International
Wealthy Women Bawa Kisah Nyata Gaza Ke Dalam Single “37 Days
Wealthy Women resmi mengumumkan album debut mereka bertajuk “Children” yang dijadwalkan rilis pada 7 Agustus 2026. Trio asal San Francisco tersebut juga memperkenalkan single utama “37 Days”, sebuah lagu yang mengangkat kisah nyata paramedis Palestina bernama Asaad al-Nasasra yang sempat ditahan selama lebih dari sebulan setelah konvoi medis tempatnya bekerja diserang pada 2025 lalu.
Album “Children” diproduseri oleh Scott Evans, sosok yang dikenal dengan suara keras dan padat dari band-band seperti Neurosis dan SUMAC. Sentuhan Evans terasa kuat dalam “37 Days”, dengan hasil produksi yang berat, menekan, dan nyaris terasa seperti ruang sempit yang perlahan menghimpit pendengarnya.
Secara musikal, Wealthy Women menjelajahi genre noise rock, sludge, post-hardcore, dan atmosfer industrial yang kelam. Kekuatan “37 Days” tidak hanya muncul dari dentuman gitar atau ritme lambat yang terasa menyesakkan, tapi bagaimana lagu ini menyusun sudut pandangnya secara emosional. Alih-alih melihat dari sudut pandang pengamat luar, lagu ini membawa pendengar langsung ke dalam pikiran seorang paramedis yang terjebak di tengah perang, merasakan ketakutan dan ketidakpastian.
Band ini menjelaskan bahwa mereka kesulitan memahami besarnya penderitaan akibat perang di Gaza hanya melalui angka dan statistik yang terus muncul di media. Oleh karena itu, mereka memilih untuk fokus pada kisah manusia yang lebih personal.
“Sulit memahami penderitaan akibat perang di Gaza secara personal,” ujar mereka dalam pernyataan resmi. “Ada beberapa cerita dari konflik itu yang benar-benar memotong kebisingan informasi dan memaksa orang untuk membayangkan diri mereka berada di posisi orang lain, bukan hanya melihat angka.”
Dalam lagu “37 Days”, suasana mencekam terasa konsisten sejak awal. Riff berat yang berulang terdengar seperti mesin yang tak pernah berhenti, sementara vokal dipenuhi dengan tekanan emosional yang hampir putus asa. Lagu ini perlahan-lahan berkembang dari rasa takut menjadi amarah dan perlawanan, seolah menggambarkan bagaimana seseorang berusaha menemukan sisa keberanian di tengah situasi yang tidak manusiawi.
Mereka juga menyebut kisah Hind Rajab sebagai salah satu inspirasi emosional terbesar di balik materi album ini. Nama Hind Rajab sempat menjadi sorotan internasional setelah tragedi yang menimpa bocah Palestina tersebut mengguncang banyak orang.
“Kisah Hind Rajab adalah mimpi buruk bagi orang tua mana pun,” lanjut mereka. “Asaad al-Nasasra masih hidup, tetapi penahanannya selama 37 hari setelah serangan yang menewaskan delapan rekan kerjanya menjadi dasar utama lagu ini.”
Setelah sebelumnya memperkenalkan single “Take It Back” pada April lalu, Wealthy Women tampaknya mulai memperlihatkan arah penuh album “Children”. Musik mereka dipenuhi kegelisahan, kemarahan, dan tekanan emosional yang sengaja dibiarkan bergerak dengan bebas. Di tangan Scott Evans, semua elemen itu terdengar semakin brutal.


