International

Suede Lepas Album Kesepuluh ‘Antidepressants’, Post-Punk Di Era Modern

Profile photo ofrafasya

Diterbitkan

pada

Suede

Suede resmi merilis album terbaru mereka yang diberi judul ‘Antidepressants’ pada 5 September melalui label BMG. Album ini menandai kembalinya salah satu band Britpop paling berpengaruh dengan materi baru yang dapat langsung didengarkan di berbagai layanan streaming.

Bersamaan dengan perilisannya, publik juga bisa menikmati ulasan yang sangat positif dari berbagai media musik. Salah satu catatan menyebutkan bahwa album ini adalah karya yang sudah lama ingin diwujudkan oleh Suede, bahkan mungkin sejak beberapa dekade lalu.

Album ‘Antidepressants’ menyajikan sejumlah trek baru, termasuk “Broken Music for Broken People”, yang dianggap sebagai salah satu lagu terkuat meskipun tidak dirilis sebagai single sebelumnya. Sebelum album penuh ini dirilis, Suede telah memperkenalkan beberapa lagu seperti “Disintegrate”, yang diluncurkan bersamaan dengan video musiknya.

Mereka juga merilis versi live dari lagu berjudul “Antidepressants” yang direkam di Alexandra Palace, London. Selain itu, “Trance State” dan “Dancing With the Europeans” juga dipilih sebagai single berikutnya dan kembali mendapatkan perhatian sebagai lagu mingguan terbaik di berbagai media musik terkemuka.

Suede album Antidepressants

Suede (credit: Dean Chekley)

Album ini menjadi catatan ke-10 dalam diskografi Suede, menyusul ‘Autofiction‘ yang dirilis pada 2022. Formasi band tetap diperkuat oleh Brett Anderson (vokal), Mat Osman (bass), Simon Gilbert (drum), Richard Oakes (gitar), dan Neil Codling (keyboard). Dalam sebuah pernyataan, Anderson menggambarkan karya terbaru ini sebagai kelanjutan dari eksperimen sebelumnya.

Jika ‘Autofiction’ adalah rekaman punk kami, maka ‘Antidepressants’ adalah rekaman post-punk kami. Album ini berbicara tentang ketegangan hidup modern, paranoia, kecemasan, neurosis. Kita semua berusaha mencari koneksi di dunia yang semakin terputus. Inilah musik yang ingin saya hadirkan, musik yang rusak untuk orang-orang yang rusak,” ujar Anderson.

Proses rekaman dilakukan secara live di studio, bekerja sama dengan produser lama mereka, Ed Buller, yang pertama kali bermitra dengan Suede sejak single debut “The Drowners” pada 1992. Pengerjaan album berlangsung di ICP Studios, Belgia, serta di RAK dan Sleeper Sounds, London, hingga RMV di Swedia.

Rasanya sangat menggembirakan berada di band ini. Kami merasa masih mendorong batas kreativitas,” tambah Anderson. Osman pun menyebut album ini sebagai karya yang luas, ambisius, dan dirancang untuk panggung besar.

Selain album baru, Suede juga mengumumkan serangkaian konser khusus bertajuk “Suede Takeover” di Southbank Centre, London, pada September mendatang. Pada 13 dan 14 September mereka akan menampilkan lagu-lagu hits dan materi terbaru di Royal Festival Hall.

Suede Band

Dilanjutkan dengan pertunjukan intim tanpa mikrofon di Purcell Room pada 17 September, dan ditutup pada 19 September dengan penampilan spesial bersama Paraorchestra di Queen Elizabeth Hall, sebuah konser orkestra penuh pertama dalam sejarah Suede. Anderson menjanjikan penonton akan disuguhi “lagu lama, lagu baru, lagu pinjaman, lagu muram, drama, melodi, kebisingan, keringat, dan beberapa kejutan.”

Suede dikenal sebagai salah satu pionir Britpop era pertengahan 1990-an dengan sederet album ikonik seperti ‘Suede’ (1993), ‘Dog Man Star’ (1994), ‘Coming Up’ (1996), dan ‘Head Music’ (1999). Mereka sempat merilis kompilasi ‘B-sides’ legendaris ‘Sci-Fi Lullabies’ pada 1997.

Namun perjalanan band tidak selalu mulus. Setelah album ‘A New Morning’ (2002) mendapat sambutan dingin, Suede memutuskan bubar pada 2003. Baru pada 2010 mereka bangkit kembali, yang kemudian menghasilkan ‘Bloodsports’ (2013), ‘Night Thoughts’ (2016), ‘The Blue Hour’ (2018), hingga ‘Autofiction’ (2022).

Kini dengan ‘Antidepressants’, Suede kembali mempertegas posisinya sebagai band yang tak berhenti bereksperimen. Dari energi live dalam rekamannya, hingga eksplorasi tema yang relevan dengan keresahan masa kini, album ini memperlihatkan bahwa meski telah puluhan tahun berkarier, mereka masih punya ruang untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Seperti yang diakui banyak kritikus, Suede tampak masih haus untuk menantang diri mereka sendiri dan memberi warna baru bagi para pendengar lama maupun generasi baru yang ingin mengenal Britpop dari sumber aslinya.

Support Gigsplay Dengan Saweria

🙏 Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Dukungan Anda sangat penting dan membantu Gigsplay untuk mendukung musisi independen Indonesia.

✅ KLIK UNTUK DONASI
Pilihan mode pembayaran
Pilihan metode pembayaran
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *