Music News

“Hijrah ke London” Jadi Nyata, The Changcuters Gelar Tur Inggris

Diterbitkan

pada

The Changcuters

Lirik “London, London ingin ku ke sana…” dari lagu “Hijrah ke London” oleh The Changcuters sudah terdengar selama hampir dua dekade. Lagu ini pertama kali muncul dalam album debut mereka, ‘Mencoba Sukses’, yang dirilis pada tahun 2006. Pada masa itu, ide tentang London lebih terasa seperti sebuah impian yang jauh, bukan rencana nyata yang akan dijalani.

Bagi The Changcuters, London selalu dianggap sebagai “kampung halaman idola”, tempat lahirnya banyak band Inggris yang secara diam-diam memengaruhi selera musik dan arah kreatif mereka. Referensi ini berkembang secara perlahan, dimulai dari ketertarikan sederhana hingga akhirnya menjadi bagian dari identitas musik mereka.

“Hijrah ke London” ditulis tanpa ambisi besar. Lagu ini muncul sebagai ungkapan keinginan yang ringan, dan terus dinyanyikan dari panggung ke panggung. Dalam setiap penampilan, bagian “Berangkaaattt…” sering kali menjadi momen yang menyatukan band dan penonton, mengubah lirik sederhana itu menjadi pengalaman kolektif yang terus diulang. Seiring berjalannya waktu, gagasan yang awalnya hanya ada dalam imajinasi mulai menemukan jalannya.

Dalam perjalanan kariernya, The Changcuters yang terdiri dari Dipa, Qibil, Tria, Alda, dan Erick sebenarnya sudah cukup akrab dengan panggung internasional. Mereka pernah tampil di berbagai kota di Asia seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong, hingga Jepang. Namun, Inggris memiliki makna yang berbeda dibandingkan dengan destinasi lainnya.

Bagi mereka, United Kingdom bukan hanya sekadar tempat wisata. Ini adalah ruang yang telah lama menjadi bagian dari referensi, gaya, dan semangat bermusik mereka. Ketertarikan ini bahkan berakar dari pengalaman pribadi masing-masing personel.

Band The Changcuters

Tria mengingat momen awal ketertarikannya pada UK yang justru datang dari budaya populer. “Gara-gara komik City Hunter. Jagoannya pakai Mini Morris. Dari situ mulai aware sama UK,” ujarnya. Dari sana, ketertarikan itu berkembang ke dunia musik, dengan band seperti The Rolling Stones yang secara perlahan membentuk selera dan pandangannya terhadap musik.

Sementara itu, Qibil merasakan kedekatan yang lebih langsung melalui musik itu sendiri. “Band pertama yang membuat saya merasa ‘ini saya banget’ berasal dari UK. Bukan hanya musiknya, tetapi juga gaya, gerakan, dan sikapnya,” katanya. Baginya, skena Inggris bukan hanya sumber inspirasi, tetapi juga acuan penting dalam membentuk identitasnya sebagai musisi.

Jejak pengaruh tersebut telah lama ada dalam perjalanan The Changcuters, baik dalam referensi maupun pendekatan mereka di atas panggung. Kini, apa yang dulunya hanya terdengar sebagai lirik mulai menemukan bentuk yang nyata.

Pada 12 hingga 23 April 2026, The Changcuters dijadwalkan menjalani tur di sejumlah kota di Inggris, yaitu Newcastle, Edinburgh, dan London. Rangkaian tur ini tidak semata soal tampil di luar negeri, tetapi lebih sebagai pertemuan dengan ruang yang selama ini membentuk imajinasi mereka.

Ini bukan soal main di luar negeri saja, tapi seperti pulang ke tempat yang selama ini kita dengar dan bayangkan,” ujar Tria. “Dari dulu cuma disebut di lagu, sekarang benar-benar didatangi.”

Perjalanan ini terasa seperti lingkaran yang akhirnya lengkap. Dari sebuah lirik yang dulu hanya diucapkan di atas panggung, kini mereka benar-benar berdiri di kota yang sama. Imajinasi yang sempat terdengar jauh perlahan berubah menjadi pengalaman nyata yang kini dijalani secara langsung.

The Changcuters Tur Inggris

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *