New Albums

EP “Nila” Tiba, Supersonic Bloom Melangkah Lebih Dewasa

Profile photo ofArduino

Diterbitkan

pada

Supersonic Bloom

Perkembangan musik di Pekanbaru dalam beberapa tahun terakhir bergerak pelan tapi pasti. Kota ini mungkin tidak sekeras gaung Jakarta, Bandung, atau Yogyakarta dalam peta industri nasional, tapi denyut skenanya terus hidup lewat band-band yang tumbuh dari ruang latihan, panggung kecil, dan pertemanan yang erat.

Dari sana lahir musisi yang tidak sibuk mengejar sorotan, melainkan fokus merawat identitas dan kejujuran karya. Supersonic Bloom adalah salah satu nama yang muncul dari proses itu.

Band asal Pekanbaru ini resmi merilis EP terbaru bertajuk ‘Nila’ ke seluruh platform streaming musik digital. Afif (vokal), Ferdy (gitar), Duta (gitar), Bobby (bass), dan Sulthan (drum) datang dari kota yang kerap terlewat dalam radar utama industri musik Indonesia, tetapi kondisi tersebut tidak pernah mereka jadikan alasan. Supersonic Bloom justru tumbuh dengan keyakinan membangun dunia musiknya sendiri, menggabungkan rock alternatif, shoegaze, punk, dan emo dengan pendekatan yang personal dan tidak terburu-buru.

Band Supersonic Bloom Pekanbaru single Nila

Sebelum ‘Nila’ hadir sebagai satu kesatuan, Supersonic Bloom lebih dulu memperkenalkan diri lewat dua single, “Tentang Lara” dan “Menantikan Suasana Tenang”. Kedua lagu itu menjadi pintu masuk untuk memahami arah emosi dan karakter mereka. Jika rilisan awal tersebut masih terasa sebagai fase pencarian dan eksperimen, ‘Nila’ datang sebagai kesimpulan dari proses itu sekaligus menjadi fase baru yang lebih matang dan serius.

Titik balik EP ini muncul ketika Supersonic Bloom memutuskan berhenti memaksakan referensi dan menurunkan ego masing-masing. Mereka menyadari bahwa terlalu banyak rujukan justru membuat arah musik kabur. Dari keputusan itu, blueprint ‘Nila’ mulai terbentuk dengan lebih jelas.

Atmosfer dan emosi diletakkan di depan, sementara teknis dan gaya bermain mengikuti kebutuhan cerita. Musik mereka terdengar lebih lapang, dan memberi ruang bagi pendengar untuk masuk.

Supersonic Bloom Band

Lirik-lirik di ‘Nila’ lahir dari lingkup yang dekat dengan kehidupan para personelnya. Pengaruh keluarga, pertemanan, dan pengalaman personal menjadi fondasi utama. Dalam proses kreatifnya, Afif menyiapkan lirik dan nada vokal secara utuh terlebih dahulu. Setelah itu, Ferdy bersama personel lain mengembangkan aransemen di setiap lagu, menyesuaikan dinamika dan warna yang dibutuhkan tanpa menghilangkan inti emosinya.

Secara garis besar, ‘Nila’ bercerita tentang kehilangan dalam berbagai bentuk. Tidak hanya kehilangan seseorang, tetapi juga perasaan, harapan, hingga versi diri sendiri yang perlahan berubah. EP ini menghadirkan rangkaian refleksi tentang penerimaan, tentang memahami bahwa tidak semua hal harus dimenangkan, dan bahwa berjalan pelan-pelan bukanlah kegagalan. Ada kesedihan yang terasa tenang, ada juga kelegaan yang datang setelahnya.

Melalui ‘Nila’, Supersonic Bloom berharap karyanya dapat bergerak melampaui batas kota asal mereka. EP ini dirancang untuk hidup di panggung yang lebih luas dan beresonansi dengan pendengar di berbagai kota.

Dari Pekanbaru, Supersonic Bloom mengirimkan cerita yang sederhana: tentang tumbuh, kehilangan, dan keberanian untuk tetap melangkah dengan ritme sendiri.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *