New Tracks

The Raws Angkat Bendera Perlawanan Lewat “M.P.F.A”

Profile photo ofrafasya

Diterbitkan

pada

The Raws

The Raws kembali hadir dengan semangat perlawanan yang tak pernah padam. Setelah merilis “Dansa Porak Poranda” di awal 2025 sebagai tanda perubahan formasi dan arah baru, unit punk asal Jakarta Timur ini kembali menggaungkan suara mereka lewat single terbaru berjudul “M.P.F.A (Make Palestine Free Again)”.

Dirilis secara digital melalui Bandcamp, lagu ini merupakan sebuah manifesto, sebuah sikap yang menolak untuk diam terhadap ketidakadilan yang telah berlangsung terlalu lama di Palestina.

Dengan “M.P.F.A”, The Raws menyulut api kemarahan kolektif terhadap tragedi kemanusiaan yang terus terjadi di Gaza. Mereka tidak menyembunyikan maksud pesannya dengan metafora atau alegori. Ini adalah lagu dengan tujuan yang jelas.

Berdasarkan data yang dirilis oleh explorehumanity.id pada 15 Juli 2025, mereka mengingatkan bahwa lebih dari 58 ribu jiwa telah tewas dan 139 ribu lainnya terluka akibat serangan brutal yang dimulai pada 7 Oktober 2023. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Banyak dari mereka bahkan belum ditemukan karena masih tertimbun di bawah reruntuhan. Di tengah kebisuan dunia, The Raws memilih untuk bersuara.

Melalui lirik seperti “Sementara mereka jatuh ke tanah / Mati tanpa dosa / Mesiu tentara membabi buta / Hitam hati juga gelap mata / Dan kita adalah saksi mata / Hangusnya bumi tanah Palestina”, The Raws mencatat sejarah yang sering dikaburkan media arus utama.

Mereka menolak untuk duduk diam, menolak netralitas, dan memilih untuk berdiri di barisan yang menyuarakan perlawanan. Di tengah lanskap musik yang kerap bermain aman, langkah ini terbilang berani.

Band Punk The Raws M.P.F.A

Nuansa punk dalam “M.P.F.A” hadir tanpa kompromi. Energinya mentah, liriknya tajam, dan kemarahannya terasa nyata. Mereka menempatkan musik sebagai senjata politik, bukan sekadar ekspresi artistik. Di saat banyak musisi memilih untuk tidak bersuara atas nama “tidak ingin mencampur seni dan politik”, The Raws menegaskan bahwa punk adalah suara untuk yang tertindas, dan mereka tidak akan berpaling dari prinsip itu.

M.P.F.A adalah amarah kami, duka kami, dan harapan yang kami teriakkan sekeras mungkin. Ini bukan hanya untuk Palestina, tetapi untuk siapa pun yang menolak penjajahan,” ujar The Raws. Rilisan ini juga menjadi pengingat bagi skena punk, bahwa diam bukanlah pilihan.

Salah satu bait yang paling menghantam dalam lagu ini adalah pengulangan “All Eyes on Rafah”, yang merujuk pada kota yang menjadi tempat perlindungan terakhir bagi warga Gaza, sebelum dibombardir hingga hancur. Melalui repetisi ini, The Raws membangun atmosfer seruan, semacam doa punk yang dipelintir dengan noise dan distorsi.

Dan tentu saja, frasa ikonik “From the river to the sea, Palestine will be free” menjadi penutup yang membakar semangat. Bagi The Raws, ini bukan slogan kosong, melainkan tuntutan atas hak hidup dan martabat. Lagu ini tidak didesain untuk menyenangkan siapa pun, tidak juga untuk menyesuaikan algoritma digital. Ini adalah panggilan moral, sebuah pengingat bahwa punk seharusnya tidak kehilangan taringnya.

Dalam konteks band, “M.P.F.A” adalah lanjutan dari konsistensi The Raws sebagai kelompok musik yang terus bergerak melawan arus. Dibentuk pada 1998 dengan nama awal Contradict, lalu berganti menjadi The Raws setahun kemudian, band ini telah menempuh perjalanan panjang dalam skena underground Jakarta.

The Raws Punk Jakarta

Dengan latar belakang sebagai “Megapollutant Jakarta Pogo Punk Squadron”, mereka aktif merilis berbagai rilisan fisik di awal 2000-an hingga 2006. Mulai dari album penuh, kompilasi, split album, hingga EP. Rilisan seperti “Here Come The Suburban Rockers” dan “The Spirit Is Far From Over” menjadi bagian penting dari peta punk lokal di era tersebut.

Setelah nyaris vakum dari rilisan album penuh selama 15 tahun, The Raws akhirnya kembali lewat “Transisi” yang dirilis dalam format kaset oleh Toxic Noise Records pada 2021. Kini, “M.P.F.A” menjadi kelanjutan dari semangat itu, semangat untuk bersuara, untuk berteriak, dan untuk tidak tunduk pada kenyamanan.

Di tengah dunia yang semakin sunyi terhadap penderitaan, The Raws menolak jadi penonton. Mereka mengambil posisi, memegang teguh nilai-nilai punk, dan menjadikannya lebih dari sekadar estetika.

“M.P.F.A” adalah suara yang tidak akan ditemukan di radio, tapi akan hidup di ruang-ruang bawah tanah, diteriakkan di gigs kecil, dan disebarkan dari satu telinga ke telinga lainnya, karena solidaritas tidak butuh panggung megah.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *