

“‘Punching the Flowers’ mengangkat tema tentang stagnasi dan perasaan terperangkap dalam hal-hal yang sudah dikenal. Juga tentang kerusakan yang muncul saat seseorang melangkah lebih jauh ke wilayah yang tidak pasti,” jelas Gibbard. Tema tersebut terasa konsisten dengan arah emosional album yang banyak menggali kegelisahan, kehilangan, dan upaya memahami diri di tengah tekanan hidup.

Sebelumnya, band ini lebih dulu merilis single pembuka berjudul”Riptides” yang juga diperkenalkan melalui video musik. Album ini hadir sebagai kelanjutan dari ‘Asphalt Meadows’ (2022), yang saat itu dipandang sebagai salah satu karya yang mengembalikan karakter kuat mereka.

Death Cab for Cutie Band

Death Cab for Cutie (credit: Jimmy Fontaine)

Proses produksi album ditangani oleh John Congleton, dengan sesi rekaman berlangsung di Animal Rites, Los Angeles, serta beberapa lokasi lain seperti rumah para personel di Seattle, Bellingham, Los Angeles, dan Portland. Formasi terkini band terdiri dari Ben Gibbard, Nick Harmer, Dave Depper, Zac Rae, dan Jason McGerr.

Menariknya, pengerjaan album ini hanya memakan waktu tiga minggu dan menjadi proses rekaman tercepat mereka sejak ‘The Photo Album’ yang dirilis pada 2001. Gibbard menyebut mereka sengaja membiarkan karakter musik tetap terasa manusiawi, tanpa polesan berlebihan. “Kami tidak takut dengan suara yang terasa apa adanya, termasuk ketidaksempurnaan. Ini bukan foto yang dipoles, ini adalah diri kami,” ujarnya.

Latar emosional album ini juga tidak lepas dari pengalaman tur bersama proyek lain Gibbard, The Postal Service, dalam rangka perayaan 20 tahun album ‘Transatlanticism’ dan ‘Give Up’. Tur tersebut membawa tekanan tersendiri, terutama karena Gibbard harus tampil di panggung besar setiap malam sambil menghadapi persoalan pribadi, termasuk runtuhnya kehidupan rumah tangganya.

Pengalaman itu turut memengaruhi arah lirik di album ini. Gibbard menggambarkan kebutuhan manusia untuk menemukan ruang internal yang mampu menampung rasa kehilangan dan duka, meski pada akhirnya emosi tersebut tetap bisa muncul kembali tanpa diduga.

Gitaris Dave Depper melihat album ini sebagai langkah penting dalam perjalanan band. Ia menilai tur perayaan tersebut membantu mereka melepaskan beban nostalgia, sekaligus mendorong eksplorasi yang lebih jujur di studio. Sementara itu, bassis Nick Harmer menekankan bahwa proses kreatif kali ini membawa mereka kembali ke esensi awal band, di mana kepuasan musikal internal menjadi tolok ukur utama.

Dengan arah yang lebih reflektif dan produksi yang terasa lugas, “I Built a Tower” hadir sebagai potret perjalanan panjang Death Cab for Cutie yang terus bergerak, tanpa kehilangan identitas yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

YouTube Video
Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *