New Albums
Talk Too Much When I’m Drunk Lepas Debut Album “I Love Too Much When I’m Drunk”
Sebuah Perjalanan Malam antara Keintiman, Topeng, dan Pencarian Makna
Di sebuah ruang tamu yang redup, ketika botol wine sudah tinggal separuh dan percakapan mulai berjalan tanpa arah, sering kali muncul pengakuan-pengakuan kecil yang tak terduga. Dari suasana seperti itulah lahir ‘I Love Too Much When I’m Drunk’, album debut dari kolektif elektronik I Talk Too Much When I’m Drunk yang resmi rilis pada 25 Agustus lewat label Laguland.
Album ini terasa seperti catatan malam panjang yang penuh paradoks: intim sekaligus asing, hangat namun dingin, jujur tapi tak jarang menipu.
“Be My Love”, nomor utama dalam album ini, menghadirkan nuansa R&B sensual yang diperindah dengan permainan saksofon yang mendesis. Liriknya berani merangkul ketidaksempurnaan: “If you are ugly that’s alright/If you are clumsy that’s alright.” Tan Sian Ling menjelaskan, “Lagu ini tentang menerima kekurangan, meski hanya untuk semalam.”
Miguel Sanchez menimpali, “Kami ingin menangkap momen ketika justru ketidaksempurnaan yang membuat seseorang terlihat memikat.” Di tangan mereka, kelemahan bukanlah sesuatu yang harus ditutup-tutupi, melainkan pemicu dari daya tarik itu sendiri.
Album ini bergerak dalam lanskap dunia malam, ruang liminal di mana batas-batas sosial mengendur dan identitas menjadi cair. Miguel menyebut klub, pesta, atau apartemen setelah pukul dua pagi sebagai tempat di mana manusia bisa menjadi versi paling jujur sekaligus paling palsu dari dirinya.
“Nongkrong dengan teman bisa jadi cara melarikan diri dari kecemasan eksistensial, sekaligus upaya mencari makna dalam kebersamaan,” katanya. Nada sinis dan jujur itu melekat erat dalam album. Adit Margonda bahkan menyebut, “Kita datang ke pesta untuk melepas topeng, tapi pulangnya justru membawa topeng baru. Itulah tragedi komedi dunia malam modern.”
Sebelum album penuh ini dirilis, publik lebih dulu diperkenalkan lewat dua single. “Front Door” adalah lagu yang menggarap segala yang tak terucap, sementara “Good Game” menyoroti praktik breadcrumbing, fenomena relasi yang menggantung tanpa kepastian, yang menjadi bagian dari era digital. Kedua single ini menjadi pondasi penting yang membuka jalan bagi album debut mereka.
Lagu-lagu lain memperlihatkan keragaman warna. Ada “69” dengan tempo erotis yang mengemas kisah gejolak jiwa, lalu “Amame Como Si Fuera Espanol” yang memuja seseorang dengan romantika penuh kerinduan. Judul album diambil dari lagu “I Love Too Much When I’m Drunk”, sebuah balada elektronik yang memotret saat mabuk menjadi momen paling rawan mengumbar kata cinta, sebuah kebenaran sesaat yang mungkin akan ditolak keesokan harinya.
Tan Sian Ling menyelipkan sisi personal dalam “Red Dress, Don’t Get Lost”, lagu tentang keberanian tampil total dengan gaun merah di sebuah malam penting. Sementara itu, kejutan terbesar hadir pada “Mineral Water”, yang menampilkan almarhum Gusti Irwan Wibowo. Kolaborasi tak terduga ini justru menjelma penutup ideal, serupa segelas air mineral yang menutup pesta panjang dengan kesegaran yang sederhana namun penting.
“Album ini pada dasarnya merangkum semua paradoks kehidupan malam,” ujar Tan. “Tentang mencari kebenaran di balik kebohongan kecil, tentang ingin ditemukan tapi juga takut benar-benar dikenali.”
Dengan produksi yang meramu elemen elektronik, jazz, dan R&B, ‘I Love Too Much When I’m Drunk’ terasa seperti malam Jakarta yang penuh warna, tidak pernah benar-benar hitam atau putih.
Album ini hadir sebagai cerminan generasi yang terjebak antara hasrat akan keaslian dan tekanan untuk tampil sesuai peran. Dentuman elektroniknya menari bersama lapisan lirik yang menyimpan humor sekaligus kepedihan. Ada rasa melankoli yang berkelindan dengan energi pesta, menciptakan pengalaman mendengarkan yang mengalir seperti obrolan larut malam: tak selalu jelas arahnya, tapi sering kali justru di situlah letak keindahannya.
I Talk Too Much When I’m Drunk lahir dari keresahan selama pandemi, terbentuk di studio Ruang Waktu Music, Jakarta. Kolektif ini dihuni lima orang: Miguel Sanchez, Samji Rende, Piyush Vishwajeet, Tan Sian Ling, dan Adit Margonda.
Dari awal, mereka memang gemar mengubah suasana larut malam menjadi lanskap suara berkilau. Musik mereka seperti cahaya redup di sisa gelas yang belum habis, menghidupkan percakapan yang muncul setelah pesta usai. Tak heran jika album ini menyimpan perpaduan katarsis antara humor dan luka, dengan ironi yang terasa akrab bagi siapa pun yang pernah mencari penghiburan di keramaian.
Dalam pernyataan mereka, band ini menyebut, “Kami di sini untuk mengubah momen jadi keajaiban. Bahkan momen sunyi sekalipun”. Pernyataan itu terdengar sederhana, tapi juga menjelaskan inti album ini. ‘I Love Too Much When I’m Drunk’ adalah tentang menyulap kebingungan menjadi keindahan, tentang menerima paradoks sebagai bagian dari kehidupan malam, dan tentang bagaimana manusia, dalam keadaan paling rapuh sekalipun, selalu berusaha mencari arti dari keterhubungan.
Mulai 25 Agustus 2025, album ini bisa diakses di berbagai layanan musik digital. “I Love Too Much When I’m Drunk” mengundang pendengar untuk menari di antara keintiman dan keterasingan, untuk menertawakan topeng-topeng sosial sekaligus menyadari betapa mudahnya kita menggunakannya. Seperti sebuah pesta panjang yang tak berujung, album ini meninggalkan jejak rasa hangat sekaligus hampa, dan mungkin itulah yang membuatnya begitu jujur.
Support Gigsplay Dengan Saweria
