International
The Sonder Bombs Rilis EP ‘Quick and Painless’
The Sonder Bombs kembali bergerak setelah lebih dari lima tahun berlalu sejak perilisan album kedua mereka, “Clothbound”, pada 2021. Trio indie punk asal Cleveland ini memang tidak benar-benar menghilang. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah merilis beberapa single seperti “The Star” dan “waste”, yang menunjukkan perubahan arah musikal dari akar indie punk mereka menuju wilayah dream pop, synth yang samar, hingga nuansa bedroom pop yang lebih melankolis.
Kini lewat EP terbaru bertajuk “Quick and Painless”, The Sonder Bombs kembali memompa energi yang selama ini telah menjadi ciri khas mereka. Dua lagu pembuka, “Everything” dan “Joke”, sudah lebih dulu memberi gambaran bagaimana band ini menggabungkan riff gitar yang kasar, chant ala riot grrrl, harmoni vokal terang, dan lapisan synth yang melayang di belakang aransemen.
Tapi titik emosional paling kuat di EP ini justru muncul melalui “Melting”, lagu terakhir yang dirilis menjelang peluncuran penuh “Quick and Painless”. Berbeda dengan dua trek sebelumnya yang lebih eksplosif, “Melting” bergerak pelan dan hangat.
Gitar akustik menjadi fondasi utama lagu ini, sementara lapisan string dramatis dan synth bernuansa chiptune muncul samar di sela aransemen. Di tengah semua itu, vokal Willow Hawk menjadi pusat perhatian. Kadang terdengar rapuh dan intim, lalu perlahan berkembang menjadi luapan emosi yang menghantam tanpa banyak peringatan.

The Sonder Bombs memang sudah lama dikenal mampu mengubah kegelisahan menjadi ledakan punk yang penuh katarsis. Tapi di “Melting”, mereka menunjukkan sisi lain yang lebih lembut tanpa kehilangan intensitas emosional. Lagu ini terasa seperti ruang sunyi setelah kekacauan, ketika seseorang masih terjebak dalam sisa-sisa kenangan yang sulit dilepaskan
Willow Hawk menjelaskan bahwa “Melting” menggambarkan nostalgia terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar baik untuk dipertahankan.
“Kadang move on dari patah hati, baik dengan pasangan ataupun teman, terasa sangat membingungkan. Pikiran bisa terus berputar antara merindukan momen-momen indah dan menyiksa diri sendiri dengan memikirkan semua detail, semua kata, mencoba memahami apa yang salah,” ujarnya.
“Naturally, setelah waktu berlalu kita akhirnya sadar kalau melepaskan itu bukan cuma perlu, tapi juga bisa terasa indah. Tapi ‘Melting’ lebih menangkap titik ketika semuanya masih campur aduk. Saat kita bolak-balik antara kelembutan dan rasa sakit yang menghantam,” lanjutnya.
Secara sonik, Hawk ingin chorus lagu ini terasa seperti kenangan musim panas yang samar. Ia menggambarkannya sebagai momen berbaring di atas selimut bersama orang tercinta di tengah lapangan terbuka, diterpa sinar matahari sore dan bayangan daun yang bergerak lembut tertiup angin.
Hawk menggambarkan EP “Quick and Painless” sebagai kumpulan film pendek yang merekam potongan hidupnya dalam beberapa tahun terakhir. “Everything” lahir dari pergulatan antara kebutuhan untuk dianggap serius sebagai musisi dan dorongan untuk tetap absurd, lucu, bahkan memalukan di depan publik.
Sebaliknya, “Joke” justru punya cerita berbeda. Lagu itu pertama kali muncul saat sesi jamming pertama mereka setelah “Clothbound” pada 2021 dan hampir tidak berubah sejak versi awalnya.
“Rasanya lagu itu sudah tahu mau jadi apa sejak awal, dan kami cuma jadi medianya,” kata Hawk.
Support Gigsplay Dengan Saweria
