New Albums
PAMLAX Bawa Energi 90-an Ke EP Terbaru ‘Mood Swing’
Gelombang kebangkitan kembali estetika musik 90-an masih sangat terasa di berbagai sudut skena tahun ini. Dari Surabaya, duo kakak beradik PAMLAX muncul sebagai salah satu wajah baru yang membawa semangat tersebut dengan pendekatan yang segar.
Dibentuk pada tahun 2024 oleh Ellkalle, yang biasa dipanggil Ell, di gitar dan adiknya Millo, PAMLAX menjelajahi wilayah rock alternatif dengan akar grunge dan sentuhan hardcore khas 90-an.
Mereka menyebut arah musik mereka sebagai grungegaze atau nugaze, yang merupakan pertemuan antara karakter vintage dan produksi modern yang emosional. Lirik-lirik mereka cenderung bersifat personal, tapi sangat dekat dengan pengalaman banyak pendengar muda, menyoroti kegelisahan, kebingungan, dan dinamika emosi masa remaja. Bagi Ell dan Millo, istilah grungegaze merepresentasikan dua perspektif yang berbeda, yang terus mencari bentuk ideal dalam bermusik.
Sebelum rilisan terbaru, PAMLAX telah memperkenalkan diri lewat mini album debut ‘In No Cent’ yang berisi delapan lagu. Rilisan tersebut direkam secara mandiri di home studio RPG Music Labs Surabaya, diproduseri oleh ParaRebahRecords, dengan artwork yang dikerjakan oleh seniman visual Subsonic Hands. Fondasi DIY ini kini berlanjut dengan mini album kedua mereka, ‘Mood Swing’.
Lewat ‘Mood Swing’, PAMLAX mencoba meramu sensibilitas melodi dengan atmosfer yang gelap. Mini album ini terasa seperti perjalanan emosi yang naik turun dengan cepat, mencerminkan perubahan suasana hati remaja yang ekstrem.
EP berisi enam lagu ini, yaitu “Floating”, “Hungry Buzz”, “Deadlock”, “Sunwish”, “Clean O”, dan “Grey”, menangkap semangat 90-an dengan memadukan elemen alt-rock grungy, emo, shoegaze, serta indie dan power-pop dengan hook yang mudah diingat. Eksperimen disonansi untuk menonjolkan warna melodi menjadi salah satu fokus eksplorasi mereka di rilisan ini.
Secara tematik, PAMLAX tetap mengangkat isu-isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja, mulai dari fenomena alam hingga rutinitas perkotaan, dengan emosi yang terasa lebih mentah. Dua lagu, “Deadlock” dan “Hungry Buzz”, ditulis dalam bahasa Inggris sebagai bagian dari perluasan ruang ekspresi mereka.
‘Mood Swing’ dibuka dengan “Floating”, sebuah trek instrumental dengan distorsi tebal yang perlahan membangun ketegangan sebelum meledak di bagian puncak. “Hungry Buzz” menggambarkan situasi sederhana tentang rasa lapar dan kebingungan dalam memilih makanan, yang diterjemahkan menjadi energi gitar yang gelisah.
“Deadlock” menceritakan tentang terjebak dalam kemacetan saat perjalanan ke sekolah, menonjolkan karakter gitar fuzz Ell yang terinspirasi oleh kebisingan band-band seperti Failure, Sunny Day Real Estate, dan Hum, dengan sentuhan emosional ala Weezer dari era Pinkerton.
“Sunwish” terinspirasi oleh fenomena kulminasi matahari yang pernah terjadi di Surabaya, ketika bayangan hampir menghilang di tengah terik siang. Sementara “Clean O” merujuk pada konsep shinrin yoku dari Jepang, yang mengajak kita untuk kembali ke alam sebagai cara mencari ketenangan dari kesibukan kota. EP ini ditutup dengan “Grey”, yang menggambarkan keresahan remaja dalam pencarian jati diri yang penuh kontradiksi.
Seluruh proses rekaman ‘Mood Swing’ dikerjakan secara mandiri di home studio mereka sebagai komitmen DIY yang menjadi identitas PAMLAX. Hasil produksinya terdengar jelas dan intim, dengan pendekatan minimalis yang memberikan ruang bagi komposisi mereka untuk berkembang secara sinematik.
‘Mood Swing‘ resmi dirilis pada 10 Februari 2026 melalui Irama Records di berbagai platform digital, disertai dengan rilisan fisik CD yang didistribusikan secara independen oleh Pararebah Record.
Untuk mendukung peluncuran ini, PAMLAX telah menyiapkan tur lintas Jawa dan Bali pada bulan April mendatang dalam rangkaian Selat Bising Distorsi Jawa Bali Tour 2026 bersama band celtic punk asal Malaysia, End23.
Support Gigsplay Dengan Saweria
