International
“Tamoo Trance” Dan Keresahan Digital Dari The Baby Seals
Trio Cambridge, The Baby Seals, kembali mengisi radar musik alternatif dengan single baru berjudul “Tamoo Trance”, yang dirilis 18 November melalui Green Island Music. Lagu ini memotret keresahan yang sangat dekat dengan kehidupan hari ini: batas antara dunia digital dan dunia nyata semakin kabur, sehingga sulit untuk membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya dorongan impulsif dari layar.
Dalam “Tamoo Trance”, The Baby Seals mengajak pendengar untuk memasuki “Toko Tamoo”, sebuah gambaran satir tentang platform belanja digital yang terus-menerus menguras perhatian, waktu, dan tentu saja uang.
Riff gitar yang kuat membawa kita ke dalam ruang imajinatif tersebut, di mana barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan disajikan seolah-olah wajib dimiliki. Lagu ini mengajak pendengar untuk menertawakan sekaligus mengkritisi bagaimana dunia online dapat secara perlahan mengalihkan fokus kita, tanpa kita sadari.
Vokal utama menyampaikan peringatan yang terasa menohok: “It’s not just your money it’ll cost you being there”. Kalimat ini membuka perspektif bahwa biaya terbesar dari hidup di ruang digital bukan hanya transaksi yang kita lakukan, tetapi juga perhatian dan kesadaran kita yang terus tergerus oleh aliran informasi, iklan, dan notifikasi yang tiada henti.
“Tamoo Trance” menangkap sensasi terjebak dalam arus tersebut, terperangkap dalam rutinitas yang tidak berarti yang menghabiskan waktu berharga dan menimbulkan rasa sesak karena terlalu banyak informasi yang masuk sekaligus.
Kerry Devine, vokalis sekaligus penulis lirik, menggambarkan inspirasi di balik lagu tersebut sebagai cerminan pribadi. “Kami sering merasakannya sendiri. Sangat mudah untuk terjebak dalam scrolling dan tiba-tiba lupa waktu. Kami menyebut perhatian dan kesadaran sebagai ‘mata uang baru’,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa lagu ini berfungsi sebagai pengingat untuk mengambil jeda sejenak sebelum terlarut lebih dalam. “‘Tamoo Trance’ itu seperti alarm. Kita sedang terjebak dan harus ingat bahwa kendalinya ada di tangan kita.”
Jika dulu para pemikir sosial mengulas soal masyarakat yang terobsesi membeli barang, The Baby Seals menghadirkan pembaruan konsep itu ke era digital.
Kini yang dikonsumsi bukan hanya produk fisik, melainkan konten cepat lewat algoritma, interaksi singkat yang terasa intim dan semu, serta arus hiburan yang bergerak tanpa henti. Melalui single ini, mereka melontarkan seruan halus untuk kembali mengatur ritme hidup dan tidak menyerahkan kendali kepada layar.
Rilisan ini juga memperkuat perjalanan panjang The Baby Seals. Mereka terbentuk pada 2014 lewat pertemuan santai di sebuah pub di Cambridge, dipimpin Amos, Kerry, dan Jaz. Nama unik band ini terinspirasi dari obrolan lucu tentang “baby seals”.
Sejak awal, lagu-lagu mereka kerap menyoroti pengalaman perempuan dengan gaya yang jenaka dan lugas. Popularitas mereka mulai menguat sejak 2015 lewat “Period Drama” dan “Guuurl”, yang membawa mereka tur ke Jerman dan Italia hingga mencapai panggung utama Rebellion Festival.
Setelah jeda akibat pandemi, Kate bergabung pada tahun 2022 sebagai bassis yang memberikan energi baru bagi grup ini. Di tahun 2023, Kerry mengajak band untuk kembali ke studio dan mengerjakan album debut berjudul “Chaos”, yang terinspirasi dari pengalaman pribadinya sebagai ibu baru.
“Tamoo Trance” menjadi langkah terbaru dalam evolusi mereka, sebuah karya yang menggabungkan kritik sosial dengan sentuhan rock yang tajam. Ini adalah ajakan halus untuk berhenti sejenak sebelum membuka aplikasi berikutnya.

